Tukang Parkir Jadi Bruder dan Kemudian Pastor Monfortan (SMM)

0
344 views
Serikat Maria Monfortan (SMM).

Minggu; 24 Januari 2021

Bacaan I: Yun 3:1-5.10
Bacaan II: 1Kor 7:29-31
Injil: Mrk 1:14-20

JIKA merenungkan jalan panggilan, saya hanya bisa terpana akan cara Tuhan mengarahkan hidupku. Dia menuntunku melalui lorong-lorong kehidupan yang tidak pernah bisa kuduga sebelumnya.

Sebenarnya dari kecil saya tertarik menjadi imam, namun saya tidak berani bercita-cita, bahkan memikirkan pun saya tidak berani.

Saya selalu merasa tidak pantas. Saya bukan anak yang cerdas karena menurut pemikiran saya waktu itu, dan yang juga saya dengar dari guru agama saya, bahwa anak seminari itu harus pandai dan hidupnya saleh.

Kriteria itu, saya rasa jauh dari diri saya. Saya merasa tidak pandai, kalau kenaikan kelas memang saya ikut naik kelas juga, tetapi dengan nilai yang ala kadarnya, perilaku hidupku pun cenderung minus karena terlalu nakal.

Setamat SMP, beberapa teman masuk seminari, sedangkan saya mencari sekolah yang jika lulus bisa langsung bekerja, sekolah keguruan.

Saya masuk SPG dan tinggal di asrama yang dibimbing oleh para Bruder.

Setamat SPG, saya berkerja sebagai tukang parkir sambil menunggu lowongan pekerjaan yang sesuai dengan ijazah.

Namun beberapa waktu kemudian saya tertarik ikut program transmigrasi pemuda perintis pastoral yang diadakan oleh salah satu lembaga yang dikelola oleh Gereja.

Saat itu, saya hanya ingin cari pengalaman hidup, berusaha mandiri, dan tidak merepotkan orangtua maupun saudara.

Melalui program itulah saya dikirim ke Kalimantan. Saya hidup sebagai petani, sambil terlibat dalam hidup menggereja. Namun sayang di tengah perjalanan kelompok kami berguguran, ada yang pulang ke Jawa, ada yang jadi karyawan di perusahaan.

Dalam kondisi itulah, saya bertemu dengan seorang Pastor SMM, hingga kemudian terjalin komunikasi dengan SMM, hingga saya menjadi calon Bruder SMM.

Saya diterima sebagai postulan dan dalam tahun itu juga, saya pindah ke Bandung

Perjalanan formasi di biara berjalan lancar dan sangat menyenangkan. Saya menikmati dan ikut dalam program studi maupun pembinaan rohani dengan senang hati. Hingga saya diperkenankan mengucapkan kaul kekal sebagai bruder pada tahun 1998.

Tahun 2005, saya memasuki babak baru dalam pengolahan hidup rohani sebagai calon imam SMM dan tiga tahun kemudiaan, saya ditahbiskan sebagai imam Montfortan.

Bagi saya panggilan Tuhan itu mengalir dan mengerakkan hati saya untuk berenang dalam ketidakpastian bersama Dia yang empunya kehidupan.

Kehidupan yang saat ini saya hidupi pun tidak pernah berani saya cita-citakan dan saya impikan sebelumnya. Namun dalam Tuhan, semuanya menjadi mungkin. Saya hanya selalu siap, selalu membuka hati untuk ikut apa yang dikehendaki Tuhan.

Apakah Anda siap dan terbuka untuk berselancar dengan Tuhan dalam kehidupan ini?

Tentang Serikat Maria Monfortan (SMM), informasinya bisa diakses di sini: http://montfortan.id/wp/keluarga-besar-montfortan/serikat-maria-montfortan/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here