Tugas Filsafat di Era Komunikasi Digital (1)

0
209 views

“Kind words are like honey – sweet to the soul and heatlhy for the body.” Proverb 16: 24

ADALAH suatu kehormatan boleh berdiri di mimbar ini untuk berbicara tentang filsafat, sebuah bentuk pengetahuan yang sudah sangat tua usianya, namun masih relatif muda sebagai subyek akademis di negeri kita.

Universitas Pelita Harapan merupakan salah satu perguruan tinggi yang mengajarkan filsafat, bukan hanya untuk jurusan tertentu.

Semua alumni, entah itu dokter, insinyur, arsitek, guru, atau sarjana ekonomi, pernah belajar filsafat lewat kurikulum liberal arts dan pasca sarjana. Kalau saat ini membahas tugas filsafat untuk era komunikasi digital, saya mengajak berpikir tentang manfaat filsafat untuk publik.

Tugas itu tentu tidak mudah karena harus ditunaikan di tengah zaman yang mulai malas berpikir dan lebih suka browsing dan googling ini.

Filsafat sudah berakhir, yaitu mati. Demikian kesalahpahaman yang terjadi, setelah Heidegger dan Rorty menulis hal itu.

Beberapa kematian atau akhir lain juga sempat diberitakan, seperti:

  • “kematian pengarang” (Roland Barthes);
  • “kesudahan seni” (Arthur Danto);
  • “akhir manusia” (Michel Foucault).

Sudah jauh sebelumnya “nabi sekuler” Friedrich Nietzsche mengumumkan “kematian Allah”, dan mungkin awalnya dari situ. Kesalahpahaman terjadi karena “akhir” atau “kematian” yang dimaksud para filsuf kontemporer itu sebetulnya adalah cara-cara berfilsafat yang kedaluwarsa.

Banyak yang ingin melayat filsafat, tetapi tidak melihat mayat dalam peti matinya. Penjelasannya sederhana. Selama manusia berpikir, selama itu filsafat masih hidup dan bahkan dilahirkan kembali.

Namun di sini kita pun menghadapi masalah yang lebih pelik daripada wacana-wacana tentang kematian filsafat.

  • Apakah manusia masih berpikir di era komunikasi digital?
  • Apakah arti berpikir di zaman kita?

Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Tapi ketika menggariskan tugas filsafat, kita sedang dipaksa untuk menemukan jawabannya.

Revolusi digital

Zaman kita disebut dengan berbagai nama, seperti: Post-modern, Revolusi Industri 4.0, dan di sini kita sebut Era Komunikasi Digital.

Transisi ke era itu kita sebut Revolusi Digital.

Apa yang menyamakan isi semua nama itu adalah luapan informasi yang diakibatkan pemakaian teknologi komunikasi digital.

Di akhir abad ke-20 filsuf dan sosiolog Perancis yakni Jean Baudrillard telah bicara tentang ‘simutacra’, yaitu tentang kondisi kita saat ini, ketika realitas telah diganti dengan simbol. (Lih. Jean Baudrillard, Simutacra and Simutation, University of Michigan Press: Michigan, 1995)

Menurut dia, pengalaman kita –politis, ekonomis, psikologis, erotis- tidak lebih daripada simulasi kenyataan. Teks, video, gambar di internet membingkai atau merekayasa peristiwa seolah-olah terjadi. Kita berada di dalamnya.

Saat ini, ketika sebagian besar orang menundukkan kepala melihat layar ponselnya, analisis Baudrillard tampak semakin terbukti. Isi Zoom, Whatsapp, Tik Tok dan Twitter, terasa lebih riil daripada orang yang duduk di depan kita. Kita menjadi gagap menghadapi kelangsungan.

Efeknya untuk demokrasi cukup menggelisahkan. Dengan telepon cerdas, ideal-ideal demokrasi seolah dapat diraih.

Inilah era ketika siapa saja bisa bicara, seolah dapat mengakses kekuasaan.

Dalam komunikasi digital tidak ada hirarki yang membatasi. Setiap orang bisa menjadi produsen, sutradara, sekaligus ekspert bagi orang lain.

Tetapi persis pada saat ini pula, ketika akses langsung ada dalam genggaman, cita-cita demokrasi terancam luput dari genggaman.

Alih-alih mengupayakan saling pemahaman, kerap kali media-media sosial menjadi sarana menyebarkan hoaks, berita palsu, dan berbagai kecohan lain dalam bentuk teks, video, poster, chat, atau foto yang mendistorsi kenyataan.

Industri kebohongan telah sampai ke ruang privat kita untuk mengkhianati akal sehat dan memancing kebencian timbal balik.

  • Apakah bisa disebut komunikasi, jika kita tidak saling mengerti?
  • Apakah bisa disebut demokrasi, jika kebohongan merusak komunikasi? (Berlanjut)

PS: Materi pidato pengukuhan menjadi guru besar filsafat Universitas Pelita Harapan (UPH), 8 Desember 2021.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here