Seorang Gembala adalah Sahabat Perjalanan

0
333 views
Ilustrasi - Ngajak ziarah. (Ist)

Senin, 9 Mei 2022

  • Kis. 11:1-18.
  • Mzm. 42:2-3;43:3.4.
  • Yoh. 10:1-10.

WITING tresno jalaran soko kulino” artinya cinta hadir karena terbiasa.

Kata-kata ini mengumpamakan bahwa dalam sebuah hubungan antar dua manusia, rasa cinta di antara keduanya dapat muncul karena terbiasa.

Terbiasa bersama-sama, terbiasa menghabiskan waktu berdua, terbiasa bertemu, terbiasa mengobrol, terbiasa kerja bersama dan lainnya.

“Saya sangat bingung menghadapi orangtuaku,” kata seorang gadis.

“Mereka sangat menentang hubungan kami,” lanjutnya.

“Padahal saya tahu temanku itu meski sikapnya keras, namun hatinya baik, penuh perhatian dan sangat murah hati,” sambungnya.

“Dia memang tidak suka bosa basi dalam pergaulan dan pembawaannya cenderung kaku,” sambungnya lagi.

“Bagaimana kamu tahu dan merasa yakin bahwa temanmu itu, punya hati sebaik yang kamu katakan?” tanya sahabatnya.

“Kami jalan bareng sudah cukup lama, hampir tiga tahun,” jawab gadis itu.

“Selama itu jalan bersama itulah saya mengenal dia cukup dalam hingga membuat saya yakin bisa hidup bersama dia,” sambungnya.

“Pengalaman selama ini, ia selalu ada, di saat saya dalam situasi penting dan bahkan saat saya mengalami kesulitan,” lanjutnya.

“Dia bukan orang yang mau mengambil kesempatan dalan kesulitanku, namun pribadi yang tulus menemani perjuanganku,” sambungnya lagi.

“Meski dia tidak mengungkapkan dengan kata-kata yang halus, namun perbuatannya selama ini telah meyakinkanku bahwa ia teman yang baik dan cocok dengan diriku,” tegasnya.

“Namun orangtuaku ingin aku menikah dengan orang pilihannya, yang aku rasakan jauh berbeda sikap dan kepribadiaannya dengan pilihanku,” ujarnya.

“Saya ingin membahagiakan orangtuaku, namun aku juga tidak bisa jika harus hidup dengan orang yang tidak aku yakini bisa membangun kebahagian bersamaku,” katanya lagi.

“Aku sudah berusaha mengenal orang yang dipilih orang tuaku namun saya tidak menemukan rasa yang sama jika aku berjalan dengan pilihanku,” tandasnya.

“Rasa nyaman, aman, dan pasti hanya aku dapat dari pilihanku yang membuatku yakin bahwa dia adalah gembala jiwaku, sahabat perjalanan hidupku,” tegasnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.

Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

Perikop Injil hari ini mengisahkan perkembangan kepercayaan dan relasi kasih seseorang kepada Yesus.

Iman kristiani bukan pertama-tama mengikatkan diri pada ajaran, melainkan membangun relasi dengan seseorang, yakni Yesus dari Nasaret seperti dikisahkan dalam relasi antara Gembala dan domba.

Domba-domba itu mengenal Gembalanya karena terbiasa kumpul bersama, ditemani, diberi makan dan minum, dijaga dan diarahkan serta diperhatikan dengan sepenuh hati.

Demikian pula iman dan kepercayaan dalam hati kita mulai ketika kita melihat Tuhan Yesus mengerjakan hal – hal yang tidak dapat dikerjakan oleh orang lain dalam kehidupan kita.

Kita menjadi semakin terbuka terhadap kasih dan persahabatan-Nya; apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita, betapun susahnya dan apa pun resikonya dan berapa pun kita harus membayar harganya.

Meskipun nampaknya Yesus tidak hadir dan berdiam diri, kita tetap mempercayakan diri dan beriman kepada-Nya.

Ini adalah anugerah Allah, anugerah hidup baru, yang diberikan kepada kita sebagai benih yang kecil ketika kita dibaptis.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku mengenal Sang Gembala hidupku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here