Tantri Moerdopo: Jadi Wartawan dan News Anchor TV, Modal Penting Serap Aspirasi Publik (1)

0
288 views
Sebagai wartawan dan news anchor Metro TV, Tantri Moerdopo tengah mewancarai Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo. (Dok. Tantri Moerdopo)

DARAHtrah” politik Tantri Moerdopo rupanya mengalir sangat kuat dari eyang kakungnya: almarhum Johannes Baptista Moerdopo (1935-1990). Moerdopo ini sangat kenyang makan “asam dan garam” di panggung politik. Dilakoninya melalui Golkar – kini Partai Golkar.

Meninggal di Gunung Lawu saat ditemani Romo Kuntara SJ

JB Moerdopo lahir di Jogyakarta tanggal 6 Desember 1935. Ia meninggal dunia di Gunung Lawu, Kabupaten Karangnyar, Jateng, 26 Februari 1990. Saat melakukan ritual adat Jawa di gunung yang berdiri tegak di garis batas Jateng-Jatim ini.

JB Moerdopo saat masih muda belia dan aktif berpolitik praktis di Golkar dan menjadi Pemimpin Redaksi Harian Suara Karya. (Dok. Keluarga)

“Saat itu, status profesional bapak adalah Pemimpin Redaksi Harian Suara Karya,” ungkap Endang Moerdopo, puteri ragil JB Moerdopo kepada Sesawi.Net, Kamis 8 Februari 2024.

“Bapak naik gunung ditemani almarhum Romo Kuntara Wignyamartaja SJ,” tambah Budi Praminowati Moerdopo, putri nomor dua JB Moerdopo dan ibu kandung Tantri Moerdopo.

Almarhum Romo Dr. I. Kuntara Wiryamartana SJ, ahli sastra Jawa klasik (Albert Hartana SJ)

Berkarier politik praktis di Golkar

Bukan JB Moerdopo (1935-1990) namanya, walau di tengah kesibukannya berpolitik praktis melalui jalur Golkar juga masih sangat peduli dengan pendidikan calon imam di Indonesia.

Karier politik JB Moerdopo di parpol berlambang pohon beringin ini tercatat sebagai berikut:

  • Bendahara Golkar, ketika di partai politik berlambang pohon beringin ini jabatan Ketua Umumnya ada di tangan Amir Murtono (1973-1983).
  • Wakil Sekjen Golkar.
  • Kepala Bidang Seni dan Budaya, saat Letjen TNI Sudharmono menjadi Ketua Umum (1983-1988). Pak Soed -panggilan akrab pria jangkung lencir- itu sendiri pernah mendampingi Presiden Soeharto sebagai Wakil Presiden RI kelima kurun masa tahun 1988–1993.

Seangkatan dengan Kardinal Darmaaatmadja di seminari

Selain kenyang berpolitik praktis melalui panggung Golkar, almarhum eyangnya Tantri Moerdopo ini juga banyak makan “asam garam” sebagai calon imam.

Ia pernah mengenyam pendidikan calon imam di Seminari Kecil Code Yogyakarta dan kemudian Seminari Menengah Mertoyudan. Menjadi teman seangkatan dengan Koesno dari Klaten. Juga di batch yang sama dengan Kardinal Julius Darmaatmadja SJ di seminari kurun waktu tahun 1950-1955.

Justru karena pernah mengenyam pendidikan di seminari inilah, putera sulungnya JB Moerdopo yakni Adji Prabowo lalu mengikuti jejaknya.

Sertifikat JB Moerdopo sebagai murid Seminari Kecil Code dan kemudian Seminari Mertoyudan tahun 1950. (Dok. Keluarga)
Wajah kampus Seminari Mertoyudan zaman dahulu dilihat dari atas. (Seminari Mertoyudan).

“Pak JB Moerdopo itu juga teman seangkatan dengan almarhum ayah kandungku: AG Sayudi dari Kalasan. Teman-teman seangkatan masuk seminari waktu itu adalah Julius Kardinal Darmaatmadja SJ yang masuk tahun 1950 di Seminari Code Yogya yang dulu dikenal sebagai Sekolah Tinggi Kateketik dan sekarang Kampus IPPAK Universitas Sanata Dharma. Lokasinya persis di samping Kolese St. Ignatius atau Kolsani di sisi samping Kali Cod, Kotabaru, Yogyakarta.

