Unika Widya Karya Malang Gelar Lokakarya Pewartaan di Era Digital, Respon Positif di Kalangan Peserta

1
278 views
Para peserta lokakarya literasi media untuk misi pewartaan Kabar Gembira yang dibesut Unika Widya Karya Malang. (Panitia)

SEBUAH pertanyaan muncul, “Mengapa Fakultas Ekonomi dan Bisnis sampai mau menyelenggarakan lokakarya metode pewartaan di era digital?”

Pertanyaan itu disampaikan oleh seorang peserta dari antara 90-an peserta Workshop Metode Pewartaan di Era Digital yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Widya Karya Malang.

Acara ini digelar dalam rangka salah satu tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat.

Judulnya saja memang menarik bagi umat beriman Katolik yang tertarik akan pewartaan Kabar Gembira.

Unika Widya Karya Malang gelar lokakarya penggunaan media untuk misi pewartaan.

Berkat Konsili Vatikan II

Sebelum Konsili Vatikan II, pewartaan Kabar Gembira  hanya dilaksanakan oleh kaum religius atau kaum berjubah. Dipraktikkan hanya dari mimbar-mimbar gereja. Terjadi karena berlatar belakang persepsi bahwa pewartaan seyogyanya hanya boleh dilakukan oleh kaum religius. Juga agar tidak terjadi penyesatan ajaran iman kepada umat beriman.

Akan tetapi setelah Konsili Vatikan II, Gereja bersedia membuka kesempatan  bagi keterlibatan bagi awam untuk turut serta menyampaikan pewartaan Kabar Gembira ini.

“Berkat konsili ini, kaum awam dikembalikan pada jati dirinya yang sebenarnya. Ia diterima sebagai bagian utuh dari Gereja itu sendiri. Peran dan tanggung jawab kaum awam benar-benar diakui dan dihargai di dalam Gereja,” demikian kata Dr. Agustinus Indradi M.Pd, nara sumber lokakarya ini.

Agus Indradi menjadi narsum untuk lokakarya penggunaan media untuk misi pewartaan.

Selanjutnya, ia sampaikan beberapa pokok pikiran.

“Dengan itu pula, kaum awam sesuai dengan fungsinya dapat dengan bebas dan penuh rasa tanggung jawab menjalankan tugas panggilan di dalam Gereja dan dunia. Kaum awam diharapkan bisa terdorong untuk menampilkan diri sebagai anggota Gereja yang penuh dan mewujudkan imannya baik secara personal maupun terutama secara sosial.”

Ia mengutip Anjuran Apostolik Evangelii Nuntiandi Paus Paulus VI yang menegaskan, karya katekese maupun evangelisasi pada masa kini tidak dapat terjadi tanpa media komunikasi sosial yang baru.

Bahkan katekese maupun evangalisasi tidak dapat dijalankan tanpa menggunakan alat-alat itu.

Paus Benedictus XVI menyatakan “penggunaan komunikasi digital memberi kemungkinan baru dalam mewartakan Injil. Penggunaan generasi teknologi audiovisual yang paling mutakhir (gambar, video, fitur animasi, blog dan situs) dapat berdampingan dengan media tradisional yang akan membuka wawasan baru dan luas demi dialog evangelisasi dan katekese.”

Berdasar pada hal-hal di atas, ia mengajak kaum awam untuk terlibat aktif dalam pewartaan melalui media sosial yang ada. Karena, kata dia, kita semua diutus misioner.

Media sosial yang dapat dipakai dan dipilih antara lain: YouTube, Whatsapp, Facebook, Instagram dan TikTok.

Paus Benedictus XVI memakai perangkat medsos tablet. (Ist)

Jumlah HP lebih banyak

Untuk mengenal lebih lanjut perangkat medsos sosial tersebut, maka tampilah nara sumber kedua: Andy Endra Krisna S.S, MPd.

Ia memulainya dengan data jumlah penduduk Indonesia, jika dibandingkan dengan gadget yang terkoneksi-bernomor dan ada pemiliknya yang terdaftar pada Kominfo ternyata jumlah gadget di Indonesia lebih banyak daripada penduduk Indonesia.

