Talitha Khum Indonesia, Wadah Baru Tampung Korban Perdagangan Manusia Besutan CWTC-IBSI

0
365 views
Sarasehan CWCT-IBSI diikuti para peserta lntas iman, lintas profesi dan organisasi (Sr. Fransiska FSGM)

NAMANYA sangat berbau biblis: Talitha Kum Indonesia.

Demikian nama lembaga baru besutan lembaga kerjasama kalangan religius peremuan yang bergerak dalam forum Counter, Woman, Trafficking Commision dan Ikatan Biarawati Seluruh Indonesia (CWTC-IBSI)

Talitha Kum Indonesia diperkenalkan dalam kesempatan acara paparan visi, misi, dan nilai-nilai yang mesti diperjuangkan bersama oleh segenap aktivis.

Ini disampaikan oleh Sr. Chatarina RGS, Provinsial Kongregasi Suster Gembala Baik (RGS) bersama Sr. Fransiska PMY.

Keduanya tampil menjadi narasumber dalam pertemuan sarasehan forum CWTC-IBSI sekaligus memperkenalkan Talitha Kum Indonesia.

Kegiatan ini berlangsung di Gedung Griya Anselma, Pringsewu, Lampung, Senin, 9 Desember 2019.

Merawat korban perdagangan manusia

Talitha Kum Indoneisa merupakan sebuah komisi IBSI dengan fokus perhatian pada hal-ikhwal praktik perdagangan manusua.

Talitha Kum Indonesia merupakan jaringan lokal di Indonesia dari lembaga bernama sama yakni Talitha Kum International.

Terbentuknya Talitha Kum Internasional ini merupakan implementasi satu program UISG (Union Internasional Superior General).

Talitha Kum Indonesia memiliki misi bersama agar semua pihak yang berkehendak baik berkomitmen mewujudkan dunia bebas perdagangan orang.

Arah jarum jam: Narasumber Sr. Chatarina RGS dan Sr. Fransiska mengenalkan Talithakum dan memaparkan tentang perdagangan manusia dan tindak kekerasan. Sr. M. Katarina FSGM memperkenalkan narasumber. (Sr. Fransiska FSGM)

Cara advokasi publiknya melalui:

  • Kampanye tentang bahaya perdagangan manusia.
  • Pemberdayaan kaum religius dan masyarakat sebagai agen perubahan.
  • Pemulihan martabat korban perdagangan manusia.
  • Advokasi kebijakan publik.

Di kertas lain tertulis juga tentang program-program Talitha Kum dan nilai-nilai kerja yang dihayati yakni: kerjasama, pengorbanan, belas kasih, kegigihan, dan murah hati.

Keluar dari zona nyaman

Di forum sarasehan itu  ditayangkan paparan tentang perdagangan orang. Sekitar 15 menit, setiap para peserta diberi waktu untuk maju dan membaca tulisan-tulisan tentang Talitha Kum itu.

Dua pertanyaan lalu diajukan oleh Sr. Fransiska PMY.

  • Apa kesan tentang Talitha Kum?
  • Gerakan hati macam apa yang muncul?

Banyak peserta merasa tersentuh dan menyatakan diri ingin berjejaring dengan organisasi ini.

Mengapa tiba-tiba termotivasi ingin ikut serta?

Itu karena sebagian besar lingkungan sekitar dan masyarakat mereka juga mengalami tindak kekerasan; khususnya yang menyasar terhadap anak-anak dan kaum perempuan.

Para peserta syering dalam kelompok. Mereka berbagi cerita tentang tindak kekerasan yang sering terjadi di masyarakat dan solusinya. (Sr. Fransiska FGSM)

Isu-isu yang mereka ungkapkan, direfleksikan, ditampung, dan diteguhkan oleh Sr. Chatarina RGS.

Menolak kekerasan terhadap perempuan

Dengan tegas, ia menyimpulkan, dalam kesetaraan gender, maka Talitha Kum Indonesa menolak segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.

Seorang peserta lain, menyeringkan tetangga dekatnya yang memiliki anak balita, namun tidak pernah berhenti memegang HP.

Peserta seorang ibu itu minta supaya orangtua muda lebih sering memerhatikan anaknya  daripada HP-nya. Ini agar dia jangan sampai hanyut ‘dirusak’ oleh tawaran indah dan menarik yang gampang muncul di HP.

Ini adalah salah satu bentuk tindak nyata yang harus dilakukan untuk merawat dan melindungi anak dan perempuan di lingkungan sekitar. 

Dengan contoh-contoh yang sudah dipaparkan peserta, Sr. Chatarina RGS menyatakan, bahwa kasus-kasus kekerasan akan banyak ditemukan di lingkungan sekitar kita.

Maka ia meminta supaya kita semua rela keluar dari zona nyaman, menuju ke tempat di mana anak-anak dan perempuan diperlakukan tindak kekerasan.

Berjejaring

Acara sarasehan ini semakin menarik karena 90% para pesertanya adalah kaum perempuan. Mereka tampak sangat antusias untuk dapat memberikan bantuan berupa pikiran, waktu, dan tenaga untuk memberantas perdagangan orang dan tindak kekerasan khususnya terhadap kaum lemah: perempuan dan anak.  

Saat diskusi dalam kelompok dan membacakan hasilnya juga dalam kelompok dan kemudian di pleno. (Sr. Fransiska FSGM)

Di akhir sarasehan, Sr. Chatarina RGS mengatakan bahwa acara ini merupakan sarana untuk menyatukan visi dan misi. Tidak ada paksaan. Yang ada hanyalah hati yang tulus untuk melakukan sesuatu yang baik dan benar. 

Selain itu, ia mengajak agar semua menyatukan hati dan keberagaman demi tujuan bersama agar anak-anak dan perempuan mengalami sukacita.

“ Indonesia adalah rumah kita bersama. Mari kita menyatukan visi dan misi, saling bersinergi dan berjejaring,” tegas Sr. Chatarina RGS.

Suster lintas tarekat

Acara ini dihadiri 55 peserta. Mereka adalah:

  • Para suster biarawati dari tarekat FSGM, HK, dan CB.
  • LSM: FAKTA, Damar, Jaringan Masyarakat Menolak Perdagangan Orang (JMMPO), Kelompok Wanita Tani (KWT), Serikat Perempuan Bandar Lampung (SPBL).
  • Keuskupan Tanjungkarang: Komisi Keadilan Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau (KKP PMP).
  • WKRI.  

https://www.sesawi.net/suster-ikut-pelatihan-paralegal-cwct-ibsi-perjuangkan-martabat-manusia-melawan-praktik-perdagangan-orang-2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here