Tiga Bersaudara Jadi Pastor Semua dari Tarekat Sama dan Tahbisan di Hari Sama

0
588 views
Kongregasi Stigmata Suci Tuhan Kita Yesus Kristus atau Stigmatines. (Ist)

HARI Rabu, 8 September 2021 beberapa pekan lalu itu bertepatan dengan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria.

Itu merupakan hari istimewa untuk Gereja Katolik Filipina dan terutama tarekat religius yang berasal dari Italia. Dikenal sebagai Kongregasi Stigmata Suci Tuhan Kita Yesus Kristus atau Stigmatines.

Tiga bersaudara kandung jadi pastor semua

Tiga saudara kandungitu bernama:

  • Jessie Avenido.
  • Jestonie Avenido.
  • Jerson Avenido.

Yang menarik, mereka bertiga sama-sama menerima Sakramen Imamatnya dan ditahbiskan menjadi imam di hari yang sama. Pun pula, ketiga berasal dari tarekat religius yang sama juga: Stigamatines.

Mereka bertiga ditahbiskan dalam sebuah Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Cagayan de Oro: Mgr. José Cabantan SSJV.

Prosesi tahbisan imamat ketiga orang bersaudara kandung itu terjadi di Gereja Katedral Santo Agustinus, Cagayán de Oro, Filipina.

Belum pernah ada

Dalam homilinya, Uskup Agung Cabantan mengatakan bahwa dia belum pernah menahbiskan peristiwa seperti ini sebelumnya: tiga calon imam saudara sekandung dan berasal dari tarekat yang sama.

“Tahbisan ini adalah karunia Tuhan. Terutama terjadi, ketika berlangsung perayaan peringatan 500 tahun Gereja Katolik di Filipina,” katanya.

“Memiliki seorang imam dalam keluarga sudah merupakan berkat, apalagi tiga orang imam merupakan keistimewaan”, kata kedua orangtua para imam tersebut dengan penuh sukacita.

Kedua orangtua mereka berasal dari kalangan yang sangat sederhana. Mereka memiliki enam anak laki-laki dan satu anak perempuan.

Sang ayah, Gallardo Avenido, berprofesi sebagai petani dan penjaga keamanan dan sang ibu, Barbara Avenido, sebagai pengasuh anak.

Tetapi, mereka tidak pernah kekurangan kasih terhadap anak-anak mereka. Buah kasih mereka membuat mereka begitu bangga berdiri di samping ketiga anak mereka selama tahbisan.

Sejarah panggilan masing-masing berbeda

Meskipun mereka ditahbiskan bersamaan, jalan ketiga bersaudara itu berbeda. Yang tertua, Jessie, 30 tahun, masuk seminari pada 2008.

Lalu diikuti Jestonie, 29 tahun, dan Jerson, 28 tahun, pada tahun 2010.

Jessie awalnya ingin menjadi polisi atau insinyur listrik, dan bahkan sudah mendaftar di sekolah teknik sebelum masuk seminari.

Jestonie ingin menjadi guru, sedangkan Jerson bercita-cita menjadi dokter.

“Kami telah memilih panggilan ini bukan karena kebetulan atau paksaan, tetapi atas kemauan kami sendiri,” kata mereka setelah ditahbiskan.

Pastor Jessie mengungkapkan bahwa keputusan mereka untuk menjadi imam adalah berkat doa dan pengorbanan kedua orangtua mereka.

“Kami tidak berasal dari keluarga kaya, tetapi kami sangat kaya akan kasih kami kepada Tuhan dan Gereja-Nya”, kata Pastor Jessie Avenido.

Ketiga bersaudara itu juga mengungkapkan setelah perayaan bahwa mereka memiliki seorang adik laki-laki yang juga sedang mempertimbangkan untuk memasuki jenjang imamat.

Peter Suriadi – Bogor, 16 Oktober 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here