Tanam Singkong demi Ketahanan Pangan: Tongkat Kayu di Tengah Pandemi

0
188 views
Singkong untuk program ketahanan pangan selama pandemo covid-19

INI sebuah reportase kecil tentang pembagian bibit batang singkong dari Kevikepan Yogyakarta.

Pagi itu, kami bertiga meluncur ke “Ibukota Kevikepan Yogyakarta yaitu Gereja Paroki Kidul Loji. Dengan mobil pick-up, kami melaju dan menyusuri jalan jalan utama kota Jogja. 

Sambil bergurau kami menikmati suasana jalanan yang berbeda dari biasanya. Suasana lengang dan tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. 

Yah,  karena efek korona ini, jalanan di Jogja menjadi sepi. Begitu nyaman dan tenang melewatinya tanpa kawatir akan macet di setiap bangjo. 

Sesampai di Kidul Loji, kami langsung menemui security untuk mengisi daftar pengambilan bibit batang singkong mertega. Belum nampak pengurus-panitia yang menyambut kami. 

Mungkin kami gegasiken. Setelah itu kami mulai memuat bibit batang singkong untuk dimasukkan ke bak pick up. Sambil merantai bongkokan batang tersebut, salah satu teman kami bernyanyi lagunya Koes Plus. 

Lagu yang tak asing buat kami. Lagu yang sangat familier di telinga generasi 80-an dan 90-an.  Lagu yang mengkisahkan betapa hebatnya Bumi Nusantara ini. 

Teman kami itu mengambil satu batang sambil menyanyikan lagu kemudian menunjukkan batang itu sambil mengatakan kepada kami, “Iki lho tongkat kayune. Tongkat kayu telo sing mung diceblokke ning lemah iso urip dadi tanduran jur ngetokke oyot sing iso dipangan awakedewe, warbiasahhhh.”

Kami pun menjawab: “Warbiasahhh“. Lalu kami ikut menyanyi bersama: “Orang bilang tanah kita, tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”

Lagu lama yang masih representatif.

Setelah semua bongkokan kami masukkan ke bak pick up, kami baru sadar bahwa pesanan kami yang enam ribu batang untuk Paroki Kalasan tidak bisa dipenuhi semua oleh panitia. 

Kami hanya mendapat 34 bongkok, setiap bongkok terdiri dari 25 lonjor yang berarti kami hanya mendapatkan 850 batang-lonjor.

Jauh dari ekpektasi. Kami sempat melayangkan protes kepada dua orang panitia yang berada disana. 

Kemudian Romo Vikep datang menghampiri dan memberi penjelasan soal tongkat kayu itu.  Intinya bahwa tongkat kayu ini tidak bisa memenuhi semua permintaan karena kita harus “sakmadyo” dan solider supaya semakin banyak paroki dan semakin banyak orang yang mendapatkan. 

Kami pun mengangguk dan mengamininya. Sebelum kami pulang, kami sempatkan berfoto bersama untuk dokumentasi kegiatan. 

Di perjalanan menuju Gereja Kalasan, kami sempat mendiskusikan lagi soal “tongkat kayu menjadi tanaman ini”.

Kami merasa bahwa mungkin dengan kehadiran tongkat kayu ini bisa jadi merupakan tanda kesadaran baru buat kami dan bagi banyak orang bahwa sebenarnya kita masih mempunyai dan menyimpan kekuatan besar untuk menjaga ketahanan pangan ketika kita menghadapi pandemi ini. 

Tongkat kayu ini merupakan warisan simbah simbah kita yang pernah mengarungi zaman dan mereka bisa melewati masa sulit dan bertahan hidup. 

Bibit singkong untuk program ketahanan pangan selama pandemi covid-19 untuk umat Paroki Kalasan.

Banyak orang pada zaman ini mengabaikan keberadaan tongkat ini.

Tongkat kayu yang menghasilkan ketela atau singkong ini kalah dengan keberadaan rumpun roti-rotian atau makanan modern ala masa kini. 

Tetapi ketika pandemi atau pagebluk datang, justru sebenarnya tongkat kayu inilah yang tidak terpengaruh dan mampu bertahan dan bahkan bisa membantu setiap orang untuk menjaga ketahanan pangan.

Tinggal ditancapkan di tanah, tongkat kayu ini akan tumbuh dan menghasilkan ketela yang berlipat.  Warbiasahhhh

Akhirnya kami tiba di Pastoran Gereja Kalasan. Di sana kami sudah disambut oleh Pak Parjiman, dedengkot Komisi PSE paroki. 

Tanpa basa basi, kami sampaikan bahwa tongkat kayu yang kita bawa tidak banyak.  Tanpa banyak keluhan dan diskusi panjang, kami memutuskan untuk memotong lonjoran tongkat kayu itu menjadi empat sampai lima bagian.

Kami mencari dua grendo, dua gergaji, rafia, dll. Mungkin baru kali ini memotong batang singkong dengan grendo. Kami dibantu banyak teman yang ikut memotong dan mengikat setiap 10 batang menjadi satu bongkok

Alhasil pekerjaan begitu cepat selesai. 850 lonjor tongkat kayu itu bisa dikembangkan menjadi 3.390 tongkat pendek-pendek. Panjangnya hanya sekilan. 

Setelah selesai memotong, mengikat dan membersihan tempat, kami pun pulang. Setelah sampai di rumah kami istirahat. Untuk bisa ngeluk boyok

Dalam hati, kami bergumam dan membayangkan bahwa ribuan tongkat itu akan menyebar ke penjuru wilayah Paroki Kalasan.

Setiap umat yang mendapatkan pasti akan menancapkannya ke tanah. Mereka akan menancapkan harapan dengan dibalutan lantunan doa doa keyakinan supaya badai pagebluk ini cepat berlalu.

Tancapan tongkat kayu itu akan menjadi pertanda bahwa setiap orang harus menancapkan kesadaran, keyakinan dan harapan yang kuat. Kehidupan baru akan datang meski saat ini dilanda pandemi yang begitu hebat. 

“Awakedewe kudu bakoh koyo cagak omah, ojo wedi, ojo kuwatir, Gusti mesti paring dalan.“.

Tabik, Goro Kalasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here