Titip Rindu Buat Ayah

0
463 views
Seorang ayah mendapatkan energi baru setiap kali bertemu keluarganya. (Ist)

Puncta 20.03.23
HR St. Yusuf, Suami Maria
Matius 1:16. 18-21. 24a

EBIET G. ADE pelantun lagu-lagu balada, pernah menggambarkan perjuangan seorang ayah dalam syair ini:

“Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa. Benturan dan hempasan terpahat di keningmu. Kau nampak tua dan lelah. Keringat mengucur deras. Namun kau tetap tabah. Hm-mm-hm-mm

Meski napasmu kadang tersengal, memikul beban yang makin sarat. Kau tetap bertahan.

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini. Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan. Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari, kini kurus dan terbungkuk. Hm-mm-hm-mm

Namun semangat tak pernah pudar, meski langkahmu kadang gemetar. Kau tetap setia.”

Dalam Injil sinoptik, tertulis juga gambaran seorang ayah yang bernama Yusuf, suami Maria.

Matius menggambarkan Yusuf adalah seorang suami yang tulus hati. Ia tidak ingin mencemarkan nama baik istrinya di depan umum.

Yusuf juga seorang yang cepat bertindak tanpa ragu. Sesudah malaikat memberitahu dia untuk tidak takut mengambil Maria sebagai isterinya, Yusuf segera bertindak tanpa menunda waktu.

“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.”

Lukas menggambarkan Yusuf sebagai ayah yang bertanggungjawab. Ketika Yesus tertinggal di Bait Suci, Yusuf dan Maria mencari Dia berhari-hari.

Maria berkata kepada Yesus, “Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapamu dan aku dengan cemas mencari Engkau.”

Kendati tidak banyak dikisahkan di dalam Kitab Suci, namun pengorbanan Yusuf sebagai seorang ayah tak perlu diragukan.

Justru cinta dan pengorbanan seorang ayah akan terus dikenang selamanya dalam diri anak-anaknya.

Hari ini kita mengenangkan Santo Yusuf, suami Maria yang melahirkan Yesus. Ia layaknya seorang ayah yang bekerja dalam diam tanpa kenal lelah bagi keluarga.

Ayah melakukan segalanya tanpa pamrih bagi orang-orang yang dikasihinya.

Yusuf menjadi teladan bagi kita semua. Ia dengan tulus dan setia menjalankan kehendak Tuhan tanpa menunda dan banyak alasan.

Kehendak Tuhan pastilah yang terbaik walau kadang harus dilalui dengan perjuangan berat.

Nyanyikan lagunya Ebiet dengan lirih dan penuh penghayatan sambil mengenang pengorbanan ayah kita, pasti hatimu akan “nggregel” dan tak terasa air mata mengalir di pipi.

Begitulah Yusuf mengasihi Maria dan Yesus dengan kasih yang tulus tanpa pamrih.

Kita bersyukur mempunyai ayah yang juga mencintai kita dengan penuh pengorbanan dan keringat bercucuran.

Mari kita tundukkan kepala, berdoa untuk ayah kita.

Berjalan-jalan keliling sudut kota,
Mencari bakso sebesar mata bola.
Jika kita mengasihi kedua orangtua,
Kita pun mengasihi Tuhan yang esa.

Cawas, merindukan ayah….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here