Teruslah Melangkah Saat Tuhan Mengutusmu

0
1,740 views
Ilustrasi - Jejak kaki di pantai. (Ist)

Bacaan 1: Ayb 9:1-12. 14-16
Injil: Luk 9:57 – 62

SAAT aku sedang di pantai mandi di laut, sandalku hilang diambil orang. Kutuliskan di pasir: “Laut ini maling…”. Lalu aku melangkah tanpa sandal dan melihat seorang nelayan pulang dengan membawa hasil tangkapan ikan begitu banyak.

Dia menulis di pantai: “Laut ini baik hati…”.

Kemudian, kudengar ada orang mati tenggelam, ibunya sambil menangis menulis di pasir, “Laut ini pembunuh.”

Tiba-tiba datanglah ombak besar dan menghapus semua tulisan di pantai itu.

Terbuka mata pikiranku, bahwa apa yang kita tulis/ lakukan di dunia akan hilang seperti tulisan di pasir itu. Tak perlu risaukan apa yang dikatakan orang, sebab setiap orang membaca dan memahami dunia dengan kacamata yang berbeda.

Teruslah melangkah, jangan menoleh ke belakang.

Fokus kepada pengutusan Tuhan lebih penting dari semua kejadian di dunia.

Hari ini Tuhan Yesus menantang orang-orang yang mengaku menjadi pengikut-Nya. Ia mempertanyakan keseriusan mengikuti-Nya, ada tiga contoh:

  1. Orang mempertanyakan kemana tujuannya.
  2. Meminta izin kewajiban menguburkan orangtua yang mati.
  3. Berpamitan kepada keluarga.

Yesus meminta pengikut-Nya untuk menempatkan Allah di atas segalanya di dalam hidup ini, melebihi siapapun dan apapun. Pengutusan untuk mewartakan Kerajaan Allah adalah diatas segalanya.

Menguburkan orang tua yang mati memang sungguh mulia namun mengabaikan perutusan-Nya berarti memilih untuk mati secara rohani. Orang yang masih terbeban dengan urusan duniawi belum pantas mengikuti-Nya. Ia meminta totalitas pengikut-Nya.

Bildad memprovokasi Ayub untuk mempertanyakan keadilan Tuhan atas kejadian malang yang menimpa dirinya.

Ayub dianggap anak soleh dan beriman kuat, namun peristiwa dimana seluruh harta, keluarganya habis dan badannya yang sakit borok telah mendorong teman-teman Ayub mempertanyakan kesalehannya serta keberpihakan Allah kepadanya.

Ayub tidak terpengaruh dan tetap menganggap Allah itu “transenden” serta Maha Kuasa. Ia berhak melakukan apa saja dan manusia tidak akan mampu mengalahkan kemahakuasaan-Nya itu.

Baginya apa yang ada dan terjadi di dunia tidak penting. Semua akan sama seperti tulisan di pasir pantai tadi, hilang ditelan ombak.

Pesan hari ini

“There is no return of point” saat kamu memutuskan menanggapi panggilan Tuhan. Jangan menoleh lagi ke belakang namun teruslah melangkah maju.

Biarkan Tuhan yang mengatur penyelenggaraan hidupmu sebab Dia Allah yang transenden dan Maha Kuasa.

Kehidupan akan terus melangkah tanpa bertanya apakah kita siap atau tidak. Tak perlu melihat ke belakang sebab Tuhan akan menuntunmu.

Pakailah maskermu dan tetap jaga jarakmu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here