Sudah Berumah Tangga, Tapi Kesepian

0
4,272 views

Ironis memang bila kita sudah berumah tangga, tapi masih merasa kesepian. Parahnya, hal ini umum dialami banyak pasangan

Ria, sebutlah begitu namanya, adalah tipe wanita karier yang sibuk. Usianya 43 tahun, anak semata wayangnya sudah mulai kuliah tahun ini. Selain bekerja di sebuah perusahaan multinasional, ia juga masih melanjutkan kuliah untuk mendapatkan gelar yang lebih tinggi.

Jadi, waktunya sungguh padat. Pagi hari sebelum ke kantor dia menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Pulang kantor, kalau harus kuliah, berarti dia kuliah. Kalau tidak, itu berarti jadwal dia ke fitness center bersama suaminya.

Sepulang kuliah atau latihan, Ria menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Makan malam mereka sekitar pukul sepuluh. Setelah itu ia baru bisa santai, kalau tidak belajar, sebelum akhirnya tidur sekitar pukul 12 malam.

Pada akhir pekan, selain ke supermarket, Ria biasanya mengisi waktu dengan nonton bersama suami, membersihkan rumah serta kebun dibantu pembantu rumah tangga, dan merawat diri. Seminggu sekali dia biasanya juga berkumpul bersama teman-temannya, nongkrong di kafe sambil ngobrol.

Sibuk, aktif, dan padat, bukan? Namun, kepada sahabatnya, Ria sering mengeluh betapa dirinya merasa sangat kesepian. “Saya sering menangis sendiri. Dada ini rasanya sumpek dan sesak sekali, tanpa saya tahu apa penyebabnya. Kesibukan dan teman yang banyak tidak mampu menghilangkan perasaan kesepian itu,” ujar Ria, sambil terisak-isak saat berbicara melalui telepon kepada sahabatnya.

Punya Pasangan
Apa yang terjadi pada Ria merupakan gambaran yang sesuai dengan situasi Living Together Loneliness (LTL) sebagaimana dimaksudkan oleh DR. Dan Kiley dalam bukunya, Living Together Feeling Alone.

Pada umumnya situasi kesepian memang dilekatkan pada orang yang hidup sendiri, membujang, dan janda atau duda. Ini tidak keliru. Namun, doktor psikologi dari Inggris itu dalam penelitiannya menemukan bahwa sejak lebih dari 20 tahun belakangan ini orang mulai mengidap apa yang disebutnya LTL.

Kasus ini pada pria relatif agak sulit ditemukan karena umumnya pria cenderung tidak mudah mengemukakan atau merumuskan perasaannya. Artinya, belum tentu pria tidak mengalami kesepian. Namun, pada wanita, kasus LTL lebih mudah dijumpai.

“LTL adalah problem yang nyata,” ujar DR. Kiley. Ia memperkirakan seperempat penduduk dunia mengalaminya. Meski demikian, mereka yang mengalami LTL ini menurutnya tidak sungguh-sungguh sakit secara mental, juga bukan orang yang bodoh, asosial, mentalnya tidak beres, atau tidak mampu secara psikologis.

Sebaliknya, keadaan LTL menimpa orang-orang yang memiliki pasangan hidup, baik itu menikah secara resmi maupun hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Pada umumnya mereka adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi, memiliki karier, aktif di organisasi atau memiliki pergaulan sosial yang baik, dan dalam kehidupan sehari-hari memperlihatkan tingkat kompetensi yang baik.

Oleh karena itu, kalau orang seperti Ria lantas mengaku kesepian, reaksi spontan yang mendengarnya adalah, “Kok bisa? ‘Kan ada suami, anak, teman? Kurang apa lagi?” Salah-salah orang seperti Ria akan disangka kurang bisa bersyukur, aneh-aneh, mengada-ada, dan sejenisnya.

MM Nilam Widyarini M.Si
Dosen Psikologi Universitas Gunadharma Jakarta

Sumber : sehatnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here