Tahbisan Lima Imam di Nyarumkop, Kalbar: Imam dalam Kilasan Berita di Media massa (2)

0
142 views
Tahbisan Lima Imam di Nyarumkop, Kalbar: Imam dalam kilasan berita di media massa (Samuel Bjp)

MASIH hangat dalam ingatan bahkan isu panas tentang kebobrokan imam tidaklah sedikit pernah muncul sebagai berita di dunia media massa.

Dalam kesempatan itu pula, Uskup Agustinus menekankan untuk berhati-hati menggunakan media sosial. Apalagi mereka adalah kaum berjubah yang seharusnya menjadi teladan bagi umat.

“Berkali-kali saya katakan, kita adalah saudara dalam hal ini (para imam). Oleh karena itu, kita harus saling mengingatkan.

Kaum awam juga wajib mengingatkan imam dari sifat, sikap dan sebagainya dan terutama bijak-bijaklah untuk menggunakan media massa,” kata Uskup Agustinus.

Prosesi penerimaan Sakramen Imamat dan tahbisan lima imam baru dari tiga “kelompok” berbeda: 2 orang imam diosesan KAP, 2 orang imam CSE, dan satu imam MSA. (Samuel Bjp)

Bijaklah main medsos

Uskup Agustinus mengharapkan agar semuanya berhati-hati menggunakan media sosial. Apalagi baru-baru ini viral tentang kecacatan imam lewat media massa.

Uskup Agustinus menggarisbawahi, jika ada perilaku buruk saudara imam hendaknya ditegur, namun tetap menegur dengan cara yang lembut.

“Selain itu, untuk masalah pribadi,” kata Uskup Agus, “kita tidak ada hak atas masalah pribadi orang. Jangan sampai, karena hal ini isu miring terus digoreng. Itulah bahayanya medsos.”

“Kalau saudaramu buruk, maka selesaikanlah tetap dalam tembok persaudaraan,” tutur Uskup Agustinus.

Imam harus selalu rendah hati dan minta maaf kalau berbuat salah. Sebelum menerima Sakramen Imamat, para diakon calon imam selalu menelungkup di depan altar minta doa restu dan rahmat dari Tuhan. (Samuel Bjp)

Imam harus belajar dari kesalahan

Inilah tantangan yang dihadapi oleh imam, mau atau tidak, kenyataannya memang begitu. Setidaknya itulah gambaran yang Uskup Agustinus ungkapkan di dalam homilinya di hari tahbisan lima imam baru di Nyarumkop, Singkawang, Kalbar.

Uskup Agustinus mengakui bahwa tantangan hidup menjadi imam saat ini berat. Karena awam selalu menuntut imam agar selalu sempurna; seolah orang yang tanpa cacat.

“Padahal aku bilang, pembantu Yesus pun bukanlah orang yang sempurna. Petrus yang hebat pun ketika dalam keadaan terdesak tidak mengakui bahwa Ia pengikut Yesus. Saya ingatkan, kita ini orang biasa,” kata Uskup Agustinus.

Ketika manusia menyadari dirinya orang biasa, Uskup Agus katakan haruslah rendah hati. Misalnya jika imam mau belajar untuk rendah hati saat ada kesalahan, maka haruslah diakui dan segera minta maaf dan kembali memperbaiki diri.

“Tolong nasihat saya selalu diingat,” tegas Uskup Agustinus kepada lima diakon calon imam.

Dalam homilinya Uskup Agustinus juga sedikit bercanda saat menjadi imam, karena sudah tambah ganteng. Bisa saja tambah ganteng, karena sekarang sudah punya mobil, motor, rumah dan sebagainya.

“Itu adalah tantangan dan pasti selalu ada. Tetapi kalau kita rendah hati, hal itu pasti bisa diatasi,” tambahnya.

Prosesi penerimaan Sakramen Imamat dan tahbisan diakon menjadi imam baru. (Samuel Bjp)
Prosesi penerimaan Sakramen Imamat dan tahbisan diakon menjadi imam baru. (Samuel Bjp

Semangat berkurban

Selanjutnya, Uskup Agustinus menekankan pada semua imam yang hadir untuk memiliki semangat berkurban. Memanggul salib Yesus dan itu sudah wajar kalau Yesus saja memanggul salib; bahkan sampai mati apalagi umatnya.

“Jadi terhadap Yesus, kita ini ‘kucing kurap’. Enggak usah sombong deh,” kata Uskup Agustinus dengan senyuman dan sedikit sindiran pedas.

Ketika melihat Yesus sebagai contoh, Dia yang memanggul salib, “Karena Yesus yang memanggil saya, maka dengan sendirinya Tuhan akan membantu kita,” tambah Uskup Agus. (Selesai)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here