Tuhan, Aku Ingin Melihat

0
488 views
lustrasi: Rabunni, buatlah aku melihat, by Kees de Kort

Senin, 14 November 2022

  • Why. 1:1-4; 2:1-5a.
  • Mzm. 1:1-2,3,4b.
  • Luk. 18:35-43.

ADA banyak alasan yang masuk akal dan terus akan ada alasan untuk kita tidak berhenti beriman, berdoa dan berharap kepada Tuhan Yesus.

Belajar dari kehidupan pengemis yang kita jalani ini, Tuhan pasti mendengar seruan kita yang terus berseru dengan iman.

Satu hal yang tidak akan berubah dari dulu hingga sekarang. Tuhan tidak pernah sekalipun mengecewakan orang benar yang berseru kepadanya.

“Iman itu perlu proses, tidak langsung mantap dan kuat,” kata seorang bapak mengawali syering.

“Saya banyak belajar dari isteri saya dalam mempercayakan dirinya pada tangan Tuhan,” lanjutnya.

“Saya menjadi katolik setelah saya mengenal istriku,” katanya.

“Istriku dengan sabar menemaniku, ikut katekumen, hingga baptis dan setelah itu ikut aktif di gereja,” paparnya.

“Menggereja itu tidak sulit namun banyak makan hati,” sambungnya.

“Sesama aktivis banyak yang saling jegal dan kurang sreg satu sama lain,” lanjutnya.

“Pengetahuan dalam menggereja bisa dipelajari, termasuk belajar menata hidup, belajar rendah hati, sabar dan tidak gampang mutung,” katanya.

“Berkegiatan bagiku bukan hanya soal pelayanan tetapi yang terpenting adalah bisa mmengungkapan syukur,” ujarnya

“Syukur karena boleh lebih mengenal hidup dalam tangan Tuhan, serta mengenal kebaikan Tuhan dalam kenyataan yang saat ini,” imbuhnya.

“Perjumpaan dengan banyak orang memungkinkan saya dan isteriku menemukan kasih Tuhan yang kadang dibungkus dalam penderitaan, kesulitan yang kadang berwujud dalam sikap arogan dan omongan sinis,” katanya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

Menanggapi kerinduan itu, Yesus membalas, “Melihatlah, imanmu telah menyelamatkan dikau”

Pada saat itu juga ia melihat, lalu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah.”

Peristiwa penyembuhan orang buta tidak hanya menggerakkan si buta itu sendiri untuk memuliakan Allah. Seluruh rakyat yang menyaksikan peristiwa itu pun ikut memuji-muji Allah.

Yesus meminta kita untuk membawa saudara-saudari kita yang “buta” kepada-Nya agar mereka pun dapat berjumpa dengan Yesus, disembuhkan, dibebaskan dan diselamatkan-Nya.

Dengan demikian, iman tidak hanya berarti membawa diri kita kepada Yesus, tetapi juga menuntun orang lain kepada Yesus. Beriman seperti itu yang akan bisa menyelamatkan diri kita dan sesama.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku sabar dalam menjalani proses untuk mengenal Tuhan di tengah-tengah umat?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here