Tahun 2021: Strategi Inflection Year

0
59 views
Ilustrasi - Tahun Baru 2022 (Ist)


BANGUN pagi beberapa hari lalu, saya terkejut. Ternyata hari itu sudah tanggal 31 Desember 2021. Besok tanggal 1 Januari, hari pertama tahun 2022.

Tahun baru sudah tiba lagi.

Lantas di mana istimewanya?.

Saya mulai merenung. Mencari celah, di mana spesialnya tanggal 31 Desember?

Tak ada, tak juga ketemu.

Hari dan malam ini, sama persis dengan kemarin. Juga dengan hari-hari di minggu lalu, atau di bulan-bulan lalu, atau di tahun-tahun lalu.

Lantas mengapa gegap-gempita dan banyak acara?

Mungkin gara-gara masyarakat dunia sepakat membagi waktu menjadi abad, tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit dan detik.

Kesepakatan administratif soal waktu membawa konsekuensi perilaku.

Biar sajalah, kan tidak mengganggu, lebih banyak menghibur. Tak apa, meski banyak orang yang terjebak eforia malam tahun baru. Dan saya salah satunya.

Namun, 2021 pantas diberi bingkai khusus. Apa itu?.

Tiba-tiba saya menemukan kalimat: “Strategic Inflection Year” (SIY). Nampaknya pas untuk disematkan menjadi atribut 2021.

Yang mengenalkannya adalah Andrew Grove (1936-2016), Chairman dan CEO Intel Corporation.

Grove menulis dalam bukunya Only The Paranoid Survive (1988). Saat itu perusahaan yang dipimpinnya berada dalam titik nadir, yang nyaris masuk ke gerbang kebrangkutan.

Aslinya adalah “Strategic Inflection Point” (SIP). Titik saat perubahan mendasar yang strategis harus dilakukan karena organisasi terjebak dalam dunia yang kompetitif yang sangat ketat.

Bila perubahan drastis dan masif (dan tentunya strategis) dilakukan, ia akan menjadi “titik balik”, yang moga-moga lebih menjanjikan.

Itu yang saya catat terjadi di 2021. Hingga tak salah-salah amat bila “point” diubah menjadi “year”.

Apa tanda-tandanya?.

Meski “dinodai” dengan kekalahan tim nasional sepakbola 0-4 dari Thailand di Leg 1, beberapa hari lalu, rasa optimis yang mulanya samar-samar, terukir lebih jelas.

Yang menjadi debut pertama keberhasilan adalah pengendalian pandemi Covid 19.

“Saat ini rasio kasus harian di Indonesia adalah kedua terendah (setelah China) di antara 14 negara berpenduduk lebih dari 100 juta”. (Kompas, 31 Desember 2021, halaman depan)

Tak hanya itu, posisi Indonesia untuk rasio kematian per satu juta penduduk berada di urutan ke-6.

Berhasil mencatat kasus terpapar yang (sangat) rendah, angka kematian idem dito, angka vaksinasi lumayan oke.

Lantas, kurang apalagi?.

Bila masyarakat disiplin mematuhi Prokes, vaksinasi terus digenjot dan pemerintah konsisten menegakkan aturan pencegahannya, pertengahan 2022 sangat boleh jadi pandemi berubah menjadi endemi. (www.cnnindonesia.com)

Torehan kedua yang harus dicatat adalah keberhasilan dalam sektor penerimaan pajak. Rekor sukses dicatat pada tahun 2021.

Pajak bukan hanya “upeti” yang harus dibayar warga negara guna kehidupan berbangsa. Pajak juga lambang persatuan dan gotong-royong.

Kesuksesan pajak, juga pertanda bahwa masyarakat semakin dewasa dalam menjalani hidup sebagai anggota negara-bangsa (nation state).

“Pemerintah berhasil mencatatkan kinerja penerimaan pajak yang positif sepanjang 2021. Kementerian Keuangan mencatat hingga 26 Desember 2021, total penerimaan pajak tahun ini mencapai Rp 1.231,87 triliun atau 100,19 persen dari target dalam APBN 2021 sebesar Rp 1.229,6 triliun”. (https://ekonomi.bisnis.com)

Bintang ketiga yang pantas disematkan adalah keberhasilan mendongkrak IHSG sebesar 10.8%, di tahun 2021.

“Dengan begitu, secara year to date (ytd), IHSG tercatat naik 10,08% (6581.48), dibanding akhir 2020 yang berada di posisi 5.979,07”. (https://investasi.kontan.co.id)

Soal persahaman, saya jauh dari ahli. Tapi, moga-moga ini adalah pertanda bahwa investor mulai nyaman dengan dunia usaha di Indonesia. Kepastian usaha terjamin, dunia bisnis kondusif, keuntungan diraih, tentunya roda ekonomi menggelinding semakin cepat.

Last but not least, ini aspek penting bagi bangsa Indonesia untuk menyongsong tahun 2022. Apalagi kalau bukan “Pengembangan SDM”.

Bahkan dalam masa pandemi yang mencekam sepanjang dua tahun, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terus membaik. Padahal ia merupakan kompilasi dari angka kesehatan, pendidikan dan ekonomi, yang rawan diserang pandemi.

“Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2021 mencapai 72,29, atau meningkat 0,49 persen dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya, sebesar 71,94. Sejak 2016, IPM Indonesia berstatus tinggi, atau di atas 70”. (https://ekonomi.bisnis.com)

Tak ada lagi yang bisa didustakan, bila pembangunan manusia Indonesia terus membaik. Tinggal menguatkan daya juang, kerja keras dan pantang menyerah. Jangan lupa, gunakan akal-sehat agar negara semakin kuat.

Tak mudah untuk menggapai angka-angka di atas. Dua tahun didera pandemi, tapi di tahun 2021 terbukalah cakrawala untuk terus menatap cerah ke depan, dengan kepala tegak dan dada membusung.

Tak usah dihiraukan kaum pesimis dan golongan waton suloyo. Jumlahnya tak seberapa, tapi gemar berteriak keras. Mereka tak mau mengakui bahwa di ujung lorong gelap, kita bersama-sama, telah berhasil menemukan lentera menyala yang semakin lama semakin terang cahayanya.

“Selamat Tinggal 2021. Selamat Datang 2022”.

@pmsusbandono
Malam Tahun Baru (31 Desember 2021)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here