Suami Isoman karena Covid-19, Isteri Paksa Diri Mau Temani

0
588 views
Ilustrasi: Keteguhan seorang isteri mendamping suaminya. (ist)

Senin, 19 Juli 2021

Kel. 14:5-18.
Mat.12:38-42

BEBERAPA waktu lalu, ada keluarga muda yang suaminya terpapar Covid-19. Dokter menyarankan isolasi mandiri.

Kabar bahwa bapak keluarga muda itu terpapar covid membuat cemas, takut dan bingung isterinya.

Bapak muda itu ingin isoman. Meminta istreinya untuk sementara waktu mengungsi ke rumah orangtuanya di lain kota bersama anaknya yang masih kecil.

“Kamu pergi ke rumah ibu bersama anak kita. Biar aku di isoman rumah sendiri,” kata bapak itu.

“Iya, aku bawa anak kita ke rumah ibu. Tetapi setelah itu, aku akan kembali ke sini menanimu. Kamu bisa di kamar atas dan saya bisa di kamar tamu,” jawab isterinya.

“Tidak baik dan sangat berbahaya, jika kita tetap satu rumah,” kata sang bapak.

“Lebih tidak baik lagi, jika dalam kondisi kamu sakit, aku meninggalkanmu. Kita bisa bersama di rumah ini, asal kita tidak saling bertemu, dan ikuti prokes dengan ketat,” jawab isterinya.

“Jangan nekat. Aku tidak apa-apa sendiri di rumah dan bisa mengurus keperluanku sendiri,” kata bapak muda.

“Justru kalau aku di rumah ini, aku bisa memperhatikan kebutuhanmu. Bukan hanya makanan tetapi juga mengurus obat serta kebutuhan yang lain,” jawab isterinya.

“Lagi pula ini sudah janji kita untuk bersama dalam untung dan malang, sehat atau sakit. Izinkan aku menghidupi janji perkawinan kita,” lanjutnya.

“Jika itu kemauanmu, sungguh terimakasih. Tetapi saya minta kamu ke dokter, pastikan supaya kamu tetap aman bersamaku, meski ada risiko,” sahut bapak muda itu.

Cinta yang tulus itu tidak perlu bukti. Karena semua yang dilakukan setiap saat dan setiap waktu sudah merupakan ungkapan cinta dan membuktikan keindahan cinta itu.

Cinta yang sejati itu ditandai keberanian berkorban dan mengambil risiko demi kebahagiaan dan keselamatan pasangannya.

Demikian juga, cinta Tuhan kepada kita, setiap hari, setiap saat, setiap waktu, selalu dicurahkan kepada kita.

Tuhan tidak pernah meminta bukti kepada kita dalam membalas cinta-Nya.

Cinta Tuhan itu tanpa syarat karena meski kita gagal menanggapi dan membalas cinta-Nya, Dia tetap mencintai kita.

Apakah aku masih membutuhkan bukti cinta Tuhan kepadaku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here