Sabtu, 23 Januari 2021

0
132 views
Ilustrasi: Kerkop Girisonta. (Mathias Hariyadi)

Bacaan I: Ibr 9:2-3.11-14
Injil: Mrk 3:20-21

“DULU saya dianggap gila karena tiap hari ke makam, membersihkan makam yang bukan milik sanak keluarga saya,” kata seorang bapak

“Awal saya mengurus pemakaman umum ini, setelah saya gagal total bercocok tanam karena terserang hama wereng,” katanya mengenang peristiwa yang mengubah hidupnya.

“Saat itu memang pikiran saya sangat kacau, dan bingung. Waktu saya ziarah ke makam orangtua, saya merasa prihatin karena banyak kubur yang tidak terawat dan pemakaman secara umum penuh semak belukar. Kondisi itulah yang mendorong saya untuk berbuat sesuatu bagi pemakaman ini. Saya berniat di sela-sela waktu untuk mengurus tanaman di sawah, saya ingin membersihkan dan merawat pemakaman ini,” katanya.

“Pada awalnya orang-orang heran bahkan menduga saya stres, bahkan gila karena tiap hari ke pemakaman ini,” katanya sambil tersenyum.

“Setelah tujuh tahun saya lakukan ini, puji Tuhan hidup saya sekarang jauh lebih tenang, dan rezeki juga cukup untuk hidup kami,” katanya penuh syukur.

“Berbuat baik bagi orang hidup dan yang mati, melampaui pemikiran banyak orang, itulah yang membuat bapak itu hidupnya sangat berbeda dengan orang lain,” pikirku.

Hari ini, Yesus dianggap tidak waras. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka, “Ia tidak waras lagi.”

Ketika Yesus dengan total memberikan diri untuk pelayanan, mengajar, serta memberitakan Kerajaan Allah, orang-orang yang tidak suka menuduh Dia tidak waras, bahkan orang terdekat pun yakni keluarga juga terpengaruh tentang itu.

Apakah kita sudah melakukan pekerjaan bagi orang lain dengan sepenuh hati tanpa memikirkan keuntungan diri sendiri?

Beranikah kita dianggap tidak waras?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here