Ia juga memaparkan satu persatu kelebihan sosmed, pengelompokan usia pengguna sosmed, siapa yang suka dengan menggunakan kata-kalimat-parafraf, siapa yang cenderung menyukai tampilan dengan gambar-gambar atau animasi.

Dengan demikian, kata dia, pewartaan kita dapat tepat terarah kepada siapa yang kita tuju. Anak-anak kah? Remaja orang muda atau kah orang dewasa?

Mengunggah bahan pewartaan ke dalam sosial media seperti YouTube mempunyai beberapa kelebihan: Kapan pun bisa dilihat, dilihat ulang, hampir selalu bisa dilihat di mana pun, dan pesan lebih mudah diterima, karena pendengar-pemirsa  bisa melihat dengar dan rasa (LDR).

Ilustrasi – Anak-anak dengan gadget HP. (Ist)

Rumus 4C

Agus ejak tahun 2007 mengajar di Novisiat Suster Hermanas Carmelitas Malang dan sejak 2020 mengajar di STFT Widya Sasana Malang. Ia juga menyampaikan rumus 4C dalam membuat postingan yakni: Critical thinking, Communication, Creativity, dan Collaboration.

Karena, kata dia, kita tidak bisa bekerja sendiri dalam mencapai tujuan; oleh karena itu perlu bantuan orang lain yang searah tujuannya.

Ia berterus terang da jujur menyampaikan bagaimana ketika membuat renungan dalam dunia maya dengan tagar #Pijar Kasih#, ada bantuan orang lain yang mengambil gambar, ada orang lain yang membantu mengunggahnya di kanal medsos.

Tugas peserta

Setiap peserta diberi tugas untuk menulis renungan tiga paragrafdengan bebas mengambil perikop dari Kitab Suci, dikirim ke email Pak Agus paling lambat tanggal 27 November 2022, dan boleh disyer di WA grup atau FB.

Peserta juga ditantang untuk menjadi pribadi pewarta di era digital yang seperti apa pada satu tahun akan datang: 13 November 2023.

Antusiasme peserta di Kota Malang mengikuti lokakarya menggunakan medsos untuk media pewartaan yang dibesut Unika Widya Karya.

Lalu bagaimana cara menyiapkan renungan?

Segala sesuatu mulailah dari tujuan akhir di dalam pikiran Anda -demikian menurut Stephen Covey- menurut langkah-langkahnya:

  1. Tentukan pesan apa yang hendak diberikan tujuan memberi renungan.
  2. Tentukan caranya agar pendengar-pembaca bisa mendapat LDR.
  3. Perbanyak informasi atau penjelasan terkait inti pesan yang hendak disampaikan.

Lokakarya mengambil tempat di Aula St. Thomas Aquino UKWK; berlangsung Minggu 13 November 2022; dibuka Wakil Rektor III UKWK Danang Murdiyanto ST, MT.

Dalam jadwal akan berakhir pada 12.00 WIB, tetapi karena menarik dan banyaknya pertanyaan sehingga baru berakhir pada pukul 13.00 WIB.

Terbuka untuk diikuti umat Katolik  yang tinggal di Keuskupan Malang. Juga tidak menolak kalau ada umat Katolik dari Paroki Jombang dan satu paroki di Surabaya ingin mengikuti lokakarya ini. Dilihat dari rentang usia peserta mulai dari sekitar usia 20-70 tahunan, serta dari aneka profesi.

Yang satu dilaksanakan, sementara yang lain juga jangan ditinggalkan. Ketika seru-serunya presentasi dibawakan menarik sejak awal dan seluruh peserta menyimak dengan tekun karena keingintahuannya tinggi, “keheningan” itu terganggu alarm HP berbunyi tanda pukul 12.00 WIB, maka seluruh peserta diajak hening sejenak untuk Doa Angelus.

Peserta sungguh antusias. Mereka mohon kepada panitia untuk tidak berhenti di sini; akan tetapi ada tindak lanjut dari acara ini dengan praktik langsung membuat bahan postingan dan memposting ke dalam media medsos yang tersedia.

Acara ini diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin dan diberkati oleh Ekonom II Keuskupan Malang Romo Daniel Aji Pr yang juga hadir sebagai peserta lokakarya.

Foto: Panitia.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here