Vatikan: Pastoran Bukan Tempat Sakral, Diakon Bukan “Manusia Super”

0
669 views
Ilustrasi: Kerjasama dan kerja bakti oleh umat Paroki St, Agustinus Manokwari - Papua Barat. (Agustinus Lebang)


ARUS pembaruan dalam tubuh organisasi Gereja kembali bergulir. Hari Senin tanggal 20 Juli 2020 kemarin, Kongregasi Klerus resmi merilis pedoman baru untuk restrukturisasi tata kelola paroki dan keuskupan.

Dokumen baru ini diberi nama “Perubahan Pastoral Komunitas Parokial untuk Misi Evangelisasi Gereja”. Dokumen ini berisi 28 halaman dan terbagi menjadi 11 pasal.

Tujuannya untuk meningkatkan tanggungjawab bersama dan kerjasama antar segenap Umat Beriman.

Demikian rilis resmi yang disampaikan Mgr. Andrea Ripa dari Kongregasi Klerus sebagaimana dirilis oleh media Katolik terbitan Italia –di antaranya—AsiaNews.it, Vatican News, dan CNA.

Terbitnya dokumen baru ini dimaksudkan, demikian keterangan Mgr. Ripa, agar segenap Umat Beriman mendapatkan panduan agar melakukan berbagai program kegiatan dan restrukturisasi keuskupan.

Poin penting dari dokumen ini sebenarnya terletak pada pengakuan Gereja bahwa semua orang –masing-masing—itu punya peran di dalam Gereja dan semua orang bisa menemukan peran tepatnya di mana di dalam Gereja.

Dengan demikian, masing-masing bisa menyikapi perannya secara optimal dan menaruh hormat kepada peran lainnya.

Demikian keterangan pengantar Mgr. Ripa sebagaimana dikutip oleh kantor berita Katolik di atas.

Maksud dan tujuan

Harap diingat bahwa dokumen ini tidak menyediakan aturan hukum baru. Juga tidak mengubah aturan-aturan hukum yang sudah terlebih dahulu ada.

Melainkan lebih memberi semacam pedoman umum kepada segenap Umat Beriman agar –secara sangat ekstrim—jangan sampai terjadi dua hal seperti ini:

  • Kaum Awam menjadi sedemikian “religius”-nya sehingga seakan-akan telah menjadi klerus atau imam;
  • Kaum religius imam jangan sampai menjadi korban arus sekularisme;
  • Jangan sampai Diakon itu seakan-akan menjadi sosok “setengah imam” atau “awam super”.

Dokumen baru ini telah ditandatangani oleh Paus Fransiskus pada Pesta Peringatan Santo Petrus dan Paulus tanggal 29 Juni 2020 lalu.

Dengan terbitnya dokumen baru ini, Gereja mendorong Umat Beriman –masing-masing dalam perannya yang berbeda-beda—bisa saling bekerjasama.

Tidak hanya di dalam satu wilayah paroki saja. Tapi juga lintas paroki. Juga pentingnya mengakomodasi program-program perhatian lebih kepada kaum marginal, mendorong paroki agar jangan menjadi komunitas Katolik yang “eksklusif”, melainkan selalu terbuka dan membuka diri bergaul dengan masyarakat luas.

“Kegiatan pastoral paroki haruslah bisa keluar dari wilayah internal paroki, mendorong terjadinya reksa pastoral untuk semua pihak,” demikian antara lain bunyi teks dokumen baru ini.

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Keuskupan perlu menugasi orang tertentu yang secara khusus memonitor arah kerasulan seperti ini.

Presiden Kongregasi Klerus Kardinal Benjamino Stella menegaskan, dokumen baru ini terbit untuk merepon terjadinya banyak perubahan cepat dan radikal di dalam tatanan masyarakat.

Seperti misalnya jumlah imam yang semakin sedikit –utamanya di kawasan Eropa—dan perlu merancang program kegiatan yang tidak hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan konvensional-tradisional paroki seperti yang selama ini terjadi.

Bukan menuruti selera

Dokumen sebagai pedoman umum ini diperlukan agar arah reksa pastoral Gereja ke depan itu berjalan seiring dengan ajaran Gereja. Bukan hanya menuruti “selera” masing-masing pastor yang tengah atau masih “berkuasa” di paroki.

Dokumen baru ini mendasarkan dirinya pada dokumen lawas yang sudah ada yakni:

  • “The Priest, Pastor and Leader of the Parish Community” (2020).
  • “Ecclesia de Mysterio” tentang kerjasama antar kaum klerus dan kaum awam.

Keluar altar menuju ke pasar

Selama ini, kata Kardinal Stella, paroki dan pastoran sudah selalu dianggap sebagai tempat sakral yang bagaimana pun harus tetap dihormati dan dijaga kekudusannya.

Sekarang ini, Gereja menuntut para imam harus berani “keluar” meninggalkan altar menuju ke “pasar”.

“Saatnya untuk menyingkirkan kunci (pastoran), membiarkan pintu terbuka, membiarkan hawa luar masuk dan para penghuninya keluar dari pastoran –mengunjungi mereka yang membutuhkan pendampingan iman, menjangkau kaum muda, melihat dunia secara menyeluruh yang membutuhkan Tuhan namun tidak tahu kemana harus pergi untuk bisa mendapatkan-Nya,” kata Kardinal.

PS: Diolah dari AsiaNews.It, Vatican News, dan Catholic News Agency.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here