Tak Kenal, Maka Tak Sayang

1
427 views
Ilustrasi - Kasih sayang by Preengaged

Jumat, 23 September 2022

  • Pkh. 3:1-11.
  • Mzm. 144:1a,2abc,3-4.
  • Luk. 9:18-22;

TIDAK bisa dipungkiri komitmen kita terhadap seseorang itu sering ditentukan oleh pengenalan kita terhadap orang tersebut.

Semakin kita mengenal secara pribadi, semakin banyak aspek dalam hidup ini yang terlibat. Bukan hanya soal pikiran, namun perasan malah akan semakin dominan mempengaruhi sikap kita.

Benar juga kata pameo, “Tak kenal maka tak sayang.”

Kita hanya akan bisa menyanyangi orang dengan baik dan benar jika kita mengenal seseorang itu dengan baik.

Pengenalan yang baik akan menumbuhkan hubungan mendalam, karena dengan berjalannya waktu kita bisa memahami dan menerimanya segala kekurangan dan kelebihannya.

Pengenalan yang baik terhadap orang lain, membantu kita untuk tidak terjebak dengan komuflase serta topeng yang dipakai orang lain. Bahkan kita bisa masuk ke perjuangan hidup orang lain dan ikut ambil bagian di dalamnya.

“Saya punya dua orang anak, yang wataknya sangat berbeda,” kata seorang ibu.

“Yang satu sangat ceria dan terbuka, mudah menyampaikan apa yang dia rasakan dan dia pikirkan bahkan hal-hal pribadi, tatkala dia mulai tertarik dengan lawan jenis,” ujarnya.

“Dia asyik dan selalu membawa keceriaan dalam kebersamaan,” lanjutnya.

“Sedangkan yang satu berbading terbalik, pendiam, dan sangat tertutup, bahkan ketika ada masalah yang penting dia lebih banyak diam dan mengurusinya sendiri,” paparnya.

“Anakku ini, kalau sudah benar-benar mentok baru akan bicara, itupun hanya seperlunya,” sambungnya.

“Untuk kami, bersama anak yang terbuka itu mudah pendampingannya, sedangkan untuk anak yang pendiam harus berjuang sungguh untuk menemani dan membimbingnya,” urainya.

“Saya mengenal mereka sejak kecil, hingga sikap dan pembawaannya bisa saya terima dan pahami,” ujarnya.

“Karena mengenal dan menerimanya, mereka jadi lebih nyaman bersama kami dan kami pun juga bisa memahami sutausi batin mereka masing-masing,” lanjutnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?”

Kita mesti berjuang untuk mempunyai relasi yang dekat dia mendalam dengan Tuhan Yesus untuk dapat memahami siapakah Dia bagi hidup kita.

Tidak cukup dalam mengikuti Dia di jalan kemuridan ini jika hanya mengandalkan dan mendengar apa kata orang tentang Yesus.

Kita harus berusaha membatinkan setiap gerak langkah kehidupan kita dengan cahaya kasih Tuhan sendiri.

Kuta mesti mengalami sendiri siapakah Yesus dalam hidup kita. Hanya dengan memiliki pengalaman iman dan batin kita bisa menyerap kehendak-Nya, keresahan Dia bahkan mimpi dan harapan Dia.

Pengalaman batin itu hanya akan terjadi jika kita dengan rendah hati berusaha melibatkan selalu Yesus dalam kehidupan kita.

Bagaimana dengan diriku?

Sudahkah aku sungguh-sungguh mengenali Tuhan Yesus secara pribadi?

1 COMMENT

  1. Mengenali Yesus sudah…. Cuma belum begitu mendalam, memang Yesus menghendaki agar kita bertolak ke tempat yang lebih dalam. Yesus selalu mengajari kita untuk terus selalu mengasihi orang lain tanpa batas, namun kasih sayang kita yang terbatas seperti embun pagi.
    Semoga Allah selalu menambah kasih sayang ku.
    Selamat pagi Romo….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here