Tak Didukung di Negeri Sendiri

0
132 views
Tong Sin Fu, mantan pelatih Timnas Bulutangkis.

Bacaan 1: Im 23:1. 4-11. 15-16. 27. 34b-37
Injil: Mat 13:54 – 58

MUNGKIN masih ada yang ingat sosok Tang Xian hu atau Tang Hsien Hu, atau Tong Sin Fu (nama Indonesia dan pemberian orangtuanya).

Bersama Hou Cia Chang, keduanya asli kelahiran Lampung dan Semarang, namun sukses sebagai pebulutangkis China pada masa lalu.

Di eranya, mereka sempat membuat sulit pebulutangkis sekaliber Liem Swie King dan Erland Korps (Denmark).

Setelah pensiun, Tong sempat pulang ke Indonesia dan melatih Timnas Bulutangkis tahun 1986.

Pada masa itu, Tong berhasil memunculkan generasi emas bulutangkis Indonesia.

Raihan medali emas Olimpiade Barcelona 1992, Atlanta 1996, Piala Thomas 1994-2002, dan Piala Uber (1994-1996) adalah hasil kerja kerasnya sebagai pelatih.

Namun sayang, perjuangannya untuk mendapatkan kewarganegaraan kala itu tak berujung manis dan ditolak di tahun 1998.

Tong adalah kelahiran Indonesia dan mengharumkan nama bangsa Indonesia, namun tragis saat tidak mendapatkan kewarganegaraan Indonesia.

Tuhan Yesus ditolak di Nazareth, karena latar belakangnya sebagai keluarga miskin. Dianggap sebagai orang yang tak berpendidikan, sehingga tak pantas mengajar di rumah ibadat di Nazareth.

“Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu?… Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?”

Demikian kata orang-orang di kampung-Nya.

Dalam bacaan pertama, Allah memberikan hari-hari raya untuk dirayakan oleh bangsa Israel sebagai hari kudus Tuhan.

Di antaranya ada Hari Raya Paskah, Hari Raya Roti Tak Beragi, Hari Raya Pendamaian, dan Hari Raya Pondok Daun.

Allah bersabda kepada Musa cara-cara bagaimana bangsa Israel harus merayakannya.

“Itulah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, yang harus kamu maklumkan sebagai hari pertemuan kudus.”

Demikian sabda-Nya kepada Musa.

Pesan hari ini

Mengapa manusia mudah menghakimi, padahal orang bisa mengapresiasi karyanya? Penghakiman bisa membunuh karakter dan itu lebih kejam dari pembunuhan yang sebenarnya.

Tanpa iman, kita tidak akan melihat mukjizat Tuhan.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Tetaplah pakai maskermu dan jaga jarakmu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here