“Sunyi Menenangkan Hati” ; Berpastoral di Pedalaman Kokonao, Papua (14)

0
2,437 views

Pastoran Potowaiburu terletak di tengah hutan. Halaman pastoran di penuhi dengan pohon-pohon besar. Pohon-pohon  yang berdiamenter lebih dari satu meter, dan tidak dapat dipeluk hanya oleh dua orang. Setidaknya membutuhkan tiga orang untuk melingkarkan tangan kita agar dapat mengeluk pohon besar.

Binatang liar seperti ular, babi hutan, kuskus, Soa-soa, dan juga rusa sering kita jumpai di sekitar pastoran. Kalau kita menanam jagung, singkong atau pepaya maka mesti siap berebut dengan binatang hutan yang sering kali menyatroni pastoran dan memakan buahnya. Tak heran bila untuk mendapat pepaya yang matang amat sulit. Kecuali kalau kita berinisiatif untuk mengambilnya lebih awal walau tidak terlalu tua.

Di belakang pastoran ada tiga sumber air tawar (mata air) gunung yang setiap saat mengalirkan airnya dan menyatu menjadi sungai yang besar dan akhirnya bermuara di laut arafura. Pertemuan tiga mata air ini membentuk genangan air yang luas dan menjadi kolam renang atau semacam tempat pemandian pribadi. Hanya ada di pastoran Potowaiburulah ada kolam renang pribadi.

Situasi di pastoran amat sepi karena letaknya di tengah hutan. Bisa jadi dalam satu minggu kita tidak bertemu orang lain kalau tidak ada masyarakat yang datang untuk belanja. Tapi untunglah setiap pagi dan sore kita masih mendapat hiburan dari burung-burung yang bertebangan di atas pastoran.

Pada pagi hari mereka bernyanyi di pohon-pohon besar di sekitar pastoran untuk menyambut datangnya sang surya. Sementara kalau sore hari banyak burung yang melintas di atas pastoran untuk kembali ke sarang mereka.

Bagi para imam atau siapa saja yang suka keheningan atau berpetualang di tengah hutan di sinilah tempatnya. Di Potowaiburu kita tidak perlu mencari tempat yang tenang untuk hening dan bermeditasi. Karena di tempat ini memang sunyi, yang ada hanyalah suara binatang. Setiap saat kita dapat masuk ke dalam suasana meditasi. Asal saja yang terjadi tidak sebaliknya yaitu  merasakan kesepian.

Bagi yang suka akan pemandangan laut lepas dan berekeasi di pantai di sinilah tempatnya. Di sini  banyak pantai yang masih perawan dengan hamparan pasir yang luas dan pantai yang landai. Bagi yang suka memancing di sini tempatnya, karena banyak sungai besar dan kecil yang jernih yang berisi ikan yang berkeriapan di dasar sungai. Bagi yang suka masuk hutan dan berburu burung, babi atau rusa silakan datang dan bagi yang suka naik gunung di sini juga menjadi tempat yang ideal.

Refleksi :
Suasana yang hening tidak hanya terbantu oleh tempat yang memang sepi, tetapi juga pikiran dan hati yang hening. Bisa saja orang yang berada di tempat keramaian tatapi merasakan kesepian. Atau sebaliknya orang yang berada di tempat yang sepi tapi merasa “ramai” dengan mencari “keramaian” sebagai  kompensasi. Menghidupkan radio tape, atau radio secara keras atau melakukan berbagai kesibukan yang tidak perlu sebagai pengalihan kesepian yang dirasakan. Pikirannya tidak tenang, ia selalu sibuk dengan berbagai hal  yang kerap kali hanyalah pelarian dari rasa sepinya.

Orang takut untuk masuk ke keheningan karena dalam keheningan ia mengetahui isi hatinya yang terdalam. Ia akan merasakan kegelisahan, atau kekhwatiran akan masa lalu atau kesalahan atau dosa yang pernah ia buat. Orang bisa juga taku akan masa depan dan akan apa yang terjadi kelak. Orang takut untuk hening bisa juga karena menganggap keheningan itu tidak ada gunanya dan hanya memboroskan waktu saja.

Dewasa ini, orang sulit untuk hening, selalu ada saja yang dilakukan. Waktu adalah uang. Jadi untuk apa menganggur tanpa aktifitas, itu membuang waktu saja. Bisa juga orang  tidak melakukan sesuatupun, namun pikiran kita berkeliaran kemana-mana seperti kera yang bergelantungan dari satu dahan ke dahan yang lain, tidak bisa tenang. Kita kerap kali sibuk dengan berbagai hal yang tidak perlu. Kita mestinya sesekali masuk ke keheningan, sebab dalam keheningan itu Allah hadir.

Tuhan Yesus selalu mencari tempat yang hening atau naik ke puncak gunung untuk berdoa. Gunung sebagai lambng tampat yang sunyi mencari kesampatan berjumpa dengan Allah. Orang yang sibuk jelas tidak mudah untuk memperoleh keheningan. Karena ia memikirkan berbagai hal yang  berkenaan dengan hidupnya, ia kurang memiliki kepercayaan dan selalu menginginkan sesuatu yang lebih dari orang di sekitarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here