Susahnya Mendidik Seminaris Calon Imam, tapi Layanilah Tuhan dengan Sukacita

0
248 views
Ilustrasi: Prosesi Upacara Kemerdekaan RI di halaman depan Seminari Menengah Santo Laurensius Ketapang, Kalbar.

RENDAH hati adalah anak tangga menuju ke surga. Demikian kata Santo Augustinus. Tapi ingatlah. Rendah hati beda jauh dengan rendah diri.

Rendah hati mengacu pada kesediaan dan kerelaan menerima dan melakukan pekerjaan biasa. Meski dia berstatus senior atau keahlian yang lebih tinggi. Sedangkan, rendah diri mengacu pada sikap malu yang berlebihan atau minder.

Tidak semua pribadi bersedia melakukan hal biasa apa lagi yang sudah menduduki jabatan yang penting.

Kerelaan untuk bersabar

Romo Busyet sebagai Rektor Seminari Menengah Santo Laurensius Keuskupan Ketapang menjumpai banyak seminaris dengan tipikal karakter yang khas dan berbeda-beda. Butuh hati seluas samudera untuk mendampingi dan membimbing seminaris.

Jumlah seminarisnya saat ini ada 30. Mereka datang dari berbagai daerah pedalaman Ketapang, Kalimantan Barat.

Susahnya mendidik seminaris

Pengalaman menarik bagi Romo Busyet, saat menjumpai seminaris yang suka pergi ke bioskop tanpa izin dan suka mengambil barang milik teman-temannya. Sikap yang tidak bisa dibiarkan atau hanya diingatkan.

Pendidikan kedisiplinan tidak hanya dalam hal jadwal kegiatan saja. Tetapi dalam hal nilai-nilai hidup juga. Karena dari hal-hal kecil dan sederhana yang baik dan dibiasakan, memiliki pengaruh pada kehidupan selanjutnya.

Dan seminari ini bukan tempat asrama biasa. Peserta didik akan menjadi imam kelak. Bila sikap baik tidak didisiplinkan, bagaimana menjadi gembala yang berkualitas?

Rektor Seminari Menengah Santo Laurensius Ketapang: Romo Busyet Pr.

Mengeluarkan bukan solusi terbaik

RomoBusyet sempat memiliki niat untuk mengeluarkan seminaris tersebut. Dengan memberikan informasi dan konsultasi kepada uskup, Romo Busyet berharap mendapat persetujuan.

“Mgr. Pius, ini ada anak seminaris yang blaa… blaa…. blaa… blaa. Mau saya keluarkan dari seminari,” kata Romo Busyet.

“Apakah tidak ada cara lain selain mengeluarkan? Apakah dengan mengeluarkan anak dari seminari itu menjamin hidupnya menjadi lebih baik?,” kata Mgr.

Lagi-lagi jawaban Monsinyur di luar dugaan Romo Busyet. Dan kedua kalinya, perut Romo Busyet mules-mules.

“Tapi itu mengganggu ritme pendampingan di seminari,” Romo mencoba menguatkan alasannya.

Tanggapan Monsinyur lagi-lagi di luar dugaan Romo.

“Justru itu tugas staf seminari. Membuat anak semakin mensyukuri hidupnya.”

Romo mengundurkan diri dan kembali ke seminari. Dalam perjalanan dari keuskupan ke seminari, Romo merenungkan perbincangannya dengan uskup.

Memikirkan bagaimana mungkin sebuah ritme hidup seminari berjalan dengan adanya karakter seminaris yang demikian?

Memikirkan hal ini hingga perutnya mules.

Menggali sesuatu yang lebih dalam

Sebuah peristiwa yang terjadi melibatkan pribadi-pribadi yang memiliki karakter dan latar belakang masing-masing. Setiap peristiwa membawa efek domino baik bagi perorangan mau pun hal-hal yang lainnya.

Pengalaman menarik menjadi rektor seminari memberi makna tersendiri bagi Romo Busyet. Karena begitu banyak hal terjadi di luar dugaan.

Mengkondisikan Romo untuk menggali lebih dalam suatu peristiwa, memperhatikan pertimbangan dari peristiwa dengan sungguh dan senantiasa membawanya dalam doa.

Memproses seminaris identik memproses diri   

Pola pendekatan personal dipilih Romo Busyet untuk mendampingi setiap seminaris. Dengan pertimbangan bahwa masing-masing pribadi mempunyai keunikan dan kekhasan masing-masing. Tidak bisa disamakan dan sikap menghargai individu diperlukan

Karena pendekatan personal, maka Romo dituntut mengenal setiap seminaris. Mengenali sifatnya yang unik. Mengenal bakat mereka masing-masing. Agar seminaris dibantu dan terbantu mengembangkan kepribadian mereka.

Pendekatan personal dan pengenalan pribadi dapat dilakukan bila yang bersangkutan dapat mengenal diri sendiri dengan baik. Pengenalan diri sendiri memiliki karakter yang unik dan berbeda dengan yang lain begitu juga sebaliknya.

Pengembangan konsep Johari Window oleh Joseph Luft dan Harrington, yakni teknik pengenalan diri dan bagaimana membangun relasi dengan orang lain.

Faktor pendukung dan penghambat

Faktor pendukung bagi pengutusan Romo ialah Mgr. Pius sebagai uskup pemilik keuskupan mendukung dan mempercayai Romo Busyet untuk melaksanakan tugas sebagai rektor. Para imam lainnya dan umat Keuskupan Ketapang juga mendukung tugas Romo Busyet.

Sedangkan faktor penghambat, ada beberapa orang tua menyuruh anak-anak mereka masuk seminari karena orang tua tidak sanggup mendampingi anak-anak mereka karena malas, susah diatur, nakal. Pandangan seminari seperti asrama biasa seringkali menjadi tempat mencari nyaman.

Harapan

Peristiwa selama perutusan boleh beragam tetapi harapan tak boleh pudar. Karena harapan bisa menjadi pelita bagi langkah perjalanan kala situasi kurang memberi kenyamanan. Harapan diperlukan agar kaki tak berhenti pada mazmur keluhan.

Romo Busyet berharap dapat semakin sehati seperasaan dengan Keuskupan Ketapang sehingga bisa menyiapkan calon imam yang sesuia dengan kontekstual Keuskupan Ketapang.

Selaras dengan motto tahbisannya, “Layanilah Tuhan dengan sukacita” Seminari Tinggi Kentungan 2007.

Kewajiban kita

Kewajiban kita sebagai umat Katolik mendoakan para uskup dan para imam tanpa henti agar para uskup dan para imam tetap kuat, tabah, setia, sehat jiwa dan raga menjalankan tugas sebagai gembala.

Melalui tangan merekalah, umat mendapat Sakramen Baptis, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perkawinan, Sakramen Penguatan dan sakramen yang lain.

Tanpa mereka, umat tak bisa menyambut komuni kudus, meski dalam bentuk komuni batin sekali pun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here