Sibuk Menjadi Sempurna, Lupa Bercermin

0
225 views
Ilustrasi - Saling tuding menuduh. (Ist)

Bacaan 1: Kej 12:1 – 9
Injil: Mat 7:1 – 5

“SERING-seringlah bercermin, sebelum kamu berkata-kata. Jangan-jangan kamu sedang menghakimi dirimu sendiri.”

Cermin adalah sebuah benda yang dapat merefleksikan pantulan seseorang maupun benda di depannya.

Melalui cermin, kamu bisa melihat dirimu dengan jelas.

Apa yang menjadi kekuatan atau kelemahan fisikmu terlihat jelas.

Banyak pelajaran bisa didapatkan dari cermin sehingga memicu untuk terus berintrospeksi diri.

Dalam pengajaran-Nya di bukit, Tuhan Yesus bersabda agar para pengikut-Nya menghindari penghakiman terhadap orang lain.

Yesus mengecam kebiasaan mencela kesalahan orang lain sementara mengabaikan kesalahan diri sendiri.

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi… Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Di sini berlaku ‘Hukum Cermin’.

Apa yang dilakukannya (menghakimi) memantulkan perilaku dirinya sendiri. Baik orang lain maupun Allah sendiri akan menghakimimu dengan ukuran yang kamu pakai untuk menghakimi orang lain.

Walau demikian, bukan berarti kita tidak boleh mengkoreksi kesalahan orang.

Koreksi harus disertai dengan introspeksi diri bahwa setiap orang pasti punya kesalahan.

Dengan iman yang tak bersyarat dan ketaatannya, Abram menanggapi firman Allah untuk meninggalkan Haran (saat ini sekitar Turki Selatan) menuju ke Kanaan yang dijanjikan-Nya.

Janji sebagai bangsa yang besar tentu membutuhkan keturunan dan tanah untuk ditinggali. Padahal Sarah isterinya mandul, dua hal yang tidak dimiliki Abram, yaitu tanah dan keturunan.

Maka janji-Nya tergenapi bukan saat Abram masih hidup, namun oleh keturunannya.

Abram adalah model berkat ilahi,sehingga bisa dipahami akhirnya bahwa Israel akan menjadi berkat bagi seluruh dunia.

Pesan hari ini

Tuhan ingin kita menghindari penghakiman sebab itu adalah hak Allah.

Namun koreksi terhadap orang lain boleh dilakukan dengan tulus dan tidak subyektif serta tetap introspeksi terhadap diri sendiri.

Abram adalah model berkat ilahi, dengan imannya yang tak bersyarat serta ketaatannya ia menangggapi panggilan Allah.

“Jangan lupa bercermin sesekali agar kamu tidak lupa seperti apa wujudmu sendiri. Tetaplah pakai maskermu dan jaga jarakmu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here