Suku Indian Sioux: Melangkah tak Pasti di Reservasi dan Habitus tak sehat (2)

0
1,579 views

Indian dan Suster Charles PalmSAYANG sekali, metode ini tidak dilanjutkan oleh para misionaris yang datang kemudian. Diskontinuitas itu kini membentuk habitus tak sehat di tengah umat. Tanpa persiapan apa pun para orangtua ingin agar kanak-kanak segera dibaptis. Setelah peristiwa sakramental itu kanak-kanak itu bertumbuh dalam keluarga alkoholik, broken home, atau  pengembara. Mereka harus mengalami disorientasi rohani pada usia belia.

Yang sedikit beruntung bersandar pada nenek mereka untuk bersama-sama ke gereja.  Para kaum perempuan, yaitu generasi tua,  masih menyadari betapa penting mendidik anak-anak yang adalah masa depan klan dan gereja. Kecuali itu, karena pemahaman yang sangat minim baik tentang spiritualitas Indian maupun ajaran Gereja, mereka tak melihat kudusnya suatu perkawinan dan pentingnya menikah secara resmi.

Maka di dalam reservasi sangat sulit menemukan keluarga sebagai cell Gereja dan bersifat sakramental. Habitus tak sehat lainnya ialah konflik keluarga sekitar kematian. Tak jarang mereka menghabiskan waktu berhari-hari untuk menentukan tata upacara pemakaman entah secara katolik atau non-katolik.

Melihat kondisi demikian beberapa gereja di reservasi mengambil langkah-langkah konkret:

  • Fokus utama adalah bagaimana meringankan mereka dengan menyediakan pakaian murah, sumbangan darurat terbatas – sekedar cukup untuk membeli roti dan susu untuk makan satu hari, misalnya.
  • Selain langkah-langkah seperti diatas, beberapa gereja katholik di reservasi mengakomodir mereka yang ingin menikah secara resmi di gereja. Sedangkan, kepada anak-anak dan remaja beberapa gereja katoolik memberikan pembinaan dan pelajaran agama.
  • Untuk tiga paroki di Keuskupan Sioux Falls, program ini ditangani oleh Sr. Charles Palm, OSB.
  • Pelayanan yang sama di tiga paroki di Keuskupan Rapid City ditangani oleh P. C. Hendrick, SCJ, Sr. Marie Pauline Demek, SCC, dan Sr. Anna Theresa Tran, SCC.

Secara umum kaum laki-laki Indian-Sioux berdialek Lakota dan Dakota  tidak aktif dalam kehidupan mengereja. Di satu pihak, mereka bangga dibaptis secara katolik dan sadar sebagai anggota gereja katolik.  Dalam kehidupan sehari-hari mengaku katolik, tetapi bersikap apatis terhadap aneka kegiatan dan ajaran Gereja.

Di lain pihak, mereka ingin menghayati kembali spiritualitas Indian. Namun mereka tak memahami lagi bahasa, simbol, dan makna pelbagai upacara adat. Generasi ini dapat digambarkan sebagai satu kaki ada di perahu gereja dan kaki yang lain berada di perahu Indian. (Selesai)

Photo credit: Romo Vincent Suparman SCJ

Artikel terkait:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here