Sepatu Sandal Jatuh di Jalan

0
35 views
Romo Alexander Joko Purwanto Pr berjibaku naik sepeda motor melawati jalan berkubang penuh lumpur di sebuah wilayah Keuskupan Ketapang, Kalbar. (Arsip Romo Joko Purwanto Pr)

Puncta 11 Juli 2024
PW. St. Benediktus, Abbas
Matius 10:7-15

PADA waktu berangkat tugas di Ketapang, saya sudah menyiapkan sepatu sandal gunung untuk jalan ke stasi-stasi. Tapi Romo Bangun Pr menyarankan saya memakai sepatu boots karena harus naik motor sejauh 155 km dari Ketapang ke Nanga Tayap.

Sepatu sandal saya ikat di sadel belakang dan saya bawa ransel besar di punggung. Perjalanan jauh melalui medan yang berbatu-batu dan berdebu. Saya “keponthal-ponthal” mengikuti lajunya motor Romo Bangun yang sudah hapal dan terbiasa.

Sampai di Nanga Tayap, saya lihat sepatu sandal yang saya ikat ternyata tinggal satu. Yang satunya jatuh di jalan, tanpa saya tahu.

Akhirnya sepatu sandal baru itu saya buang. Untuk apa kalau hanya tinggal satu, tidak bisa dipakai, tak ada gunanya.

Ketika masuk ke kamar, ternyata sudah tersedia sandal yang cocok untuk tugas di pedalaman. Tuhan kok tahu ya apa yang saya butuhkan. Tuhan kan sudah bilang, “Jangan membawa kasut atau tongkat.”

Kalau Tuhan yang mengutus, maka Tuhan pula yang akan mengurus segalanya. Nyatanya waktu saya bertugas di Kalimantan, apa yang menjadi ketakutan-ketakutan itu tidak pernah terjadi. Bahkan sandal saja, Tuhan sudah menyiapkan untuk saya.

Tuhan sudah mengingatkan kepada para murid untuk tidak kawatir tentang semuanya. “Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya,” pesan Tuhan.

Tidak usah kawatir tentang apa-apa yang kita perlukan. Tuhan sudah memikirkan semuanya itu. Keperluan turne sudah disiapkan. Kalau kekurangan bensin, Pak Akiang sudah siap. Kalau kelaparan, Mama Feliks sudah siap dengan makanan. Butuh teman dalam perjalanan, Pak Redes, Pak Jali siap menemani.

Kita jalani saja tugas perutusan Tuhan itu dengan gembira, pasti semuanya akan Tuhan bereskan. “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma,” itulah pesan Tuhan.

Kalau kita melayani dengan murah hati, Tuhan akan membalasnya menjadi berkah yang berlimpah-limpah. Tidak pernah ada kekurangan sesuatu pun.

Makan pecel sambel daun kenikir,
Wadahnya bukan piring tapi pakai takir.
Jangan pernah merasa takut dan khawatir,
Tuhan sudah siapkan apa yang kau pikir.

Cawas, berilah dengan cuma-cuma
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here