Usai Diterjang Covid-19, Model Pembinaan di Seminari Tahun Rohani Interdiosesan Lawang Berubah

1
158 views
Ilustrasi: Seminari Tahun Rohani Interdiosesan di Lawang, Malang, Jatim. (Mathias Hariyadi)

“HIDUP bukanlah masalah yang harus dipecahkan, tetapi kenyataan yang harus dihadapi.”

Itulah pendapat Søren Kierkegaard, filsuf asal Denmark tentang makna hidup.

Saat ini, kenyataan hidup bersama kita sedang diwarnai oleh wabah virus Covid-19. Sejak kemunculannya di bulan Desember 2019, virus Covid 19 telah menyebabkan kematian ribuan orang dari berbagai penjuru dunia.

Ini berpengaruh pada perubahan gaya hidup bagi banyak orang.

Demi menghadapi pengaruh berbahaya virus ini, maka otoritas pemerintah di banyak negara mendesak warganya untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Paket protokolnya adalah kewajiban memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas dan mengikuti program vaksinasi.

Kebijakan ini ditetapkan karena virus Covid-19 belum ada obatnya dan bisa menimbulkan kematian bagi penderitanya.

Seminari pun tak imun dari Covid-19

Dampak yang ditimbulkan oleh coronavirus ini juga membawa perubahan bagi kehidupan harian di Seminari Tahun Rohani Interdiosesan St. Giovanni XXIII di Lawang, Kabupaten Malang, Jatim.

Demi menjaga diri terhadap serangan virus Covid 19 ini, maka:

  • Misa Kudus di kapel seminari hanya dirayakan dan dihadiri oleh penghuni komunitas seminari yang secara keseluruhan berjumlah 40 orang: 3 imam, 2 suster, 35 frater.
  • Dengan kata lain, kaum awam tetangga kanan-kiri seminari yang biasanya mengikuti misa di kapel seminari kini tidak lagi diizinkan ikut menghadiri Perayaan Ekaristi di kapel seminari.
  • Kemudian, kegiatan belajar di kelas-kelas lalu dipindahkan di ruang terbuka.
  • Selain itu, semua penghuni komunitas Seminari Tahun Rohani diwajibkan menjalani prokes sebagaimana telah ditetapkan oleh pemerintah.

Semua itu memberi warna dan rasa yang khas bagi dinamika hidup di komunitas seminari.

Hal yang paling mencolok adalah interaksi langsung dengan dunia luar komunitas sangat dibatasi.

Meskipun prokes telah dijalani dengan ketat dan serius, namun toh virus Covid-19 ternyata masih tetap menginfeksi sejumlah anggota komunitas Seminari Tahun Rohani.

Ilustrasi – Program pendidikan seksualitas oleh Sr. Kristina Fransiska CP selaku fasilitator program kegiatan Komisi Seminari KWI dan Paguyuban Gembala Utama (PGU) di Seminari TOR Lawang, Malang, Jatim, Februari 2018. (Mathias Hariyadi)

Komunitas Seminari TOR terbagi menjadi lima unit

Hal ini kami hadapi dan pahami sebagai risiko dari adanya kegiatan komunitas yang turut melibatkan pihak-pihak dari luar komunitas.

Infeksi virus Covid-19 di Seminari Tahun Rohani ini menyebabkan komunitas seminari terbagi menjadi lima “grup” komunitas.

  • Ada sebagian anggota komunitas yang dirawat di RS Panti Nirmala, Malang;
  • Lainnya di RS Panti Waluya (RKZ), Malang;
  • Sebagian lagi dirawat di RS Siti Miriam, Lawang.
  • Lainnya masih tetap tinggal di Seminari Tahun Rohani sebagai para pasien Covid 19 dengan status OTG (Orang Tanpa Gejala).
  • Lainnya lagitinggal di Rumah Retret Wisma Shyanti di Lawang, karena dinyatakan negatif Covid 19 menurut PCR test.

Keadaan seperti ini terjadi pada tanggal 26 Februari 2021 sampai 13 Maret 2021.

Pengalaman tersulit

Hidup dalam keadaan terpisah di lima tempat menjadi salah satu peristiwa sulit yang harus dihadapi para anggota komunitas Seminari Tahun Rohani Lawang, pada masa pembinaan sepanjang tahun ajaran 2020–2021.

