Selamat Datang Tahun Iman, Selamat Pesta Emas Konsili Vatikan II

0
2,159 views

TEMAN-teman terkasih, hari ini 11 Oktober 2012, adalah hari yang pantas dicatat dalam perjalanan hidup dan iman kita. Paus Benedictus XVI, hari ini akan mempersembahkan Misa Agung di Lapangan Santo Petrus di Vatikan – Roma, menandai dibukanya “Tahun Iman” sekaligus mengucap syukur untuk anugerah 50 tahun Konsili Vatikan II. Selain dihadiri oleh para Kardinal, para Uskup, Kuria Roma, undangan khusus dan umat. Misa Agung ini akan dihadiri oleh para Uskup, dan para imam yang 50 tahun yang silam, menghadiri Konsili Vatikan II. Paus Benedictus XVI sendiri, waktu itu ikut menjadi salah satu anggota team ahli Konsili Vatikan II. Tentu saja ketika itu masih menyandang nama Ratzinger saja.

Pada surat apostolik “Porta Fidei” yang dipromulgasikan Paus Benedictus XVI pada 11 Oktober 2011 – tepat setahun yang lalu – dinyatakan bahwa “Tahun Suci” resmi dibuka hari ini 11 Oktober 2012 dan akan berakhir pada Hari Raya Kristus Raja 24 November 2013. Hari ini juga adalah ulang tahun “Katekismus Gereja Katolik” yang ke-20.

50 Tahun Konsili Vatikan II, 20 Tahun Katekismus

11 Oktober 2012 dipilih karena hari ini adalah Pesta Emas Konsili Vatikan II. Tepat  50 tahun yang lalu, Konsili Vatikan II dibuka oleh Paus Yohanes XXIII (Paus Roncalli). Sayang, Paus Yohanes XXIII, yang dikenal sebagai “Papa Buono” (Bapak/Paus yang baik hati) ini wafat pada 4 Desember 1963, ketika Konsili Vatican II masih berlangsung. Paus Paulus VI (Paus Montini) menutup Konsili Vatikan II pada 8 Desember 1965, dalam Misa Agung meriah di Basilika Santo Paulus yang berada di luar tembok kota Roma itu.

Dalam semangat pembaharuan Konsili Vatican II dan pewartaan Katekismus Gereja Katolik, menurut Surat Apostolik “Porta Fidei”, pada “Tahun Iman ini, kita diajak untuk:

  • bertobat dengan sungguh;
  • kembali kepada Yesus;
  • memperat hubungan kita dengan Tuhan dan SabdaNya;
  • memperdalam iman kepercayaan kita;
  • memperbaharui komitmen kita sebagai orang yang sudah dibaptis;
  • agar kesaksian iman kita kepada dunia didengarkan.

Teman-teman, saya tidak tahu, 50 tahun yang lalu, ketika Konsili Vatikan II yang sangat bersejarah itu dibuka, kita dulu seperti apa. Banyak mungkin di antara anggota milis ini yang belum lahir. Banyak ahli mengatakan, Konsili Vatikan II adalah momen paling besar dan paling hebat dalam sejarah Gereja Katolik abad XX.

Efek domino Konsili Vatikan II

Pengaruhnya luar biasa. Dampak (teologis, sosiologis, psikologis, biblis, bahkan demografis) sangat dahsyat, terutama di kalangan Gereja kita. Gereja hirarkis yang pusat dan para tokohnya adalah kaum berjubah, berganti wajah menjadi gereja umat Allah, yang tokohnya adalah awam. Dunia yang dulu dijadikan “musuh” dan “setan”, oleh Konsili Vatican II diubah menjadi “Gaudium et Spes”, tempat yang senyatanya menjadi kehadiran dan kecintaan Tuhan serta kegembiraan dan harapan umat Allah.

Ketika masih menjadi misdinar di kelas 3 SD dulu, saya masih mengalami misa dalam bahasa Latin, imamnya membelakangi umat ketika Konsekrasi. Buku Misa yang dipakai bapak-ibu saya, masih buku Padupan Kentjono tua yang dua kolom itu: sebelah bahasa Jawa, sebelahnya bahasa Latin. Setiap hari Sabtu pukul 4 sore, kami “digiring” ke gereja untuk mengaku dosa wajib kepada Romo Paroki.

Ketika saya mengaku kepada Romo Helsloot SJ  : “kula nglampahi laku jenes”, Romo begitu kaget dan bertanya : “apa karepe ?” Saya jawab saja : “kekeceh!” Lha memang sebagai anak kelas 4 SD, saya tidak tahu apa “laku jenes” itu.

Denda dosa juga sudah baku: mBangun Keduwung dan Sembah Bekti 3 kali. Kalau dosanya agak banyak, ditambah doa  mBangun Pengarep-arep, mBangun Nuraga dan sembahyangan Pepak Kanggo Sakkabehe.

Dalam perjalanan waktu, karena kuliah dan penugasan, maka Dokumen Konsili Vatikan II menjadi lebih saya pelajari. Kalau Bapak-Ibu saya cuma memajang foto Paus Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI di kamar tamu, karena keadaan, maka saya dipaksa jadi tahu sedikit banyak tentang Konsili yang digagas dan ditutup oleh 2 Paus itu.

