Terbelit Mimpi

0
327 views
Ilustrasi - Menanam bibit tanaman agar tumbuh. (Ist)

Renungan Harian
Jum’at, 23 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 20: 1-17
Injil: Mat. 13: 18-23
 

BEBERAPA
waktu yang lalu, ada seorang bapak datang dan berkeluh kesah tentang isterinya. Bapak itu bercerita panjang lebar. Yang intinya ia merasa tidak didukung oleh sang isteri untuk mengembangkan usaha.

Ia merasa bahwa dia selalu sukses dalam berusaha dan sekarang ada peluang bisnis besar yang amat menjanjikan.

Ketika saya tanya bentuk dukungan apa yang diharapkan dari isterinya, bapak itu mengatakan bahwa dukungan yang diharapkan dari isterinya adalah modal.

Saya agak bingung dengan cerita bapak itu maka saya bertanya: “Bapak, kalau bapak sudah berhasil membangun bisnis, mengapa sekarang meributkan dukungan modal dari isteri?”

Bapak itu menjawab bahwa semua usaha bisnisnya atas nama isterinya dan semua hasil dari bisnis yang sukses selalu diserahkan pada isteri. Sehingga dirinya tidak memegang uang.

Karena saya hanya mendengar sepihak, maka saya meminta bapak itu datang mengajak isterinya untuk bicara bersama.
 
Pada hari yang dijanjikan kami bertemu bertiga.

Saya menjelaskan pada isterinya bahwa beberapa waktu lalu suami datang dan berkeluh kesah berkaitan dengannya.

Maka saya meminta datang untuk mendengarkannya.

Ibu itu berkata:

“Romo, maaf, sebenarnya saya malu dan sudah bosan untuk bicara soal ini. Romo, apa yang dia ceritakan itu bohong.

Semua itu tidak ada.

Ia berkali-kali bilang minta modal untuk bisnis ini dan itu yang katanya bisnis besar dan menjanjikan tapi tidak pernah ada hasil. Sudah banyak uang yang tidak jelas juntrungan-nya dan bentuk usahanya juga tidak ada kelihatan.

Pernah suatu saat rumah dan kendaraan serta tabungan kami habis untuk mendukung usahanya, tetapi bangkai usahanya aja tidak bisa dilihat.

Romo bisa tanya ke orangnya sekarang, di mana wujud usaha-usaha yang dia bangun.

Romo juga bisa tanya ke dia apakah pernah dia memberi nafkah untuk kami, biaya hidup dan biaya sekolah anak-anak.

Sejak menikah, dia hidup selalu dengan mimpi-mimpi membangun bisnis.

Saya sudah berkali-kali bilang jangan mimpi yang tinggi-tinggi, yang aneh-aneh, sudah kerja apa saja yang bener.

Tidak usah mikir keluarga, cukup untuk jajan dirinya aja saya sudah bersyukurRromo.”
 
“Bapak sudah mendengar dari isteri bapak sendiri. Menurut bapak yang dikatakan istri bapak benar? Atau ada yang ingin dikoreksi?” tanya saya kepada bapak itu.

“Semua betul Romo. Tetapi namanya usaha gagal itu biasa, kalau usaha berhasil kan untuk keluarga,” jawab bapak itu. 

“Bapak, menurut hemat saya, saran dan permintaan isteri bapak itu amat baik. Bapak kerja dan tekuni pekerjaan itu. Bapak punya keluarga dan punya tanggungjawab besar, maka saatnya menjadi riil,” kata saya.
 
Ternyata mimpi bisa membelit orang sehingga menjadikan seseorang lupa diri dan hidup dalam bayang-bayang.

Orang tidak sadar dengan kemampuannya dan tidak mampu mempergunakan kemampuannya.

Bahkan bukan hanya tidak mampu mempergunakan tetapi lebih dari itu dia telah menyianyiakan kemampuannya.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Matius, orang semacam itu seperti benih yang jatuh di semak berduri.

“…Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar sabda itu lalu sabda itu terhimpit oleh kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan sehingga tidak berbuah.”
 
Bagaimana dengan aku?

Tanah semacam apakah diriku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here