Ujian Kenakan Tingkat

0
156 views
Ilustrasi: courtesy of beyond the dream

Puncta 24.09.21
Jum’at Biasa XXV
Lukas 9: 18-22

SEORANG guru bertanya kepada muridnya, “Cita-citamu apa Nak?”

Anak kecil itu berkata dengan lantang, “Saya mau menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa bangsa dan negara.”

Bu guru melanjutkan lagi, “Terus kamu mau jadi apa nanti kalau sudah besar?”

Anak itu bingung “plonga-plongo” tidak bisa menjawab.

Pertanyaan atau ujian adalah alat ukur untuk menilai kemampuan para murid memahami apa yang sudah diajarkan oleh gurunya. Kalau lulus, para murid akan naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Dalam karate, tingkat pertama memakai sabuk putih. Kalau naik tingkat pakai sabuk kuning. Selanjutnya orange, hijau, biru, ungu, cokelat dan yang paling tinggi merah.

Kalau tidak lulus mereka harus mengulangi dan belajar lebih giat lagi.

Pertanyaan Yesus kepada para murid, “Kata orang banyak siapakah Aku ini?” adalah sebuah ujian pendadaran tingkat awal.

Mereka bisa menjawab dengan baik.

Ada yang menyebut Yohanes Pembaptis. Ada yang menjawab Elia. Ada pula yang mengatakan seorang nabi dari zaman dulu. Mereka lulus.

Pertanyaan kedua adalah, “menurut kalian siapakah Aku ini?”

Yang bisa menjawab hanya Petrus. “Engkaulah Kristus dari Allah.”

Rumusannya benar, tetapi isi penjelasannya masih kurang tepat. Hal ini nampak bagaimana Yesus melarang keras agar mereka tidak memberitakan hal itu kepada siapa pun.

Lalu Yesus menjelaskan siapakah Anak Manusia itu. Dia adalah orang yang harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh para tua-tua, oleh para imam kepala dan para ahli Taurat, lalu dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Yesus melarang keras agar para murid memahami betul siapa Anak Manusia itu. Jangan sampai mereka salah paham dan keliru mewartakan kepada orang banyak.

Memang ada paham di tengah masyarakat bahwa Mesias adalah pribadi yang bisa mengubah dunia dalam sekejap dengan kuasa ilahinya.

Dan itulah yang menjadi pemahaman Petrus tentang siapa Anak Manusia. Petrus ditegur dan dimarahi oleh Yesus karena salah memahami maksud Mesias.

Maka dengan keras Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapa pun.

Bisa jadi pemahaman kita tentang iman juga hanya hapalan warisan dari orang lain; orangtua, guru agama, katekis.

Hapalan yang diajarkan itu tidak ada isinya sama sekali bagi kita. Kita bisa fasih mengucapkan tetapi tidak mengerti arti dan makna di dalamnya.

Sama seperti anak yang ditanya apa cita-citamu?

Dengan lantang dia menjawab menjadi anak yang berguna bagi nusa bangsa, negara dan agama.

Tetapi ketika ditanya lebih lanjut isinya apa, dia tidak tahu dan bingung. Ujung-ujungnya malah jadi teroris, tukang ngebom dan koruptor yang merugikan negara dan agama.

Itulah akibatnya, kalau murid hanya disuruh menghapalkan. Tidak bisa berpikir kritis dan berwawasan luas.

Paham yang salah kalau disebarkan akan makin melenceng jauh. Akibatnya bisa fatal.

Agama yang seharusnya menjadi pembangun kehidupan, karena salah mengajarkan menjadi penghancur kehidupan.

Kita harus mau dididik seperti Petrus.

Mari kita belajar memahami segala sesuatu dengan benar. Bukan menurut pandangan kita sendiri, tetapi menurut pandangan dan pikiran Allah.

Memandangi bunga sedang kuncup,
Warnanya indah menarik hati.
Kesulitan adalah pelajaran hidup,
Agar kita bisa naik ke taraf lebih tinggi.

Cawas, belajar kehidupan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here