Semangat Pengutusan Tiada Putus, Meski Badannya Sudah Teronggok Lumpuh

0
547 views
Ilustrasi - sakit by ist

Minggu, 18 Juli 2021

  • Yer. 23:1-6.
  • Ef. 2:13-18.
  • Mrk. 6:30-34.

“BULAN Juli ini mestinya menjadi bulan yang istimewa bagi perjalanan hidupku. Saya telah 50 tahun berkarya di Indonesia sebagai seorang biarawan,” kata seorang konfrater.

“Saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memanggil, menuntun, dan membimbing hidup bakti saya sebagai biarawan dalam Konggregasi ini,” lanjutnya.

“Saya juga ingin bersyukur dan meminta maaf kepada pimpinan, dan para konfrater yang telah menjadi saudara dalam suka dan duka selama ini. Maaf karena kadang ada silang pendapat yang tentu telah mengecewakan,” tuturnya.

“Saya juga ingin secara khusus berterim kasih dengan teman-teman yang selama ini menjadi tim saya dalam aneka kegiatan pelayanan,” lanjutnya.

“Namun semua itu, tidak bisa saya alami secara langsung dalam sebuah perayaan, karena penyakit telah membawa saya ke tempat yang sunyi ini.

Saya harus berbaring di ranjang ini dalam keadaan tak berdaya, jauh dari komunitas yang selama berpuluh-puluh tahun menjadi medan pergumulanku dalam menangkap kehendak Tuhan dengan melayani sesama,” katanya.

“Saat ini penyakit ganas telah mengerogotiku, badanku lemas. Bahkan sekedar membalikkan badan pun saya tidak mampu lagi. Tulang-tulangku terasa terlepas dari tubuhku,” keluhnya.

“Saya tidak tahu sampai kapan saya bertahan. Di tempat tidur ini, dalam derita yang sangat berat saya ingin berbisik, ‘Apakah penyakit ini hadiah 50 tahun hidup membiaraku?’ Apa kehendak Tuhan bagi hidupku selanjutnya,” tanyanya.

“Saya sebenarnya masih senang bekerja. Masih semangat bekerja, masih cinta dengan pengutusanku. Namun jika semuanya harus berakhir. Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu, Tuhan,” katanya.

Bagai simpul sapu lidi yang menyatukan lidi yang berserakan hingga menjadi sapu.

Demikian saat 50 tahun hidup dalam karya pengabdian konfraterku telah disatukan dan dimahkotai dengan salib Kristus.

Penyakit telah membuatnya mengakhiri seluruh karya pelayanannya. Juga menjadi pengikat seluruh pengalaman hidupnya selama ini yang ditandai jatuh bangun dan menjadi persembahan yang berharga dalam tangan Tuhan.

Mungkin saatnya kini menyampaikan kepada Tuhan apa yang telah dijalani dalam pengutusan selama ini.

Saatnya menceritakan kepada Tuhan, semua yang pernah dialami sepanjang jalan cinta bakti ini.

Bisakah aku melihat kehendak Tuhan dikala semua rencana hidup tiba-tiba tidak sesuai pikiranku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here