Sosok Uskup Agung KAS Mgr. Robertus Rubiyatmoko: Pribadi Lembah Manah (13)

0
1,302 views
Mgr. Robertus Rubiyatmoko Pr saat masih kecil suka angon bebek dan tak disangka dipilih Paus Fransiskus menjadi Uskup Agung KAS. (Ist)

DALAM daftar kehadiran suatu kepanitiaan, tertulis satu nam: ‘Ruby’. Kita semua tahu siapa itu: Monsinyur Robertus Rubiyatmoko.

Saya jadi malu, karena dalam baris sebelumnya, saya menuliskan nama diri lengkap: Romo Agus S. Gunadi Pr. Sementara, dia hanya menulis nama panggilan: Ruby; seolah-olah ingin menyembunyikan diri supaya tak seorang pun mengenalnya.

Baca juga:

Fenomena ini semakin meyakinkan saya tentang siapa sosok yang menjadi satria piningit dan opèn ini. Dia adalah pribadi yang lembah manah.

Lembah manah lan andhap asor iku dalaning kaperbawan.

Tanpa guna wibawaku ing ngarepe manungsa yen Gusti ngasorake aku.

Sapa wonge sing adigang adigung bakal diasorake dening kuasaning Gusti Pangeran.

Sapa wonge sing bisa lembah manah lan andhap asor bakal entuk sihing Pangeran.

(Rendah hati itu jalan menuju kewibawaan. Percuma wibawa di hadapan manusia, tetapi hina di hadapan Tuhan. Barang siapa meninggikan diri akan direndahkan oleh kuasa Tuhan, dan barangsiapa yang rendah hati dan merendahkan diri akan memperoleh kasih Allah).

Baca juga:  Uskup Agung KAS Terpilih Mgr. Robertus Rubiyatmoko: Berbagi Kegembiraan dan Optimisme (12)

Keutamaan Injili

Lembah manah sesungguhnya searti dengan andhap asor.

 Lembah (rendah), manah (hati); andhap (rendah), asor (hina/bawah). Inilah keutamaan dalam kultur Jawa.

Namun juga sekaligus keutamaan Injili. Ajaran ini sangat pekat dalam ‘formatio’ keluarga Jawa. Anak-anak selalu dilatih dan dibiasakan untuk bersikap lembah manah dan andhap asor.

Seringkali dibandingkan dengan ungkapan yang berlawanan, misalnya: ojo dumeh (jangan congkak), adigang-adigung (sombong karena kedudukan dan status sosial), seneng ginunggung (senang disanjung), dsb.

Kenal sejak tahun 1980

Sejauh saya mengenalnya, ekspresi emosi Monsinyur Robertus ini orisinil dan otentik. Murni keluar dari hati yang bening dan jujur.

Suatu kali, hari-hari pertama kami menjadi frater di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta. Kala itu,  Frater Ruby ini mengajak saya dan teman-teman lain untuk mandi di sebuah mata air di dekat rumahnya.

Sekalipun itu sudah 32 tahun yang lalu,namun  saya masih ingat betul ekspresi wajahnya: antusias dan berharap ditanggapi.

Cerita tentang mata air itu sangat indah: jernih, bisa untuk berenang, ada ikannya, di lereng Merapi. Deskripsi itu membuat kami setuju.  Ketika meminta ijzn kepada Romo Haryo (sekarang Monsinyur  Ignatius Suharyo, Uskup KAJ), beliau dengan halus bercanda: “Ngatos-atos frater… mboten ajrih dipun cokot sawer?” (Hati-hati frater, apakah tidak takut digigit ular?).

Kami pun dengan senang hati berangkat.

Apa yang kami saksikan? Sebuah kolam dengan beberapa ibu sedang mencuci aneka pakaian. Airnya tidak jernih-jernih amat. Sampai mengurungkan kami untuk mandi di sana. Dan bahkan ketika pulang, karena jalan bebatuan dan pasir, dop pentil sepeda kami meloncat entah ke mana, sehingga ban gembos. Tetapi tetap saja, Frater Ruby tersenyum otentik.

Di Wisma Jangli Semarang

Satu lagi, pengalaman di Tahun Orientasi Rohani Sanjaya di Jangli Semarang.

Saya dan Frater Ruby mendapat giliran belanja di pasar pagi di Sisingamangaraja (masih adakah pasar itu?).

Karena badannya lebih kuat, dia bawa kantong gandum, saya yang bawa uang untuk membayar.

Tiba di toko kelontong, si penjual bertanya pada saya: “Sendirian Nyo…

Saya tersenyum. Setelah membayar belanjaan, Frater Ruby segera memasukkan barang ke kantong dan siap membawanya.

Si penjual tanya pada dia: “Kok tidak dengan nyonya-e?

Siang hari, ketika refleksi bersama (kelas), dia baru sharing dengan bangga dan ekspresi yang otentik: “Ketika saya belanja tadi, saya dikira ‘pembantu’ nya Frater Agus Gunadi. Hebatnya, dia menceritakan itu semua tidak dengan kecewa atau marah apalagi malu. Melainkan ketawa.

Dasar pribadi yang lembah manah dan andhap asor.  Tidak mengharap sanjungan, bahkan kalau boleh, mungkin dia memilih tenggelam dalam pelayanan yang ‘tidak dihitung’ manusia.

Querere et salvum facere.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here