Sandal

0
78 views
Ilustrasi

“DI MANA Tuhan? Kau melihat-Nya?,” tanya malaikat Lucian. “Aku mencari Beliau sepanjang waktu.”

“Aku juga mencari Beliau, sama sepertimu. Di mana, ya?” Malaikat Humilis balik bertanya.

Surga heboh. Ribut. Tuhan tidak ditemui di singhasana-Nya. Ia lenyap, entah ke mana. Tiada satu pun penghuni surga tahu.

Di lereng gunung dengan pemandangan hijau daun tembakau, Jelita berjalan gotai. Langkahnya satu-satu. Berat. “Memang, capai. Ah, ambil nafas sejenak,” katanya sambil bersandar di batang pohon suren. “Segar di sini.”

“Sedang apa, Jelita?” tanyan Mire, sahabat karibnya.

“Aku mau ke rumah Ibu Herni. Agak capai. Mau mengantar sandal. Kakinya sudah tak kuat lagi untuk berjalan di atas tanah yang dingin,” jawabnya. “Ayo, antar. Daripada kau bengong saja.”

“Nak, terima kasih. Sandal darimu sangat beguna saat saya harus melewati jalan ke tempat pembuangan sampah. Kakiku terlindungi dari benda tajam yang siap mengoyak kulit. Sekali lagi terima kasih atas pemberianmu,” kata Pak Gembong, si pemulung, pada Jelita saat langit senja merona merah.

“Ibu, sedang apa?” tanya Jelita saat berjalan keliling desa yang hijau dengan pemandangan gunung menjulang dan tersaput awan putih.

“Ini, sedang membersihkan sandal. Sandal darimu kotor sekali. Biasa, tadi kena kotoran ayam. Harus dicuci supaya tak bau. Kalau bersih, pasti, kinclong. Cocok buat dipakai kondangan,” kata Bu Inold.

Heran, semua sandal sama. Berurusan dengan kaki.

“Lho, Tuhan, dari mana saja? Kok baru muncul? Kami mencari ke mana pun, tetapi tak menemukan Engkau,” kata Malaikat Humilis.

“Aku ketemu Jelita. Dan dia bercerita tentang Bu Herni, Pak Gembong dan Bu Inold,” jawab Tuhan.

Jadi.. .

13.08.2020. bm-1982. ac eko wahyono.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here