Tewas Tertimpa Dahan Pohon, Seminaris Destian Kristiadi “Kembali ke Tanah Kelahirannya”

0
3,197 views

MISA sebelum pemberangkatan berjalan dengan penuh khidmat. Konselebran utama adalah Rektor Seminari Mertoyudan Romo Ignasius  Sumarya SJ. Koor dari Seminari.

Beberapa deretan orang sempat tidak kebagian waktu sambut komuni, dan terpaksa mundur ke belakang saking banyaknya para pelayat.

Mas Andiwinanto (Merto 83) yang menyiapkan tempat tampak merasa kewalahan. Sekalipun sudah banting tulang dan gobyos keringat untuk  menyediakan kursi-kursi tambahan, tetap saja tidak mampu menampung jumlah pelayat yang membludak.

Pelayat yang datang memang sangat banyak, baik yang beragama Katolik maupun non Katolik (terutama menurut pengalaman saya sebagai warga desa di situ). Bapak-ibu guru dan para seminaris juga terlihat hadir.

Banyak pelayat merasa terharu, bahkan ketua dewan stasi pun terbata-bata dalam member sambutan.

Bu Darko, simbok  kandung almarhum Destian”Tian” terlihat sangat tabah.

Memeluk penuh darah

Bruder Rajak Spendoyo SJ menuturkan, ibunya menyaksikan langsung kejadian itu, ketika kayu dilepas dari kepala Tian hingga kemudian mengucur darah. Maka dipeluknya anaknya (saya membayangkan Patung Pieta).

Dan sebagai warga satu lingkungan saya memang ikut merasakan bahwa ibunya memang orang yang imannya kuat. Bisa jadi,  ibu ini juga yang menginspirasi anak-anaknya masuk seminari.

Jenasah Tian diusung oleh siswa KPA melewati deretan barisan lilin para seminaris.

Saya sempat omong-omong dengan Koko (Merto 85) begini:

“Orang tua membesarkan sejak kecil dengan kelelahan dan perjuangan yang luar biasa. Dan ketika anak mulai besar dan mulai bisa dibanggakan (kata Bruder Rajak nilai-nilainya baik) eh diminta kembali oleh si Empunya.”

Lalu Koko bilang,”Wah lha kita ngga buat surat perjanjian sama si pemilik je. Kita penggarap ngga punya hak untuk memperkarakan secara hukum. Lha dikersake Sing Kagungan je. Tugas kita kan nggula wenthah sak apik-apike. Ning tetep wae anak-anak ki paringane Gusti.”

Saya pun diam.

Ibu Darko ini memang luar biasa, protes mungkin ya, tetapi imannya dan ketabahannya perlu kita tiru.

Selamat Jalan Tian.

Artikel terkait:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here