Tanjung Beringin, Sepotong, Ketapang: Komunitas Adat Terpencil di Tengah Masyarakat Nomaden

0
243 views
Membagikan bingkisan kepada masyarakat KAT di Tanjung Beringin, Sepotong, Ketapang. (Dok. Seminari St. Laurensius Ketapang)

DI era modern saat ini, semua orang mungkin telah memiliki tempat tinggal yang tetap, pekerjaan yang tetap dan mata pencaharian yang tidak berubah-ubah.

Tetapi berbeda cerita ketika kita membandingkan cara hidup atau pola hidup dari orang-orang atau masyarakat yang memiliki mata pencaharian yang tidak tetap, berladang pindah, sehingga tidak ada tempat tinggal yang tetap untuk masyarakat tersebut tempati.

Misalkan apabila ladang-ladang yang ditanami tanam-tanaman sudah tidak lagi menghasilkan sayur atau buah-buahan yang melimpah, maka masyarakat nomaden ini harus berpindah lagi mencari tempat yang lebih baik untuk ditanami.

Kunjungan ke rumah-rumah KAT. (Dok. Seminari St. Laurensius Ketapang)

Tentunya, cara hidup berpindah-pindah ini membuat mereka kesulitan, dan realitanya mereka ini hidup dalam kesederhaan dan benar-benar bergantung pada alam sekitar.

Kepala Desa Tanjung Beringin berinisiatif membantu masyarakat yang berpindah-pindah ini dengan membangun pemukiman tetap sekalipun mata pencaharian mereka masih berpindah-pindah sesuai adat dan tradisi mereka.

Komunitas Adat Terpencil

Kepala Desa Tanjung Beringin, Bapak Lipi dan bersama perangkat desa telah mengajukan kepada pemerintah untuk memohon bantuan bagi mereka dengan membentuk Komunitas Adat Terpencil (KAT).

Dari seluruh Indonesia, Desa Tanjung Beringin ini boleh mendapatkan bantuan sebanyak 45 unit rumah yang ditempati oleh 45 Kepala Keluarga yang hidupnya nomaden.

Para penduduk tersebut adalah masyarakat yang berada di Desa Tanjung Beringin yang belum memiliki tempat tinggal tetap.

Rumah-rumah sederhana untuk masyarakat adat terpencil. (Dok. Seminari St. Laurensius Ketapang)

Penulis sangat bersyukur dengan adanya bantuan seperti ini, masyarakat yang hidupnya berpindah-pindah tersebut dapat merasakan tempat tinggal yang layak untuk berteduh dari teriknya panas dan dinginnya hujan.

Rumah papan sederhana

Bantuan pemerintah secara cuma-cuma ini menjadi salah satu wujud kepedulian yang nyata kepada mereka yang miskin dan terlantar.

Penulis ketika berkunjung bersama Romo Budi Satrio Sambodo Pr alias Romo Busyet dan frater lainnya melihat sendiri wajah bahagia dari masyarakat KAT yang telah tinggal di sana sekitar satu tahun lebih ini.

Fasilitas yang terdapat dalam rumah KAT ini sudah sangat cukup memadai sebagai tempat tinggal, dua kamar, satu ruang keluarga dengan dapur di bagian belakang dan juga WC.

Meskipun sederhana karena terbuat dari kayu, tempat tinggal yang diberikan oleh pemerintah ini sangat layak huni.

Penulis berharap, bantuan pemerintah kepada masyarakat adat terpencil semakin diupayakan agar anggaran-anggaran yang tersedia dapat terserap dengan tepat kepada masyarakat yang membutuhkan.

Masih banyak orang-orang yang masih hidup secara nomaden dan mengandalkan alam sebagai mata pencaharian mereka.

Sehingga rumah KAT ini menjadi salah satu solusi terbaik yang menurut penulis secara pribadi akan sangat membantu mereka dalam hal memenuhi kebutuhan papan atau tempat huni yang tetap sekalipun mata pencaharian masih berpindah-pindah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here