Mereka yang masuk seminari dari SMP hanya dua orang yakni bapak saya dan Julius Kardinal Riyadi Darmaatmadja SJ. Sementara, seminaris yang masuk dari Sekolah Rakyat (SD sekarang) adalah almarhum Romo Susmadya Madyasusanto SJ, Winoto Doeriat,” papar PC Prantara, mantan frater Jesuit dan alumnus Seminari Mertoyudan angkatan tahun masuk 1974.

Romo Adji Prabowo Pr (kanan) bersama Romo Simon Lili Tjahjadi Pr (tengah) dan teman alumnus Seminari Mertoyudan (kanan) Bambang Sulistya.

Sementara, Romo Adji Prabowo masuk Seminari Mertoyudan tahun 1975. Ia kemudian menjadi imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta. Panggilan hidupnya sendiri menarik. Setelah bertahun-tahun lamanya berkarier di dunia kerja setelah lulus dari UI, Romo Adji masuk seminari lagi. Bukan di Mertoyudan, tapi langsung di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan, Yogyakarta.

Setelah berkarya di Seminari Wacana Bhakti Pejaten, Romo Adji berkarya pastoral cukup lama menjadi imam misionaris domestik. Ia menjadi pastor paroki di wilayah pedalaman Kalbar. Berpastoral kawasan garis batas Indonesia-Serawak (Malaysia); tepatnya di Gereja Santo Montfort Paroki Badau, Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat.

Lantaran mengalami stroke cukup serius, Uskup KAJ Ignatius Kardinal Suharyo kemudian menarik Romo Adji pulang ke Jakarta. Romo Adji Prabowo sekarang tinggal di Pastoran Puspas Wisma Samadi Klender, Jakarta Timur. Resmi pensiun dari karya pastoral parokial.

Romo Adji Prabowo Pr menerima Sakramen Imamat dan ditahbiskan menjadi imam diosesan KAJ oleh Kardinal Julius Darmaatmadja SJ. (Dok. Keluarga)
Usai ditahbiskan menjadi imam. Romo Adji Prabowo membagikan komuni kepada ibunya dan adik-adik serta kerabat dekat keluarga Moerdopo. (Dok. Keluarga)
Romo Adji Prabowo Pr, imam diosesan KAJ, saat masih berpastoral sebagai pastor paroki di Gereja Monfort Paroki Badau, Keuskupan Sintang, Kalbar. (Dok. Romo Adji Prabowo)
Romo Adji Prabowo bersama ibu kandung, empat adik perempuan dan tante bersama sejumlah umat Katolik Paroki Badau, Keuskupan Sintang, Kalbar. (Dok. Keluarga)

Kenangan indah di Seminari Mertoyudan

Kurun tahun 1975-1981 saat Romo Adji Prabowo menjadi siswa di Seminari Mertoyudan, penulis ingat betapa eyang kakungnya Tantri yakni JB Moerdopo sering bolak-balik mampir di Seminari Mertoyudan.

Selain mengunjungi anak lelakinya Romo Adji, tentu saja almarhum JB Moerdopo bersama isterinya Ny. Anthonia Sri Putrantri juga bersilahturahmi dengan Rektor Seminari Mertoyudan waktu itu: Julius Riyadi Darmaatmadja SJ yang kemudian menjadi Provinsial SJ, Uskup KAS, Ordinaris Militer-Polri, dan kemudian Uskup KAJ sekaligus pernah menjadi Ketua KWI (1988-1997).

Bagi penulis yang sepanjang kurun waktu tahun 1978-1982 menjadi siswa Seminari Mertoyudan, kedatangan pasutri JB Moerdopo dan isterinya almarhumah Ny. Anthonia Sri Putrantri selalu menjadi “kabar baik” bagi seminari.

Karena pasutri dan umat Katolik dari Jl. Narada, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat ini dikenal sangat peduli dengan seminari. Juga sangat dermawan membantu banyak hal untuk kemajuan dan perkembangan mutu pendidikan para seminaris.

