Waraskah Aku?

0
338 views
Ilustrasi - Peti mati. (Ist)

Sabtu, 22 Januari 2022

  • 2Sam. 1:1-4.11-12.19.23-27.
  • Mzm: 80:2-3.5-7.
  • Mrk. 3:20-21

TERLALU banyak berharap pada orang lain tentu saja menjadi sikap yang kurang baik.

Tetapi sama sekali tidak memiliki ekspektasi ke orang lain juga mustahil.

Terlebih pada orang-orang terdekat atau sosok yang secara langsung maupun tidak langsung terkait hidupnya atas diri kita.

Kita harus menyadari bahwa harapan kita ke orang lain mestinya harus dalam batas yang wajar dan masuk akal.

Karena jika tidak, orang lain akan terbebani oleh harapan kita dan kita sendiri akan sangat kecewa saat mereka tidak bisa memenuhinya.

“Romo saya mau memindahkan makam bapak saya, karena aliran sungai semakin mengerus tebing makam. Dulu jarak antara makam dengan sungai cukup jauh, namun sekarang sudah sangat dekat,” kata seorang bapak.

“Saya sudah tanya secara adat cara-cara memindahkan makam, mereka akan membantu upacara adatnya dan nanti saya minta tolong Romo untuk memimpin sepenuhnya upacara secara gerejani,” lanjutnya.

“Kami beberapa kali mimpi bapak dalam keadaan baik, segar dan bahagia. Saya yakin tubuh bapak saya masih utuh, karena beliau orang yang sangat baik, dan penuh belas kasih,” ujarnya.

“Saya sudah menyiapkan peti dengan kaca supaya kami semua bisa melihat jenazah bapak saya,” ujarnya lagi.

“Bapakmu memang orang baik, tetapi jangan terlalu yakin akan karunia atas jenazah bapakmu,” kata romo itu.

“Tidak perlu mukjizat tubuh yang utuh, tetapi kita yakin bapak sudah bahagia bersama para kudus di surga,” lanjut romo itu.

“Tetapi kami sekeluarga yakin tubuh bapak masih utuh,” sahut bapak itu.

“Semoga saja, tetapi jangan kecewa, jika yang terjadi tidak seperti yang kamu harapkan,” jawab romo itu.

Ketika makam itu digali dan dibongkar, peti mati masih utuh karena terbuat dari kayu tebelian atau kayu ulin, namun jenzsah sudah habis, tinggal beberapa tulang dan tengkorak serta sedikit rambut.

Betapa kecewanya bapak itu, dia hanya bisa menangis.

Dia berharap menemukan tubuh bapaknya tetap utuh.

Kadang perlu pikiran yang waras untuk menghadapi keinginan dan harapan yang kadang jauh dari jangkauan akal budi kita.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,”

“Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. 

Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

Yesus dianggap sebagai orang yang tak waras oleh orang Farisi.

Sebagai anggota keluarga, yang mempunyai hubungan begitu dekat dan mengenal Yesus, Maria dan saudara-saudara Yesus pasti sangat sedih dan kecewa

Mereka punya harapan bahwa Yesus, dipuji dan dihargai orang-orang karena karya-karya-Nya dan juga pengajaran-Nya. Namun nyatanya mereka menganggap Yesus orang yang tidak waras.

Dalam sitausi seperti itulah kehadiran dan kerelaan keluarga untuk tetap mempercayai Yesus sungguh sangat penting.

Bagaimama dengan diriku?

Apakah aku mau mendukung saudaraku yang namanya jelek, bahkan dianggap tidak waras?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here