Suster OSA dalam Tantangan Zaman: Meretas Asa Bidang Kesehatan Ibu Hamil dan Anak melalui BKIA dan RSB “Fatima” (4)

0
202 views
Suster OSA merawat bayi-bayi di BKIA-RSB "Fatima" di Ketapang, Kalbar. (Dok OSA/Repro MH)

ADA dua hal penting hingga akhirnya karya kerasulan para suster OSA di bidang layanan kesehatan ibu-ibu hamil dan bayinya itu bisa diretas di Ketapang di tahun 1962.

Kedua hal esensial itu adalah ijazah bidang layanan kebidanan dan lainnya yang juga tidak kalah penting adalah “sejarah” dedikasi Sr. Norbertha OSA, Suster Bidan Bersepeda.

Dua hal itulah yang kiranya telah mendatangkan “keberuntungan” historis sehingga pada akhirnya para suster biarawati St. Augustinessen itu bisa meretas sebuah karya baru yakni pertama-tama BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak) dan berikutnya Rumah Sakit Bersalin (RSB) Fatima.

Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dan Rumah Sakit Bersalin (RSB) “Fatima” –dua bidang karya kesehatan rintisan para suster St. Augustinessen (OSA) di Ketapang sejak tahun 1962. (Dok OSA/Repro MH)

Nama bermakna

Sengaja memilih nama “Fatima”, demikian keterangan Sr. Norbertha OSA, karena nama itu sangat “bergema” bagi segenap umat Katolik sekaligus umat Muslim.

“Begitu kita mendengar kata ‘Fatima’, maka ingatan segenap umat Katolik akan mengarah pada peristiwa di tahun 1916 ketika terjadi penampakan Bunda Maria kepada tiga orang anak di kota kecil bernama Fatima di Portugal. Mereka adalah Lucia dos Santos dan kedua saudara sepupunya yang bernama Francisco dan Jacinta Marto,” kata Sr. Norbertha OSA.

Suster Bidan Bersepeda Keliling Ketapang: Sr. Norbertha OSA.

Nama “Fatima” itu juga sangat bermakna bagi segenap umat Muslim, karena dia adalah anak kandung Nabi Muhammad.

Bahwa akhirnya RSB baru di Ketapang itu akhirnya resmi  mengambil nama “Fatima”, maka hal itu terjadi karena nama itu sungguh berarti bagi para suster OSA dan masyarakat lokal di Ketapang.

Historia domus

Perjalanan sejarah berdirinya BKIA dan RSB Fatima di Kota Ketapang ini sungguh tak bisa terlepas dari “historia domus” (sejarah tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di lingkungan internal susteran) yang terjadi di Kongregasi Suster dari Kerahiman Ilahi (OSA) kurun waktu tahun 1961-1962.

Berikut ini adalah catatan berisi rentetan historia domus para suster St. Augustinessen dalam kurun sejarah yang penting selama dua tahun tersebut.

  • 28 Agustus 1961: Kaul kekal tiga suster pribumi pertama yakni Sr. Theresia OSA, Sr. Agustine OSA, dan Sr. Agnes OSA. Semula ada empat suster pribumi generasi pertama, namun hanya tiga yang akhirnya mengucapkan kaul kekal sebagai suster St. Augustinessen.
  • Pada hari yang sama, dua suster pribumi yakni Sr. Nicolaus Sina OSA dan Sr. Frederika OSA mengucapkan kaul sementara sebagai suster St. Augustinessen.
  • Novisiat OSA Ketapang menerima dua orang Novis baru –semuanya anak-anak pribumi- yakni Sr. Lidwina OSA dan Sr. Margaretha OSA.
  • Sementara, Sr. Hilaria dan Sr. Vincentia melakoni awal hidup bakti mereka sebagai calon religius dalam kapasitasnya sebagai Postulan.
Tiga suster OSA pribumi generasi pertama yang mengucapkan kaul kekalnya di tahun 1962. Mereka adalah Sr.Theresia OSA, Sr. Agustine OSA, dan Sr. Agnes OSA. (Dok OSA/Repro MH)
Atas: Sr. Frederika bersama Sr. Clementina OSA. Bawah: Sr. Theresia bersama Sr. Clementina OSA yang menjadi Magistra (Pemimpin Novis OSA) di Ketapang sejak tahun 1955. (Dok OSA/Repro MH)
Suster-suster OSA pribumi generasi awal berikutnya yang menjadi Novis (atas) dan lainnya menjadi Postulan (Bawah) – Dok. OSA/Repro MH

Proses kemandirian karya berupa BKIA dan RSB “Fatima” kiranya berjalan  seiring dengan berita gembira bahwa Tahta Suci Vatikan di tahun yang sama juga telah berkenan menaikkan “status gerejani” Praefektur Apostolik Ketapang menjadi Keuskupan Ketapang.