Namun, kami tetap bersyukur kepada Allah sebab lewat masa sulit ini, iman akan penyertaan Allah semakin kuat dan berkembang.

Kami semakin yakin bahwa Dia tidak pernah tinggal diam di saat melihat kesusahan yang dialami oleh umat-Nya.

Meskipun penyertaan-Nya dan keterlibatan-Nya itu tidak selalu tampil dalam kejadian yang menguntungkan dan menggembirakan. Namun satu hal yang pasti yaitu penyertaan-Nya membuat kami semua mampu melewati masa-masa sulit dengan hati tenang.

Pengalaman hidup di dalam komunitas yang terjangkit wabah Covid-19 membuat saya semakin yakin bahwa dunia umat manusia saat ini sedang sakit, sehingga memerlukan pemulihan kesehatan.

Pemulihan kesehatan ini tidak bisa diusahakan seorang diri.

Keyakinan ini sejalan dengan pandangan Paus Fransiskus yang pernah meyampaikan bahwa umat manusia adalah masyarakat global.

Masalah yang dihadapi oleh seseorang akan memberikan pengaruh bagi orang lain. Oleh karena itu, untuk menghadapi setiap masalah kemanusiaan, kita perlu bekerjasama.

Ilustrasi – IGD rumah sakit. (Ist)

Titik refleksi

Sebagai umat beriman yang menghayati spiritualitas Kristiani, maka sudah selayaknya kita menimba inspirasi dari Yesus Kristus. Untuk menghadapi masalah kemanusiaan saat ini, yang ditimbulkan oleh virus Covid-19.

Dalam hal ini kita patut bersyukur karena Yesus Kristus yang kita imani adalah pribadi yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan seseorang dari penyakitnya.

Rahmat kesembuhan yang dibawa-Nya bukan hanya memperbaiki kondisi kesehatan dari seseorang yang sakit, tetapi juga memperbaiki kondisi hidup bersama.

Dengan kata lain, buah-buah dari kuasa-Nya memberikan damai sejahtera bagi kehidupan bersama.

Akhirnya, hidup memang bukan persoalan yang harus dipecahkan, melainkan kenyaatan yang harus kita hadapi dengan penuh keberanian berdasarkan iman kita kepada Yesus Kristus.

Demi mewujudkan keberanian yang bersumber dari iman itu, maka marilah kita berusaha agar model penyembuhan yang pernah dikerjakan oleh Yesus juga terjadi pada masyarakat kita.

Artinya, marilah kita dengan tekun berdoa bagi keberhasilan vaksinasi dan berbagai langkah medis untuk menghadapi wabah virus Covid-19.

Selain itu, dengan semangat iman dan kesetiaan kita pada pribadi Yesus, kita menjalankan isi protokol kesehatan dengan taat.

Mengapa langkah ini harus kita ambil?

Sebab, kita harus mengakui dengan rendah hati bahwa usaha penyembuhan bagi para penderita Covid-19 adalah sesuatu yang terlalu besar dan amat berat bagi kita.

Meskipun kita memandang bahwa teknologi kesehatan kini sangat maju. Namun, hal itu tidak bisa menghentikan laju penularan virus Covid-19 yang berdampak pada kematian banyak orang.

Apalagi mengembalikan keadaan masyarakat seperti sedia kala; seperti saat virus Covid- 19 belum menyebar.

Kenyataan ini mirip dengan kondisi para murid saat mereka gagal melakukan pengusiran roh jahat, yang kemudian membuat mereka bertanya kepada Yesus: “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” (Mrk 9:28-29).

Seperti inilah kenyataan hidup yang tengah kita hadapi sekarang.

Dalam kondisi seperti ini, Yesus mengingatkan para muridNya dan kita semua bahwa karya penyembuhan itu bukan milik kita, tapi hanya milik Allah.

Meskipun demikian, Allah selalu memberi kita rahmat agar kita bisa mengalami dan memaknai segala dinamika yang terjadi dalam hidup ini.

Sehingga kita bisa mencapai kemajuan-kemajuan tertentu seperti yang dikehendaki-Nya.  

Dalam nama Yesus Kristus, kita diselamatkan. Amin.

1 COMMENT

  1. Puji syukur swmua sdh terlewati dan skg semua sdh sehat. Kembali berjuang menghadapi berbagai perubahan…dan menyesuaikam diri dg kondisi baru.
    Salam sehat buat adik2….tetap setia berjuang dalam doa ya🙏

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here