Turne Masuk Pedalaman Ketapang bersama Uskup: Ini Hutan Terpencil dan Bukan Kota Manado (2)

2
575 views
Keramahan masyarakat Dayak di pedalaman kawasan hulu Sungai Laur, Paroki Sepotong, Keuskupan Ketapang, Kalbar. (Meiva Lomboan)

Setiap hari pindah lokasi

HANYA  sehari semalam, kami tinggal di masing-masing stasi di kawasan hulu Sungai Laur yang sangat terpencil ini. Bahkan, beberapa lokasi ini hanya bisa dikunjungi tamu dari luar, manakala air Sungai Laur mengalami pasang. Bila tidak, maka kawasan hutan di hulu sungai ini menjadi terisolir.

Kami hidup secara nomaden (berpindah-pindah) selama sepekan di kawasan hulu Sungai Laur ini. Tiap hari kami memang dijadwalkan harus berpindah tempat. Datang petang hari atau malam hari, maka esok harinya kami sudah harus meninggalkan lokasi menuju tempat baru lagi. Ini berarti, bongkar pasang ransel dan sejenak kemudian pergi lagi usai istirahat sebentar saja di rumah-rumah penduduk masyarakat Dayak yang sangat ramah.

Di sini saya belajar banyak tentang pentingnya menghargai waktu.

Ketika bersama  keluarga  di Manado,  tak jarang  saya malah ‘berfoya-foya’ dengan waktu. Di pedalaman ini  dan khususnya saat mengikuti rombongan turne Bapak Uskup, foya-foya dengan waktu tidak mendapat  tempatnya lagi.

Kami meninggalkan Stasi Tanjung Beringin menuju Stasi Randau Limat dengan perjalanan naik speed selama dua jam perjalanan melawan arus aliran Sungai Laur. Kami tiba di Limat dan disambut dengan tarian dan minum tuak.

Bersama Kak Rosa (kanan), Kak Mike dari Pulau Bangka dan Pak Keke dari Jambi –keduanya mahasiswa Unika Atma Jaya Yogyakarta yang tengah menjalani KKN di Sepotong. (Meiva Lomboan)

Baca juga:

Rela naik bak terbuka dengan berjejalan menyusuri ‘jalur tengkorak’ dari Randau Limat ke Merabu dengan warna jalan penuh kobangan lumpur, menurun tajam, licin, dan curam. (Mathias Hariyadi)

Keluar desa untuk sekolah

Ketika kami sampai di sini, ada kesulitan dimana kami bisa buang hajat. Untunglah ada seorang ibu bersedia meminjamkan kamar mandinya untuk kami. WC amat jarang di sini. Maka ketika keluarga ini punya WC dan kamar mandi, hal itu sungguh luar biasa mewah.

Saat masuk rumah  dengan WC ini,  di rumah hanya ada  ibu dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Suaminya lagi ada urusan di luar, sementara  anak perempuan pertama tengah di Pontianak.

Bapak Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi (membelakangi lensa) melakukan dialog iman dengan anak-anak pedalaman di Stasi Riam Dadap, Paroki St. Gabriel Sandai, Keuskupan Ketapang, Kalbar. (Mathias Hariyadi)

Ibu  bercerita tentang anak perempuannya yang masih seumuran dengan saya.  Terlihat ada aroma kesedihan di wajah ibu tersebut. Ia ingat anaknya yang tengah belajar di Pontianak yang jauhnya ratusan kilometre dari Limat: delapan jam perjalanan lewat air dan darat untuk sampai ke Pontianak plus ratusan ribu untuk bisa sampai ke sana

Anak-anak pedalaman harus ‘keluar kota’ untuk bisa bersekolah.

Wajah SD di pedalaman Sungai Laur (Fr. Benedictus Septinanda Pr)

Ini terjadi,  karena di kawasan pedalaman ini hanya ada SD saja. Untuk bisa sekolah di  SMP dan SMP, anak-anak ini harus   pergi ‘ke kota’ yang jaraknya ratusan kilometer. Anak-anak sudah harus ‘pisah’ dengan orangtuanya hanya demi bisa sekolah. Padahal, pada usia dini seperti ini, sudah semestinya anak-anak ini  mendapatkan didikan langsung dari orangtuanya sendiri. Bukan seharusnya sekolah jauh dari rumah di luar kota dengan ngekos atau masuk asrama.

Tapi, itulah yang terjadi di kawasan pedalaman hutan dan kawasan hulu di Ketapang, Kalimantan Barat dan sudah barang tentu juga di daerah lainnya juga.

