Tak Bisa Move On dengan Rasa Istimewa, Bukan Setara Klepon

0
141 views
Rekoleksi para imam diosesan Keuskupan Agung Palembang. (Romo Titus Jatra Kelana/KAPal)

Masuk dalam suasana retret tidak mudah. Retret bukan sekedar mendengarkan materi dari pembimbing rohani, refleksi, makan dan tidur. Retret meminta retretan untuk menyiapkan hati.

Seperti makan klepon. Mengambil klepon, memasukkan ke dalam mulut, mengunyah dan menikmati rasa klepon, baru ditelan masuk ke dalam perut.

Apalagi masa pandemi ini. Retret secara virtual belum bisa seperti dulu lagi. Bukan sekedar buka link, menyimak materi retret dan hening. Hening melamun, hening doa, hening kabur. Atau hening bubar?

Menarik diri dalam retret berarti menciptakan ruang istimewa antara pribadi dan Tuhan. Bukan tuhan berupa pekerjaan, bisnis online, dunia maya, gawai atau yang lainnya.

Mengenang Maria dalam retret

Maria, ibu kita semua melakukan retret dalam seluruh hidupnya. Maria menikmati relasi istimewa dengan Tuhan secara sempurna.

Sebagaimana jawaban Maria saat utusan surga datang. “Sesungguhnya, aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Magnificat, Kidung Maria salah satu bukti keistimewaan relasinya dengan Allah. Maria mengambil bagian dalam karya keselamatan.

membuka seluruh hidup, hati dan jiwanya bagi Allah. Maria menikmati setiap perjalanan hidupnya. Bersama Allah dan Puteranya Yesus Kristus.

Keberanian Maria menghadapi segala peristiwa hidup dan ketaatannya pada Allah membuat Maria mendapat berbagai macam gelar.

Keberanian Maria juga tampak dalam pertolongannya mengabulkan doa-doa kita. Keberanian Maria meminta Puteranya untuk mengabulkan doa-doa kita. Seperti peristiwa perkawinan di Kana.

Maria istimewa sejak awal mula, karena rahimnya dipersiapkan untuk kehadiran Yesus Kristus. Yang Kudus pasti hadir di dalam rahim yang suci dan kudus.

Mencoba mengkombinasi

Menarik diri dalam retret bagi kita manusia biasa dilakukan dengan menyediakan waktu khusus. Tidak mudah bagi kita manusia biasa untuk retret dengan situasi sehari-hari.

Yang ada bukan lagi retret, tetapi sumpah serapah dengan tanduk-tanduk merah mulai muncul di kepala.

Kata lain, emosi mudah terpancing untuk berubah kekemarahan. Mengubah nada suara dari do sedang menjadi do tinggi hitungan detik.

Bisa retret dengan situasi semacam ini? Yakin?

Mengusahakan situasi istimewa dengan Allah diharapkan selalu dibaharui. Baik secara pribadi mau pun dalam kebersamaan. Sikap tegas melakukan pemisahan diri dari aktivitas sehari-hari.

Jadilah pemberani

Membuka diri dalam proses dengan pendamping rohani. Berani melihat situasi hati dan hidup secara nyata bukan sekedarnya atau pura-pura. Berani meraskan hal yang menyakitkan dan mengecewakan.

Bertahan untuk mengolah dan mengubah peristiwa menyakitkan menjadi rahmat membahagiakan.

Keberanian mengolah dan mengubah karena memiliki kekuatan yang berasal dari Kristus dan pendampingan Bunda Maria.

Sangat istimewa rasanya. Lebih istimewa daripada klepon.

Mengenang no caption

Mengenang retret tahun lalu. Seorang bapak terbengong-bengong mendengar penuturan seorang biarawati, kalau biarawati tersebut mengikuti retret selama 8 hari.

Kata bapak itu, “Suster, saya ikut retret tiga hari saja rasanya bosan, jenuh. Saya mau pulang sekarang.”

No caption. Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here