Almarhum Romo Tom Jacobs SJ  sangat bersemangat kalau bercerita tentang Konsili Vatikan II yang heboh itu. Maklumlah, waktu itu mendiang Romo Tom masih kuliah di Universitas Gregoriana ketika Konsili itu berlangsung. Entah berapa ribu (bahkan juta) tesis dan tesina yang dibuat oleh para “Doktor Gereja” di seluruh dunia ini yang mengambil tema dari Konsili Vatikan II.

Menyambut Tahun Iman

Teman-teman, saya tidak tahu apakah Keuskupan kita merayakan khusus Tahun Iman ini. Maklum saya sudah lama “tidak gaul” dan tidak dapat info apa-apa dari Gereja dan Keuskupan saya. Langganan majalah Hidup juga tidak. Milis ini saja yang masih menyapa dan memberi info tentang dinamika hidup beragama dan beriman kita.

Kalau membuka “Eyang Google”, saya terus terang iri dengan begitu banyak keuskupan di seantero dunia ini yang punya inisiatif macam-macam untuk merayakan Tahun Iman ini. Saya cuma berharap setahun ini, ada inisiatif besar kecil dari komunitas Merto kita, dari Palingsah atau dari siapapun, agar saya dan keluarga saya lebih beriman dan “kecipratan” berkah dari begitu banyak rekan-rekan saya yang sangat berlimpah iman itu.

Saya ini hanya sekedar salah satu dari sekian pencinta iman dan Gereja saya, walau saya tahu telah banyak mengecewakan Tuhan saya, Gereja saya, dan diri saya sendiri. Entah mengapa, di hari pertama Tahun Iman ini, saya rindu sekali mengaku dosa seperti zaman saya kecil dulu. Entah mengapa, ada rasa syukur yang tak terhingga, sehari sebelum Tahun Iman ini dirayakan, saya bertemu seorang teman Merto yang memberi banyak peneguhan iman kepada saya.

Tempat kami “pendalaman iman” hebat lagi: “Hardrock Café Kuta”. Bukan main dunia dan manusia yang dicintai Tuhan itu. Gaudium et Spes! Dalam waktu dekat ini, semoga Tuhan membuka hati saya kepada pertobatan yang sejati itu. Saya jadi bermimpi, alangkah indah seandainya saya bisa mendengar lagi suara seorang Bapak Gereja yang sungguh baik yang sungguh memberi keteduhan. Ketika yang baru saja berlangsung adalah sebuah Konsili yang penuh muatan teologis yang begitu berat, dampaknya akan besar, yang dikatakan Paus Yohanes XXIII, sama sekali bukan pidato teologis. 50 tahun silam, sore hari setelah membuka Konsili Vatican II, di lapangan Santo Petrus, pada senja hari, Paus yang baik ini mengatakan isi hati kebapakannya demikian:

“Anak-anakku terkasih, saya mendengar sungguh-sungguh suara kalian. Suara saya hanya satu, tetapi semoga bisa mewakili semua suara seluruh dunia, ketika di sini sekarang ini, seluruh dunia datang ke Roma. Bahkan, bisa dikatakan senja hari ini, bulan di sanapun seolah ikut hadir. Bulan yang memandang dari atas dan menikmati pemandangan indah ini. Sesungguhnyalah, kata-kata penuh kedamaian itu kita alami : “Terpujilah Tuhan di tempat yang maha tinggi, dan damai di bumi kepada semua orang yang berkenan kepadaNya”.

Seandainya saya boleh bertanya kepada setiap orang di antara kalian semua: “Dari mana kamu datang ?”

Warga kota Roma yang hari ini hadir di sini, mungkin akan menjawab: “Kami datang dari dekat sini saja dan Anda adalah Uskup kami”.

Memang anak-anakku warga Roma, kalian sesungguhnya mewakili Roma sebagai “caput mundi”, ibu kota dunia. Begitulah, penyelenggaraan Ilahi sudah memanggil dan menentukan kita demikian itu selama berabad-abad.

Refleksi pribadi

Sebagai pribadi, saya ini tidak ada artinya. Saya hanyalah  seorang saudara yang sedang berbicara dengan kalian semua. Karena kehendak Tuhan, saya yang adalah saudara kalian, kemudian menjadi Bapak kalian semua. Kalau nanti kalian pulang ke rumah, peluklah anak-anak kalian dan katakan : “Ini pelukan dari Bapa Suci !” Carilah saudara-saudara kita yang sedang menangis. Usaplah dan keringkanlah airmatanya. Berikanlah kata-kata penghiburan yang menguatkan. Buatlah mereka tahu bahwa Bapa Suci dan anak-anaknya hadir dalam setiap duka dan tangis mereka.

Marilah kita tetap bersemangat, tetap bergembira, tetap bernyanyi, tetap hidup walau kadang kita menangis. Tetap teguhlah iman kita kepada Kristus, karena Ia selalu membantu kita, mendengarkan kita dan meneguhkani perjalanan hidup kita.

Sebelum saya memohonkan berkat Tuhan, perkenankanlah saya mengucapkan: Selamat Malam!

Denpasar, 11 Oktober 2012

Pada pembukaan Tahun Iman

A.Kunarwoko

Photo credit: Ilustrasi (Ist)

Artikel terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here