Dan historia domus itu terjadi dengan kisah sebagai berikut:

  • 3 Januari 1961: Vatikan menyetujui berdirinya Keuskupan Ketapang yang sebelumnya masih berstatus Praefektur Apostolik Ketapang. Dengan demikian, Pastor Gabriel Wilhemus Sillekens CP juga diangkat menjadi Administrator Apostolik Ketapang.
  • 28 April 1962: Vatikan resmi menunjuk Pastor Gabriel Wilhemus Sillekens CP sebagai Uskup Terpilih Keuskupan Ketapang.
  • 11 Juni 1962: Pemberkatan Gedung Gereja Katedral Santa Gemma Galgani, pelindung misi Ketapang.
  • 17 Juni 1962:  Mgr. Gabriel Wilhemus Sillekens CP menerima Tahbisan Episkopal di Gereja Katedral Ketapang. Bertindak sebagai Uskup Penahbis Utama adalah Mgr. Adrianus Djajasepoetra SJ (Keuskupan Agung Jakarta) bersama dua Uskup Penahbis lainnya yakni Mgr. Herculanus Joannes Maria van der Burgt OFMCap (Keuskupan Agung Pontianak) dan Mgr. Lambertus  van Kessel SMM (Keuskupan Sintang).
Gereja St. Gemma Galgani Katedral Ketapang 1962 yang sejak tahun 2017 kini telah berubah fungsinya menjadi gedung pertemuan. Gereja Katedral ini diberkati tanggal 11 Juni 1962. (Dok CP/Repro MH)
Mgr. Gabriel Wilhemus Sillekens CP menjadi Uskup pertama Keuskupan Ketapang (bawah) dan menerima tahbisan episkopalnya dari tangan Mgr. Adrianus Djajasepoetra SJ (Uskup Agung KAJ-atas) — Repro MH

Dampak positif

Resmi berdirinya Keuskupan Ketapang mulai awal Januari 1961 itu juga langsung “memantik” semangat dan harapan para suster St. Augustinessen untuk mulai memikirkan perlunya  “kemandirian” karya.

Maka, pertama-tama dirintislah berdirinya BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak) dan berikutnya adalah RSB “Fatima”.

Tanggal 2 September 1962 resmi mulai berdiri RSB “Fatima” yang letaknya bersebelahan dengan Biara OSA di Jl Pal 2, Ketapang.

“Kami para suster berembug bersama untuk menyetujui projek pembangunan Rumah Sakit Bersalin itu,” papar Sr. Norbertha OSA dalam sebuah  wawancara di Negeri Belanda.

Pelayanan bidang kesehatan ibu-ibu hamil dan bayinya di BKIA-RSB “Fatima” di Jl. Pal 2, Ketapang, Kalbar. (Dok OSA/Repro MH)

Tapi, begitu sampai pada giliran harus menemukan nama identitas lembaga baru itu, maka para suster OSA lalu berpaling kepada Pastor Lumanauw Pr.

Kepada imam diosesan Keuskupan Ketapang ini, para suster OSA minta tolong agar dibantu mencarikan nama yang baik, indah, dan tepat untuk lembaga baru yang bergerak di layanan kesehatan ibu dan anak tersebut.

Singkat cerita, seperti yang  telah terungkap di awal kisah ini, sebuah mufakat berhasil diretas oleh Pastor Lumanauw Pr bersama para suster St. Augustinessen. Nama “Fatima” akhirnya dipilih sebagai identitas resmi lembaga RSB.

RSB Fatima dan Suster OSA bersama anak-anak dan bayi. (Dok OSA/Repro MH)
Penampakan depan banguan Rumah Sakit Bersalin “Fatima” di Jl Pal 2, Kota Ketapang, awal-awal berdirinya di tahun 1962. (Dok OSA/Repro MH)

Tentu muncul pertanyaan seperti berikut ini. Mengapa para suster OSA itu sampai sedemikian “percayanya” kepada Pastor Lumanauw Pr?

Itu karena pada tanggal 7 Mei 1962, Pastor Lumanauw sengaja datang ke Pontianak guna menemui Gubernur Kalbar hingga akhirnya izin pendirian RSB itu pun berhasil dia bawa pulang ke Ketapang pada tanggal 19 Mei 1962.

“Hadiah” berupa pemberian izin operasional itulah yang kemudian menjadikan para suster OSA lalu berkonsultasi lagi dengan Pastor Lumanauw Pr perihal nama identitas bagi rumah sakit bersalin yang masih super grès itu. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here