Simpanan Bejana Rapuh: Kaul Pertama Empat Suster FSGM dan Penerimaan Busana Biara di Lampung

0
129 views
Uskup dan para suster yang baru saja mengucapkan kaul pertama dan menerima busana biara.

HIDUP panggilan membiara bukanlah sebuah kehormatan duniawi. Berbeda dengan anggota DPR yang kapan itu menjadi marah, ketika disentil oleh almarhum Presiden Abdurrahman “Gus Dur” Wahid.

Nah, kalau kita ditegur lalu mendiamkan orang yang menegur, apa bedanya dengan anggota DPR itu? Demikian pertanyaan pancingan Uskup Keuskupan Tanjungkarang.

Ini terjadi pada upacara penerimaan pakaian biara dan pengikraran kaul pertama di Kapel Biara St. Yusup, Pringsewu, Selasa, 11 Agustus 2020.

Mereka yang menerima pakaian biara adalah:  

  • Angela Merici Reni.
  • Carolina Aprilia.
  • Maria Valentina.
  • Monica Mia Silviani.
  • Theodora Lastriana Sianturi.
  • Vectoria Rini Handayani.

Mereka yang mengikarkan kaul pertama adalah Sr. M. Gemma FSGM, Sr. M. Paskalina FSGM, Sr. M. Silvesta FSGM, dan Sr. M. Virginia FSGM.

Pengucapan kaul pertama dan menerima lilin.

Alat Tuhan

Uskup mengibaratkan kita ini seperti bejana tanah liat. Bejana tanah liat itu ada yang berwarna kusam, cokelat, agak kekuningan, putih cemerlang, ada juga yang merah marun.

Namun, seindah apa pun, bejana itu tidak pernah menyimpan barang berharga seperti uang, emas, surat berharga. Apalagi bejana yang ditaruh di ruang ruang tamu. Yang berwarna kusam, pasti diletakkan di dapur untuk menyimpan beras.

Kita seperti bejana yang rapuh. Biar pun lemah, bila kita mengandalkan Allah, kita mampu melakukan hal-hal besar dan luar biasa.

Yang penting jangan mengandalkan kekuatan diri kita sendiri. Biarkan Tuhan yang melakukan dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Kita hanyalah alat-Nya. Biarkan Dia menggunakan kita.

Maka Uskup meminta agar kita jujur mengakui kelemahan dan keterbatasan kita di hadapan Tuhan. Tetaplah mengucapkan syukur apa pun keadaan kita. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.

Didikan Tuhan

Rasul-rasul dididik Tuhan untuk melupakan angan-angan dan kemauannya sendiri. Syukurlah mereka mau dididik, kecuali Yudas Iskariot. Rasul-rasul itu setia sampai akhir hidupnya. 

Meski dalam perjalanan mereka sempat menuntut Tuhan. Tuntutan itu tidak sesuai dengan perjalanan panggilan kemuridan. Mereka sempat sombong. Namun, lama-lama sadar.

St. Clara, pengikut St. Fransiskus Assisi, meninggalkan segalanya. Apakah para suster fransiskan ini, pengikut St. Fransiskus, masih juga bertanya seperti St. Petrus, “Apakah upah kami? Apa kedudukan saya nanti? Atau saya mau yang itu, saya yang cocok di situ, dan bukan dia. Saya tidak mau kalau harus dipindah ke…”

Kleiding adalah prosesi penerimaan baju biara.

Nama Maria

Anda semua memakai nama Maria, dimaksudkan untuk menjiwai spiritualitas Maria. Sekali mengatakan, ‘Ya’, tetap ‘Ya’. Bukan hanya sampai di bawah salib yang sangat menyayat, bukan hanya sampai memakamkan Yesus, namun terus sampai akhir hayatnya.

Setiap hari kita harus mengunyah sabda Tuhan sampai terasa manis. Hidup dalam panggilan harus setia baik dalam keadaan manis atau pahit. Kita harus mampu menerima pahitnya kehidupan. Entah manis entah pahit, kalau kita setia pada panggilan Tuhan, kita akan bahagia.

Bejana tanah liat memang rapuh. Bukan beras, uang, atau surat-surat berharga yang kita simpan. Tetapi kita menyimpan Yesus Kristus. Melalui Ekaristi, Dia tak pernah meninggalkan kita, dalam situasi apa pun.

Kecaplah betapa sedapnya Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here