“Star Syndrome” Menempel Sang Juara

0
105 views
Ilustrasi: Godaan akan pujian dan tepuk tangan. (Ist)

UNTUNG, ada seorang teman muda mengingatkan saya. “Pak, sudah lama tak menulis tentang masalah manajemen SDM. Kami tunggu”.

Alih-alih merenung tentang SDM, gara-gara gemuruh berita tentang pemilu, mood saya menulis drop ke titik nadir. Kebetulan, seorang teman adik angkatan semasa kuliah di Bandung, curhat tentang salah satu anak buah di kantornya.

Joy, begitu saya memanggilnya, adalah Chief Human Resources Officer (CHRO) di suatu perusahaan industri, mempunyai 1.000 pegawai yang tersebar di empat lokasi operasi di berbagai kota dan dua kantor administrasi di Jakarta.

Meski tak mempunyai exposure di ranah SDM, Joy, yang baru menjabat selama lima tahun, cukup passionate dengan peran barunya.

Livi, salah satu anak buah Joy, menjadi subyek cerita ke saya.

Perempuan berusia 40-an tahun itu menduduki posisi manajer dan membawahi empat orang anak buah.

Dari sisi pekerjaan, Livi nyaris tanpa cela. Dia kompeten, pekerja keras, menguasai masalah dan pencapaiannya sangat memuaskan.

Tetapi, seiring kesuksesan yang dia tapak, timbul masalah baru.

Teamwork-nya bermasalah. Relasi ke samping dan ke bawah tak dikelolanya dengan baik. Percik-percik konflik meletup di sana sini. Livi semakin dominan dan egosentrismenya menguat dan semakin menguat. Sebagai konsekuensi logis, Livi semakin dominan. Bahkan Joy pun kadang tak didengarkannya. Mungkin karena dia berpikir Joy tak mengerti detil.

Keadaan ini memuncak sebulan lalu, ketika salah satu anak buah Livi, yang juga cukup kompeten, mengundurkan diri. Ini gara-gara kena semprot Livi hanya karena “sedikit” saja tak memenuhi harapan yang diinginkannya.

Itulah sebabnya, tiga hari lalu, Joy “mengadu” ke saya. Hampir satu jam dia berkeluh kesah tentang Livi. Tak tahu apa yang harus dikerjakannya.

Saya minta waktu sepekan untuk membantu Joy mencari jalan keluar. Tapi sebelum itu, izinkan saya membuat quick response, tentang apa yang dialami Livi.

Saya menamakan fenomena ini sebagai “Star Syndrome” (Sindrom Bintang).

Seseorang yang kemampuannya terus melejit dan kemudian menjadi tumpuan banyak (sekali) orang, dipuja-puji di mana-mana, seolah tak punya cacat dan cela, mudah sekali terkena sindrom ini. Menjadi bintang tak semudah orang melihatnya, karena superstar otomatis menyandang cobaan yang bukan main-main.

Semakin mumpuni, orang akan semakin diserbu oleh banyak sekali godaan. Godaan apa saja.

“Semakin tinggi pohon kelapa, semakin deras angin meniupnya”.

Orang Jawa mempunyai peribahasa yang sangat pas untuk menggambarkan lakon yang sedang dimainkan Livi.

Melik nggendong lali.” (Ambisi dan keinginan selalu diikuti oleh lupa)

Seorang teman lain, bercerita bahwa dia justru “was-was” kalau anaknya mendapat promosi di tempat kerja. Dia gamang bila anaknya membeli mobil baru atau pindah rumah ke yang lebih luas dan bagus. Bukan karena anaknya berprestasi dan mendapat penghargaan, tapi sang teman tahu persis bahwa angin akan meniupnya lebih deras.

Inayah Wahid, putri Gus Dur, pernah “protes” kepada pamannya, ketika beliau bilang: “Untung bapakmu hanya sebentar menjadi Presiden”.

Inayah lega, ketika sang paman menjelaskan bahwa siapa pun dia -bahkan Gus Dur sekalipun- akan kesulitan menahan angin (baca : godaan) bila berada di pucuk pohon yang sangat tinggi. Lebih baik Gus Dur menjadi “orang biasa” dan kemudian “guru bangsa” karena angin malah bisa dihembuskannya kepada siapa saja yang dianggap memerlukannya.

Joy saya tuding sebagai orang yang paling bertanggungjawab terhadap lakon Livi. Dia tak membekali dan mendampinginya, ketika Livi sedang meluncur ke puncak tangga. Tak diberinya rambu-rambu horizontal, hingga dia menabrak pagar sekelilingnya.

“Daging itu lemah” (Mark 14-38). Keikut-sertaan seluruh pemangku-kepentingan (stakeholder) untuk mengawal sang (calon) bintang adalah mutlak. Memberikan cek kosong (blank cheque) tanpa reserve adalah kekeliruan fatal yang sulit diperbaiki.

In God we trust, all others we audit”. (An auditor’s life motto)

@pmsusbandono
10 Desember 2023

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here