Tuhan yang Berkarya

0
42 views
Semua ada waktunya

Bacaan 1: Yeh 17:22-24

Bacaan 2: 2Kor 5:6-10

Injil: Mrk 4:26-34

Jose Alberto Mujica Cordano atau lebih dikenal dengan Jose Mujica adalah Presiden Uruguay keempat puluh. Ia juga dijuluki sebagai “Presiden Termiskin di Dunia”.

Tumbuh dari keluarga miskin dan dalam situasi pemerintahan diktator (antara 1970 – 1980-an) membuatnya menjadi bagian dari kelompok gerilyawan Tupamaros. Mujica berasal dari “bukan siapa-siapa” bahkan harus menghabiskan empat belas tahun di penjara oleh pemerintah diktator.

Mujica, seorang rendahan miskin yang ditindas oleh pemerintahan tinggi hati “diktator”.

Namun Mujica kemudian menjadi Presiden Uruguay.

Mujica tidak melupakan akarnya, dengan masa lalu yang sulit saat kanak-kanak. Sebagai Presiden ia memutuskan hidup sederhana dan menyumbangkan 90% gajinya untuk orang miskin.

Sikap hidup seperti itu membuatnya sangat dicintai rakyatnya dan menjadi pelindung serta ‘malaikat’ bagi orang-orang miskin.

“Maka segala pohon di ladang akan mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali.

Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya.”

Demikian nubuat Nabi Yehezkiel, orang tinggi hati akan direndahkan dan orang rendah hati akan ditinggikan oleh kedaulatan dan kekuasaan Allah yang Maha Dahsyat.

Dalam pengajaran-Nya tentang Kerajaan Allah, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan biji sesawi yang sangat kecil (paling kecil dari semua biji tanaman) namun kemudian ia bisa tumbuh menjadi besar dan tempat bernaung burung-burung.

Bagaimana biji kecil itu bisa tumbuh menjadi besar, tak seorang manusia pun bisa paham.

Orang-orang kecil, seperti Mujica, dibuat Tuhan tumbuh menjadi besar dan tempat bernaung bagi rakyat Uruguay yang miskin.

Maka dalam peneguhannya kepada jemaat di Korintus Rasul Paulus mengatakan,

“Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya.”

Jemaat Korintus memang tumbuh hidup dalam kesombongan karena medapatkan karunia kekayaan duniawi dari Tuhan. Paulus mengingatkan agar mereka tidak sombong dan selalu ingat bahwa dulu mereka berasal dari orang-orang yang “bukan siapa-siapa”.

Pesan hari ini

Tuhan yang berdaulat dan penuh kuasa, sering berkarya dalam diri orang-orang lemah untuk dijadikan kuat dan berkat bagi orang lain.

Tidak perlu sombong jika kamu punya sesuatu.

“Waktu banjir, ikan makan semut dan waktu banjir surut, semut yang makan ikan (semua orang ada giliran atau waktunya). Jangan sombong.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here