Suami Anak Mami Banget

0
387 views
Ilustrasi: Konflik antara suami-isteri dalam keluarga muda. (Ist)

BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN.

Rabu, 13 April 2022.

Tema: Uang dan kekerasan.

Bacaan.

  • Yes. 50: 4-9a.
  • Mt. 26: 14-25.

SAYA tidak mengerti. Saya tidak menerima. Apa yang terjadi sekian lama, sia-sia

Menyakitkan. Yang ada adalah luka. Saya tidak mau lagi susah, apalagi jauh dari orangtua.

Saya harus bahagia. Buat apa saya tergantung orang lain. Bodoh aja saya mengandalkan dia; mengharapkan dia. No way.

Saya sudah mengambil keputusan.

Sekian lama saya menemani dia. Mencintai dengan tulus.  Berusaha menjadi pasangan yang setia. Tetapi akhirnya saya harus mengakui, tidak tahan lagi. Terus menerus dibohongin dan ditipu.

Demi cinta pada anak- anak dan kesehatan mental saya, saya ambil keputusan, pisah. Kata seorang ibu.

Sudah bulatkah?

Sudah. Orangtua sudah saya beritahu. Awalnya tidak sepemikiran. Tapi saya yang memutuskan. Saya bilang, “Papa mama tidak merasakan. Saya yang mengalami setiap hari.”

Pokoknya selesai.

Dasar keputusanmu apa?

Pertumbuhan dan mental anak-anak, Mo.

Sudah sejak awal perkawinan saya bertanya-tanya. Apakah dia itu suami saya. Atau saya itu perpanjangan mamanya untuk merawat,  memanjakan dan selalu menghibur dia. Saya merasa dia bukan sosok seorang ayah. Lebih tepat sebagai anak mami, minta dimanja dan diperhatikan.

Saya mencoba bertahan. Menyimpan dalam batin. Tetapi setelah kami punya anak tiga, kelakuannya berubah. Dia ingin diperlakukan sebagai raja. Tidak mau berusaha keras. Ia hanya mengandalkan warisan dari maminya. Kalau “ribut” dengan saya dia pulang ke rumah maminya. Tiga hari kemudian atau lebih dia pulang dan merasa tidak bersalah

Bagaimana saya bisa hidup seperti ini? Di mata orangtuanya, saya yang selalu salah. Saya selalu dipersalahkan. Pokoknya kalau ada keributan rumah tangga selalu saya yang dipersalahkan. Mereka bilang, “Anaknya baik-baik saja sebelum berkeluarga denganmu.”

Saya mencoba menahan. Tetapi tidak bisa lagi. Saya menunjukkan sikap.

Pertimbangan lain?

Kebutuhan semakin banyak. Dia tidak mau mengerti. Ada tuntutan tambahan dalam rumahtangga dia tidak mau menambah. Saya harus menanggung. Maka, saya bekerja.

Eh,… malah  dia mengurangi bulanan selama ini. Dia mulai sedikit foya-foya untuk dirinya sendiri.

Yang membuat saya marah adalah dia tidak begitu perhatian kepada keluarga. Dia menikmati hidupnya sendiri. Gaji pun tidak sepenuhnya lagi diberikan. Pulang selalu malam. Alasannya bertemu klien. Tapi tidak ada penambahan penghasilan.

Di mana dia bekerja?

Salesman kredit.

Kan bisa dilacak kantornya apa. Berapa tambahan penghasilnya. Bagaimana prestasinya.

Orangnya tertutup.

Dan yang kedua, semakin lama semakin semenang wewenangnya. Dia mulai membentak. Bahkan berperilaku kasar. Seakan-akan saya itu tidak ada artinya lagi.  Tidak ada gunanya.

Dengan anak-anak gimana?

Anak-anak pada takut. Mulai menghindar dan membenci. Maka kalau ayahnya pulang, mereka tidak mau ketemu dan masuk kamar. Dipanggil pun tidak mau. Kalau mau pun dengan wajah yang tidak happy.

Main kasar ta?

Bahasanya mulai kasar. Kata-katanya mulai membentak, menyakitkan. Kadang main pukul.

Saya membela anak-anak. Saya mulai berani  melawan. Malah saya yang terpukul.

Saya sudah mengingatkan berulang kali.  Saya pun sudah mengancam kalau kamu berlaku seperti ini terus, kita pisah.

Bagaimana reaksi dia?

Dia malah menantang balik. “Silahkan kamu urus semuanya. Tanpamu aku bisa hidup. Bawa semua anak-anak. Aku tidak akan menyesal.”

Saya mengatakan kepada mertua. Mereka berucap, “Itu urusan kalian. Daripada ribut terus lebih baik berpisah agar tidak saling menyakitkan.”

Doain ya. Supaya saya tabah menjalani hidup dengan tenang. Kami pindah ke rumah ibu.

Saya hanya mendengar dan mencoba memahami. Ini baru kisah sepihak.

“Mulai saat itu, Yudas Iskariot, mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.” ay 16.

Tuhan, sekali pun aku dalam lembah kesesatan dan kegelapan, biarlah aku tetap dapat melihat terang-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here