Sukses: Antara Aksi dan Kontemplasi

0
1,356 views

KETIKA kemajuan teknologi semakin cepat, pada saat yang sama pula tuntutan pekerjaan dan juga dorongan untuk semakin menjadi produktif begitu memuncak dan seolah tidak pernah mengenal batas. Dewasa ini, orang sudah semakin terbiasa bekerja 12-14 jam sehari, dan di sisi lain banyak pasangan tidak punya waktu bertemu secara intim dan personal, anak dan orang tua semakin “terasing”, batas antara hidup profesional/pekerjaan dengan hidup personal semakin menjadi sesuatu yang tidak mungkin lagi, hidup menjadi kompulsif dan semakin banyak orang merasa kesepian dan menderita gangguan psikologis (stress, burn-out, manic-depressive, anxiety disorders).

Mengalami pengalaman rohani dan menemukan Tuhan di dalam segala, di tengah-tengah situasi yang demikian ini barangkali merupakan sesuatu yang tidak mudah untuk dialami dalam dunia yang sibuk dan terus bergerak ini. Barangkali juga menemukan Tuhan atau mengalami pengalaman rohani menjadi sesuatu yang bukan prioritas, karena karakteristiknya yang kontradiktif dengan gaya hidup masyarakat serba mengedepankan satu kata penting: CEPAT.

Cepat menjadi tolok ukur paling populer bagi masyarakat sekarang ini. Namun di sisi lain gaya hidup masyarakat yang serba cepat menimbulkan sesuatu yang problematik bagi mereka yang tinggal di dalamnya. Masyarakat yang hidup dalam kultur hidup dimana kecepatan menjadi tolok ukurnya cenderung menjadi pribadi yang manicManic berasal dari akar kata “mania”yang merupakan istilah psikologi yang menunjukkan absennya kecerdasan, atau merupakan “mood disorder” yang ditandai berbagai macam gejala seperti aktivitas motorik yang berlebihan, impulsif, obsesif dan juga pola berpikir dan berbicara yang tergesa-gesa. Di dalam pola hidup masyarakat yang demikian, kita memang bergerak cepat, menyelesaikan pekerjaan dengan tolok ukur kecepatan, meraih sukses dengan cepat dan menggapai prestasi dengan cepat pula. Namun ada kalanya hidup dalam suasana dan kultur yang serba cepat membuat diri kita tertinggal di belakang. Kita melupakan apa yang benar-benar berharga buat hidup kita secara esensial; kita melupakan nilai dan kebenaran yang penting dalam hidup kita.

Kita dikondisikan untuk meraih sukses dengan cara melakukan pekerjaan kita dengan cepat. Kita dikondisikan untuk mencari“shortcut” yang efektif. Kita dikondisikan untuk tidak tahan melihat tumpukan file atau dokumen yang segera perlu diselesaikan. Selesaikan dengan cepat! Jangan menyisakan pekerjaan hari ini! lembur kalau perlu! Cepat! Kita baru merasa nyaman bila kita menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Kecepatan ada kalanya menjadi sangat addictive.

Dalam masyarakat yang manic, kita terkondisikan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat bukan untuk menikmati waktu luang yang tersisa tetapi untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang masih bisa diselesaikan. Semakin banyak yang bisa diselesaikan dengan cepat, itulah ukuran sukses masyarakat manic dewasa ini. Sebagian dari kita meraih sukses dalam karir dengan cara yang demikian. Prestasi yang luar biasa ditunjukkan dengan kecepatan dan kuantitas hasil kerja, dan orang berlomba-lomba untuk meraih sukses dengan cara demikian.

Pola hidup dan etos kerja yang demikian tak jarang mengorbankan sisi lain dari hidup kita: relasi dengan orang yang kita cintai dan juga penghayatan nilai hidup dalam diri kita sendiri. Kesibukan dan aktivitas super cepat membuat kita semakin kurang memiliki kesempatan untuk bicara dari hati ke hati dengan orang yang kita cintai, semakin kurang memiliki kesempatan untuk berefleksi atas hidup kita. Komunikasi baik dengan diri kita dan orang yang kita cintai biasanya terlalaikan akibat kita “kecanduan” pola hidup dan kerja yang serba cepat. Tidak heran bila ada suami-istri yang lebih sering berkomunikasi via SMS daripada bicara dari hati ke hati dalam suasana yang hangat. Tidak heran bila dalam keluarga suasana canda tawa, hangatnya makan bersama, cerita bersama menjadi barang langka sekarang ini. Tidak heran bila percakapan kita lebih sering adalah percakapan via mobilephone yang berdurasi hanya sekitar 1-3 menit saja. Tidak heran bila jargon seperti“quality time” menjadi rasionalisasinya.

Cepat memang menjadi tolok ukur sukses, tetapi bukanlah tolok ukur yang mendasar. Apalah artinya meraih sukses dan mengerjakan sesuatunya dengan cepat tetapi kita mengabaikan diri dan nilai hidup kita jauh di belakang, terbengkalai dan tidak terperhatikan?

Sukses adalah soal kecepatan dan waktu untuk berefleksi. Sukses adalah soal kecepatan dan sekaligus kesabaran, soal aksi dan inspirasi, soal sekarang dan esok. Sukses tidak ada gunanya bila membuat kita menjadi pribadi yang manic (manic personality), yang melupakan nilai dan sesuatu yang sangat berharga secara esensial dalam hidup kita seperti nilai hidup, spiritualitas dan relasi dengan orang yang kita cintai.

Sukses adalah soal aksi dan kontemplasi. Masihkah kita mencari inspirasi lewat percakapan dengan diri kita? masihkah kita berefleksi tentang hidup kita? masihkah kita mencari inspirasi lewat doa-doa kita dan relasi kita dengan Tuhan? masihkah kita memberi waktu untuk berdoa? masihkah dan bisakah kita memberi waktu yang terbaik buat suami, istri, keluarga? masihkah kita berbicara dari hati ke hati dengan mereka? atau malah sebagian hidup kita sudah diwarnai pola hidup yang serba bergerak cepat, alias cepat adalah tanda sukses.

Situasi dan gaya hidup seperti sudah diurai di atas sungguh menantang kita untuk akhirnya memaknai “Finding God in All Things”, atau menemukan Tuhan di dalam segala sesuatu. Dimanakah dan bagaimanakah kita, masing-masing, anda dan saya menemukan dan memandang wajah Tuhan dalam hidup kita masing-masing?

Ini selalu menjadi pertanyaan yang layak kita renungkan.

AUGUSTINUS WIDYAPUTRANTO, Mahasiswa program S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Editor untuk Publikasi Ilmiah di sebuah Sekolah Bisnis di Jakarta

photo credit: insanely-insane.blogspot.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here