Tinggal pada-Nya

0
220 views
Ilustrasi

Rabu, 5 Mei 2021

Bacaan I: Kis 15: 1-6.
Injil: Yoh 15: 1-8.

“TIDAK ada kekuatan yang lebih besar daripada kuasa Tuhan Yesus,” kata seorang bapak kepada frater yang sedang live in di tempatnya.

“Iya, Pak,” kata frater itu.

“Dulu saya pernah sangat tergantung pada dukun; minta pelarisan supaya usaha saya laris dan maju,” kata bapak itu.

“Begitukah, Pak,” kata frater penasaran.

“Dulu, awalnya saya diajak teman. Katanya saya perlu dasar yang kuat untuk usaha, supaya bisa bersaing dengan orang lain,” kata bapak itu.

“Lalu bapak ikut nasihat teman bapak?,” tanya frater.

“Saya berpikir bahwa apa salahnya mendukung berusaha memajukan usaha. Toh saya tetap rajin ke gereja dan berderma,” jawab bapak itu.

“Usaha jadi ramai dan laris?,” tanya frater.

“Iya, setiap pulang dari dukun, usaha terasa lancar dan rezeki cukup baik. Namun setelah sebulan usaha menjadi sangat sepi, maka harus pergi ke dukun lagi,” jawab bapak itu.

“Begitu tergantung dengan dukun ya, Pak?,” tanya frater.

“Iya, tanpa dukun seakan usaha menjadi seret dan jadi tidak percaya diri. Lama-lama, saya merasakan ada yang janggal dan tidak wajar,” kata bapak itu.

“Kesadaran saya semakin diperkuat dan bahkan mantap untuk tidak ke dukun lagi, ketika waktu malam Paskah, ada pembaharuan Janji Baptis, hati saya tersentak,” kata bapak itu.

“Rahmat Allah bekerja dalam diri bapak,” kata frater.

“Malam itu, mata hati saya seakan dibuka oleh Tuhan, bahwa hidupku ini telah saya gadaikan pada manusia. Saya percaya tahyul dan meninggalkan Tuhan. Padahal, karena pembaptisan, saya ini telah menjadi milik Tuhan. Tuhan akan menjamin hidupku, bukan manusia,” kata bapak itu.

“Rahmat Paskah sungguh meresap dan bekerja di hati bapak,” kata frater.

“Sejak saat itu, 17 tahun yang lalu, saya merasakan bahwa saya telah dirangkul kembali oleh Tuhan,” kata bapak itu.

“Saya percaya penuh bahwa rezeki dan kehidupanku ini ada di tangan Tuhan. Saya tidak lagi berpaling dari Tuhan. Dan nyatanya usaha yang saya jalankan malah lebih maju hingga bisa menopang hidup keluarga. Bahkan ketiga anakku bisa selesai kuliah,” kata bapak itu dengan penuh syukur.

Di saat kesulitan menimpa kita, kadang tanpa pikir panjang kita mencari jalan keluar yang instan. Asal masalah teratasi; bahkan jika harus bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Fenomena mencari dukun, para normal dan ‘orang pintar’ untuk mendukung usaha dan pekerjaan kita, sering kali muncul. Itu kita ikuti dan kita melupakan Tuhan sebagai sumber hidup dan penyelenggara kehidupan kita.

Jika kita tinggal dalam kasihTuhan, percaya sepenuh hati pada kuasa dan berkat-Nya, hidup kita akan terjamin bahkan bisa berbuah banyak.

Apakah saya menduakan Tuhan, ketika kesulitan datang menimpa saya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here