Sr. Lidwina Suharti SFS (95), Kiat Hidup Sehat dan Bahagia Suster SFS Pribumi Generasi Pertama (1)

0
245 views
Sr. Lidwina Suharti SFS, suster pribumi generasi pertama Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS) - Mathias Hariyadi

SUNGGUH tak menyangka, nama “Sr. Lidwina SFS” pertama kali masuk dalam sistem memori penulis, ketika berlangsung wawancara jelang tengah malam bersama Sr. Paula SFS, Jumat tanggal 16 September 2022 kemarin.

Sekelebat, nama itu disebut oleh Sr. Paula SFS, ketika penulis bertanya tentang sejarah tarekat Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS) di Indonesia; terutama yang berkaitan dengan suster pribumi generasi pertama.

Maka, langsung disebutlah nama Sr. Lidwina SFS – yang di bulan Juli 2022 lalu telah menginjak usia 95 tahun.

Wah, penulis langsung ngeper mendengar betapa sudah sepuhnya beliau. Pasti akan ada banyak kendala, ketika Titch TV ingin mengadakan wawancara.

Namun, Sr. Paula SFS menyanggupi akan menemani proses wawancara itu. Tentu gagasan spontan itu langsung disambut dengan senang hati.

Nah, masalahnya bersama sejumlah suster lainnya, besoknya di hari Sabtu (17/9), Sr. Paula SFS akan merayakan pesta hidup membiara selama 50 tahun. Pasti ia akan sangat sibuk.

Benar juga, bahwa Sr. Paula SFS sendiri mengalami banyak kendala jalan, karena dampak beberapa kali mengalami kecelakaan.

Niat penulis untuk bertemu dengan Sr. Lidwina SFS –suster pribumi generasi pertama- kian kecut ketika saat berlangsung Perayaan Ekaristi Syukur para jubilaris, terlihat Sr. Lidwina duduk di kursi roda.

Blessing in disguise

Sabtu pagi tanggal 18 September 2022, penulis berencana melakukan syuting dokumentasi pesta Paroki Sukabumi. Akan ada jalan-jalan ringan sehat keliling kota.

“Nanti mulai jam 08.00 WIB,” kata Sr. Emilia SFS ketika Titch TV bertemu dengan sejumlah suster yuniores untuk program syering dunia medsos dan videografi.

Alhasil, penulis buru-buru meluncur ke paroki. Waktu masih bertengger pada angka pukul 07.30 WIB pagi. Tapi di jalanan sudah berlangsung jalan-jalan sehat.

Urung sudah penulis melakukan syuting. Maka rencana langsung berubah. Segera saja pergi dolan ke Biara Assisi dan Panti Wreda Assisi yang lokasinya berada persis di seberang Gedung Joang Sukabumi.

Usai syuting ringan-ringan, saya mampir ke Biara Assisi di mana ada beberapa warga sepuh tinggal di situ. Juga ada tiga suster sepuh yang kini juga menjadi penghuni rumah kasepuhan itu.

Ada Sr. Clementine SFS

Eh, di situ ketemu Sr. Clementine SFS. Lalu penulis langsung bertanya siapa nama kedua suster sepuh penghuni dua kamar di Griya Kasepuhan SFS sementara itu.

Dijawabnya: “Ini Sr. Lidwina SFS dan Sr. Seraphine SFS.”

Maka, beruntunglah penulis hingga akhirnya program Bincang-bincang Panjang bersama Sr. Lidwina SFS dan berikutnya dengan Seraphine SFS bisa berlangsung.

Ini sungguh dadakan.

Luar biasa. Itu kesan saya. Meski tidak sampai membawa peralatan lighting dan tripod sebagaimana layaknya, proses syuting bisa berlangsung dengan lancar.

Sr. Lidwina Suharti SFS (95) asal Kaporan, Tangkisan Pos, Gondang, Kabupaten Klaten. Bersama dua teman angkatannya di tahun 1952 yakni Sr. Gerarda SFS dan Sr. Agustin SFS –keduanya sudah meninggal dunia- ia menjadi suster Indonesia pribumi generasi pertama di dalam Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi atau SFS. (Mathias Hariyadi)

Banyak terlupakan karena faktor U

Kamera terpaksa dibopong dengan kekuatan tangan. Interpiu kadang terputus, karena faktor dementia Sr. Lidwina SFS sehingga informasi sama selalu diulang-ulang.

Maka, langsung main dan ambil strategi. Penulis fokus di syuting dan meminta Sr. Clementine SFS memandu jalannya interpiu.

Sungguh manjur kiat taktis dan spontan ini.

Tentu yang membuat Sr. Lidwina SFS bisa “bicara banyak” adalah pertanyaan-pertanyaan pancingan yang diungkapkan oleh keponakannya: Sr. Clementine SFS.

Jadilah, interpiu dadakan sepanjang hampir 45 menit itu berlangsung sangat menyenangkan dan inspiratif.

Super kocak dan semangat

Apalagi Sr. Lidwina SFS -sungguh di luar dugaan- gayanya kocak. Nada bicaranya masih super semangat dan penuh gelak ketawa.

Tanda bahwa ia hidup bahagia sebagai seorang suster biarawati SFS yang telah dia jalani sejak tahun 1952 sampai sekarang tahun 2022. Berarti, hidup membiaranya sudah lebih dari 70 tahun.

Juli 2022 lalu, Sr. Lidwina SFS berusia 95 tahun

Pengalaman penulis di Biara Asisis SFS di Kota Sukabumi, Sabtu pagi tanggal 18 September 2022 tadi itu benar-benar “September Ceria” – mirip judul lagunya Vina Panduwinata- era tahun 1980-an.

Itu karena Titch TV ikut dibuat makin semangat untuk membesut program Bincang-bincang Panjang bersama dua suster sepuh anggota Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS).

Kisah menarik tentang hidup Sr. Lidwina Suharti SFS ini masih akan terus muncul. (Berlanjut)

PS: Terimakasih penulis ucapkan untuk para pihak yang telah membantu terlaksananya sesi wawancara yang menyenangkan ini. Yakni, kepada Sr. Clementine SFS, Sr. Seraphine SFS, Sr. Vincentia SFS dari Provinsialat, dan Komunitas Biara Assisi SFS Sukabumi,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here