
MISI pada masa sekarang tentunya berbeda pada zaman dahulu.
Kongregasi SVD menekankan misi zaman sekarang adalah bagaimana para imam atau biarawan yang diutus bisa menjadi jembatan untuk perbedaan budaya, generasi, karakter manusia, kondisi ekonomi dan pelbagai latar belakang lainnya.
Bermisi berarti secara umum menjadi jalan untuk hubungan lebih manusiawi dan harmonis antar pribadi atau kelompok yang berbeda; bahkan juga hubungan antara kita dengan lingkungan hidup.

Tolok ukur
Jadi tolok ukurnya yang paling sederhana dari sudut pandang Kongregasi SVD untuk zaman sekarang, di mana pun adalah hubungan dan komunikasi yang baik dan pro kelestarian lingkungan di dalam komunitas gereja, sekolah, dan sebagainya.
Hal ini yang di imani oleh Romo Vincentius Raditya Kurniadi SVD, imam misionaris Indonesia di Jepang. Salah satunya berjuang menjadi saksi kemajemukan yang memperkaya dan menyelamatkan, ketika diberi kepercayaan bertugas di Jepang oleh Kongregasi SVD.
Sebelumnya, ia terlebih dahulu mengikrarkan kaul kekal sebagai imam religius SVD. Terjadi saat masih ada di masa probasi -setelah pulang dari praktik pastoral- pada tahun keenam kuliah seminari tinggi. Kaul kekal biasanya terjadi di tahun ketujuh. Tahbisan biasanya pada tahun kedelapan.

Memilih tiga negara sebagai tujuan misi
Biara misionaris SVD (Societas Verbi Divini atau Serikat Sabda Allah) biasanya membuat pilihan bersifat resiprokal antara yang akan berkaul kekal dengan dewan generalat SVD di Roma. Kepada mereka diminta untuk memilih tiga negara tujuan misi yang diminati. Dengan menulis secara singkat dan jelas alasan mengapa mau bermisi ke negara-negara tersebut.
Dari tiga pilihan tersebut, dewan generalat nantinya memutuskan salah satu untuk negara yang menjadi tujuan misi. Aplikasi seperti ini merupakan salah satu ciri khas Kongregasi SVD.
Sebelum berangkat ke Jepang, persiapan Romo Raditya tidak banyak. Hanya mengurus visa dan sedikit belajar sendiri bahasa Jepang. Setelah tiba di Jepang, ia baru belajar langsung bahasa dan budaya selama dua tahun. Itu pun belum akan menjadikannya ahli, karena bahasa Jepang tergolong sulit.
Waktu dua tahun itu dirasa hanya bisa menjadikannya berbahasa seperti anak-anak sekolah dasar di Jepang. Meskipun itu cukup untuk penggunaan sehari-hari, untuk meningkatkan kemampuan yang lebih dari itu, diperlukan ketelatenan dan kerendahan hati dalam jangka waktu yang lama.
Di Jepang ,Romo Raditya tinggal di Kota Tokyo; tepatnya di Paroki Roh Kudus Kichijoji yang dikelola oleh Kongregasi SVD. Paroki di Kichijoji berdiri tahun 1949 berkat jasa para misionaris SVD asal Jerman dan umat lokal.
Studi di Sophia University Tokyo
Hanya saja, Romo Raditya tidak ditugaskan untuk paroki, tetapi untuk studi lanjut doktoral di bidang Filsafat di Universitas Sophia. Ditempuh untuk nantinya bisa menjadi tenaga pengajar di Universitas Nanzan di Nagoya di mana sebagian anggota Kongregasi SVD Provinsi Jepang berkarya.

Di Jepang kebanyakan anggota Kongregasi SVD berkarya di bidang pendidikan. Mulai dari Taman Kanak Kanak sampai Perguruan Tinggi dan paroki-paroki. Salah satunya di Universitas Nanzan yang kepemilikannya di bawah korporasi antara Kongregasi SVD dan beberapa perusahaan swasta.
Selain studi, Romo Raditya kadang diminta untuk melayani misa di komunitas-komunitas Keluarga Katolik Indonesia di Tokyo dan Yokohama, ketika romo-romo lain dari Indonesia yang biasa bertugas berhalangan. Di Tokyo ada beberapa Romo Indonesia lain, tapi bukan dari Kongregasi SVD.
Paroki Kichijoji
Di Paroki Kichijoji ada juga beragam kelompok kategorial hampir sama seperti di Indonesia dengan jumlah umat kurang lebih sejumlah 3.000 jiwa, meskipun tidak semua aktif dalam kegiatan menggereja. Jumlah itu termasuk banyak untuk ukuran Gereja di Jepang.
Di kota-kota kecil ada paroki yang jumlah umatnya kurang dari 30 jiwa. Salah satu yang tidak ada di Jepang adalah kegiatan KBG (Komunitas Basis Gerejani) – khasnya Gereja Katolik di Indonesia.
Ada batasan-batasan wilayah tetapi tidak ada pertemuan-pertemuan kecil di lingkungan atau sektor seperti di Indonesia. Semua pertemuan kategorial dan wilayah terpusat di paroki.
Secara umum kondisi masyarakat dan lingkungan di Tokyo lebih banyak generasi produktif dan pelajar, seperti kota-kota besar di dunia. Kebanyakan mereka tinggal di Tokyo untuk mencari nafkah atau belajar di universitas-universitas kenamaan.
Biaya hidup tinggi, kebanyakan pekerja kantoran dan anak-anak muda, yang selain belajar juga bekerja sambilan di toko-toko, restoran-restoran dan sebagainya.
Tokyo lebih ramai dan padat daripada Jakarta, meskipun lebih bersih kualitas udara dan seluruh ruang-ruang publiknya, aman serta tidak macet.
Sistem asuransi kesehatan dan pensiun yang baik
Tapi yang paling menjadikan negara ini maju salah satunya, misalnya adalah sistem asuransi kesehatan dan pensiunnya yang begitu terstruktur dan jelas. Pemerintah Jepang begitu serius untuk menjamin pelayanan orang sakit, orang tua dan mereka yang membutuhkan bantuan sosial.
Misalnya, kalau pergi entah ke dokter gigi, internis, bedah, atau hanya untuk cek kesehatan di mana pun di Jepang, asuransi kesehatan yang diwajibkan untuk seluruh orang yang tinggal di Jepang.
Asuransi tersebut akan memfasilitasi setiap orang sehingga mereka hanya akan membayar 30% dari total tagihan baik di rumah sakit, klinik, atau pun bahkan ketika membeli resep dokter di apotik.
Semua begitu efektif dan efisien tanpa proses administrasi yang berbelit.
Saat ini, jumlah anggota Kongregasi SVD asal Indonesia sekitar 10 orang dari 130-an total anggota Kongregasi SVD Provinsi Jepang yang berasal dari belasan negara dari lima benua.
.







