Bapak Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi membawa rombongan turne mengunjungi Stasi Merabu di ujung paling hulu Sungai Laur. Sebagian naik mobil off road bak terbuka, sebagian lainnya naik sampan motor speed. (Meiva Lomboan)

Jadi, tidak heran kalau mayoritas masyarakat Dayak di pedalaman ini rata-rata hanya lulus SD saja. Bahkan di Stasi Riam Dadap di Paroki St. Gabriel Sandai, dari 400-an KK di situ baru satu orang saja yang berhasil lulus sarjana. Itu pun berkat bantuan dana beasiswa pihak luar yang diupayakan Keuskupan Ketapang.

Peladang nomaden adalah pekerjaan orangtua, sementara sebagian menjadi petani karet atau buruh di perusahaan kelapa sawit. Yang pasti, jalan panjang menuju pendidikan tidak bisa dinikmati oleh segenap remaja Dayak di pedalaman.

“Dosa besar” anak kota

Di kota Manado –tempat saya tinggal sekarang—situasinya sangat berbeda. Anak-anak bisa sekolah dengan mudah, karena banyak fasilitas pendidikan tersedia di kota. Belum lagi hati saya dibuat miris karena sering melihat remaja seumur saya malah sering menyia-nyiakan umur efektif ini, ketika orangtua mereka mampu menyediakan dana untuk pendidikan.

Anak-anak remaja Kota Manado ambil bagian dalam pesta karnaval Indonesian Youth Day ke-2 di Lapangan Koni Sario Manado, Oktober 2016. (Ilustrasi/Mathias Hariyadi)

Sebagai remaja dan setelah melihat langsung kondisi hidup di pedalaman Ketapang yang serba minim itu, saya semakin menyadari bahwa menyia-nyiakan umur efektif untuk belajar ini merupakan ‘dosa besar’. Di Manado tersedia motor, buku referensi, aneka sekolah, namun toh banyak remaja suka menyia-nyiakan kesempatan itu untuk  tidak belajar serius, melainkan berfoya-foya, membolos, dan melakukan kenakalan remaja.

Perih nurani hati saya melihat hal kontradiktif seperti ini. Di pedalaman, remaja ingin sekolah serius tapi tiada biaya dan harus berpisah dengan orangtua dengan jarak ratusan kilometer. Di kota, banyak remaja suka ber-ha-hi-hi dalam belajar, menghaburkan dana keluarga untuk sesuatu hal yang kontraproduktif.

Temen-temen, ingatlah bahwa tidak selamanya kita bisa menggantungkan hidup pada kedua orangtua. Kita juga harus mengerti situasi batin orangtua kita, karena mereka  sudah rela banting tulang mencari uang untuk menafkahi  kita sehari-hari, menyekolahkan kita, dan juga menyenangkan kita dengan berbagai kebutuhan.

Sudah pastilah, kondisi hidup di pedalaman dan di kota menawarkan citarasa kehidupan yang berbeda.

Jadilah remaja berprestasi sebagaimana murid-murid SMA di Manado ini ketika mereka tampil di arena karnaval Indonesian Youth Day ke-2 di Manado (Lapangan Koni Sario), Oktober 2016. (Ilustrasi/Mathias Hariyadi)

Pengalaman saya boleh bergabung dengan program turne masuk pedalaman Ketapang dan kawasan hulu Sungai Laur bersama rombongan Bapak Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi telah mengajarkan hal penting bagi saya. Yakni, jangan pernah menyia-nyiakan hidup remaja, sebaliknya manfaatkanlah waktu efektif ini untuk belajar hidup ugahari.

Rasanya, turne sepekan di pedalaman Ketapang, Kalbar, bersaa Mgr. Pius Riana Prapdi itu tidak saja telah mengajari saya untuk semakin berempati dengan masyarakat Dayak di pedalaman Ketapang. Lebih dari itu, turne itu telah mengajari saya untuk belajar hidup baik dengan sesama, lingkungan hidup, dan berdamai dengan diri sendiri. (Selesai)

Bersama Kak Rosa (tengah), saya dan Meiva adalah duo anak kembar. (Ist)

2 COMMENTS

  1. itu JELAS sekali perbedaan antara kota dan desa itu.apalagi sampai pedaalaman dan terpencil, maka itulah tugas para pelayan dan pengabdi masyarakat, memajukan, meningkatkan pengetahuan orang2 di pedalaman dan ditempat2 terpencil supaya bisa mengalami suasana yang semakin maju dan berkembang.

    • Benar sekali bu maria, menjadi menarik ketika anak urban mau ke pedalaman, mengalami gegar budaya, kemudian merefleksikan hal itu sebagai pelecut semangat untuk berubah diri dan punya motivasi hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here