Ilustrasi: Keramahan masyarakat Dayak di pedalaman kawasan hulu Sungai Laur, Paroki Sepotong, Keuskupan Ketapang, Kalbar. (Meiva Lomboan)

Mengajak Molly Paher dari pedalaman Kalbar main ke Jakarta

Jiwa murah hati itu antara lain terbukti dengan satu hal kecil, namun sangat bermakna bagi yang mengalaminya. Ancelmus Molly Paher adalah yang menerima kebaikan keluarga ini. Molly berasal dari wilayah pedalaman Sepotong. Lokasinya sangat udik dan terpencil di Kabupaten Ketapang, Kalbar.

“Pada tahun 1978, kami harus menempuh waktu perjalanan selama sepekan lamanya untuk bisa sampai ke Sepotong. Itu pun harus rela hanya bisa naik numpang kapal pengangkut karet milik saudagar kaya,” terang Molly sekali waktu kepada Sesawi.Net.

Tahun itu, keseharian hidup Molly dan Romo Adji sungguh merupakan dua “dunia” yang sangat berbeda sekali. Juga sangat kontradiktif untuk tak ingin mengatakan sangat ekstrim berbeda.

Keluarga Molly Paher bersama kedua cucu di Ketapang, Kalbar. (Dok. Molly Paher)

Romo Adji adalah anak kota metropolis. Ia sudah sangat biasa menikmati nyamanya naik sedan Mercedes. Bersama almarhum Hartoni Ashali, Romo Adji selalu menjadi buah bibir di seminari karena kepiwaian mereka bisa memainkan tuts piano saat konser musik klasik binaan Romo Rio Winarta Pr.

Sementara, Molly Paher datang dari “dunia” antah berantah. Sangat ekstrim berbeda. Juga sangat “asing” bagi kebanyakan 400-an seminaris di Mertoyudan saat itu.

Karena wilayah hutan yang disebut Sepotong pada tahun 1978 itu masih sangat sulit dijangkau. Bahkan masih terjadi sampai sekarang. Dinamai Sepotong karena ada sungai bernama Sepotong.

Sungai Laur yang besar di wilayah Sepotong itu berada tidak jauh dari rumah keluarga besar Paher, ayah Molly.

“Saat itu, masih banyak buaya berkeliaran di Sungai Laur dan Sepotong,” terang Molly kepada Sesawi.Net yang awal tahun 2017 pernah mengunjungi Sepotong bersama Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi. Saat itu, rombongan menginap semalam di pastoran Paroki Sepotong.

Dan jiwa murah hati dan kebaikan keluarga Moerdopo waktu itu ditunjukkan oleh Romo Adji. Ia bersedia mengajak “seminaris hutan” Molly Paher ini main ke Jakarta; naik kereta api dan dolan melihat Ibukota RI pada tahun 1978.

“Endang, puteri ragil keluarga Moerdopo, saat itu masih duduk di bangku SD,” kenang Molly awal Februari 2024 kepada Sesawi.Net.

Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi berkopiah khas Dayak menyusuri Sungai Laur dalam perjalanan pastoral turne bersama Sesawi.Net dan Titch TV, akhir Desember 2016. (Royani Ping)

Bagi kami -para seminaris di Mertoyudan tahun 1978- pengalaman Molly diajak dan ditraktir penuh oleh Romo Adji untuk bisa plesiran ke Jakarta sungguh merupakan sebuah “breaking news”. Lantaran, tidak semua seminaris waktu itu pernah dan bisa “melihat” Jakarta. Usai kembali pulang dari Jakarta, Molly “orang hutan” dari Ketapang ini menjadi buah bibir.

Dari cerita-cerita Molly inilah, kami para “seminaris dari desa” menjadi sedikit lebih tahu apa dan bagaimana tentang Kota Metropolis Jakarta. Tapi membayangkan bagaimana nyaman dan enaknya naik mobil sedan Mercy tetap saja susah dilakukan.

Karena ya memang masing-masing kami ini belum pernah merasakan apa yang sudah dicecap oleh Molly Paher tersebut selama dua pekan tinggal di keluarga Moerdopo di Jakarta. (Berlanjut)

Baca juga: Tantri Moerdopo: Nyaleg Dapil I Kota Semarang, Perjuangkan Kesejahteraan Bersama melalui Panggung Legislatif (2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here