Temui Kendala Mau Baptiskan Anak, karena Pernikahan Belum Beres

0
488 views
Ilustrasi: Romo Emmanuel Supranowo melakukan pembabtisan bayi pada Misa Malam Paskah di Gereja Wedi. (Laurentius Sukamta)

Rabu, 4 Agustus 2021

Bil.13:1-2a.25-14:1.26-29.34-35.
Mat.15:21-28

“PASTOR, kami ingin mendaftarkan anak kami untuk dibaptis,” kata seorang bapak bersama istrrinya.

“Iya, silahkan mengisi formulir di sekretariat,” jawabku.

“Ada yang ingin kami sampaikan ke Pastor. kalau kami belum menikah secara Katolik, hingga kami tidak punya surat pernikahan secara Katolik,” katanya.

“Oleh Ketua Lingkungan, kami diminta langsung menghadap Pastor,” lanjutnya.

“Oh ya. Bapak ibu memilih menikah di luar Gereja atau karena ada halangan hingga belum bisa menikah di Gereja,” ujarku tanya.

“Kami terpaksa menikah secara adat, karena ada halangan,” kata bapak itu.

“Kalian sendiri mau pernikahannya tetap seperti ini atau mau mengurusnya hingga bisa diberkati di gereja?” tanyaku.

“Saya punya kerinduan untuk mengurus dan hidup dalam pernikahan yang sah menurut Gereja,” kata ibu yang dari tadi diam saja.

“Kami sungguh merindukan dan mengharapkan kemurahan hati Gereja untuk keluarga kami,” sambung suaminya.

“Jika bapak dan ibu sungguh berniat untuk membereskan pernikahan, tentu kami akan mendampingi,” kataku.

“Terima kasih Pastor sebelumnya. Kami sungguh berharap bisa dibantu,” kata bapak dan ibu itu.

“Selama ini, kami ke gereja tetapi tidak bisa secara penuh mengambil bagian dalam Perayaan Sakramen Ekaristi. Bahkan mau pembaptisan anak pun kami menemui kendala,” ujarnya.

“Namun kami tidak pernah tersinggung atau marah. Karena saya memang pantas menerima hukuman atas ketidakmampuan kami mengatasi halangan yang kami hadapi,” sambung bapak itu.

“Saya dulu pernah menikah secara Katolik, lalu suami meninggalkan saya. Sedangkan bapak pernah menikah juga secara agama lain. sama-sama menikah secara agama lain,” kata bapak itu.

“Iya, nanti kita ketemu lagi. Untuk membuat langkah-langkah pemberesan pernikahan bapak-ibu,” kataku.

Cinta pada Tuhan kadang tidak melalui relasi personal. Melainkan juga berkaitan dengan urusan komunal.

Ada aturan main yang membuat kita bisa menerima pelayanan dan ikut terlibat secara penuh dalam suka duka hidup menggereja.

Jika aturan itu tidak dipatuhi dan dipenuhi, kita bisa tersisih. Juga harus menjalani proses untuk kembali pada pangkuan Gereja.

Namun yang tidak boleh kita lupakan bahwa Allah yang kita percaya dalam Gereja adalah Allah yang berbelas kasih dan penuh kerahiman.

Cinta-Nya melampaui aturan dan hukum yang ada.

Bagaimana aku bisa tetap ada dalam bimbingan kasih Tuhan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here