What is a Name?

0
141 views
Ilustrasi - Kartu nama. (Ist)

Puncta 11.04.23
Selasa Oktaf Paskah
Yohanes 20:11-18

MASIH ingat kisah tragis Romeo dan Yuliet? Kisah cinta dua manusia yang terhalang karena keluarga yang saling bermusuhan.

Juliet berasal dari keluarga bangsawan Capulet. Sedang Romeo dilahirkan dari keluarga Bangsawan Mountague.

Ada kalimat populer yang pernah diucapkan oleh Yuliet kepada Romeo, kekasihnya. “Apalah arti sebuah nama? Meski disebut dengan nama lain, mawar tetaplah harum semerbak wanginya.”

Demikian rintihan hati Yuliet yang merindukan Romeo dalam drama cinta karangan Shakespeare.

Nama selalu berhubungan dengan komunitas sosial.

Di komunitas seminari Mertoyudan, kami dulu punya nama-nama panggilan yang aneh dan lucu; Walidad, Badrun, Marduk, Jaran, Cicak Garing, Bemo, Gufi, Lombok, Holmes, Bledheg, dan masih banyak lagi.

Nama panggilan atau “paraban” itu di Seminari sangat akrab dan familier sekali. Bahkan disebut nama panggilannya, orang akan merasa bangga dan happy serta enjoy.

Sapaan nama itu menunjukkan kedekatan yang sangat pribadi. Orang lebih hapal dan kenal dengan sebutan nama paraban daripada nama aslinya.

Maria Magdalena mempunyai hubungan yang istimewa dengan Yesus. Hal ini nampak bagaimana Maria sangat hapal dan kenal dengan suara Gurunya. Maria langsung mengenali suara yang memanggilnya.

Suara Yesus yang menyebut “Maria,” langsung diketahui olehnya. Sebelum Yesus memanggilnya, Maria mengira Dia adalah tukang taman. Dari suaranya ia mengenal pribadinya.

Pasangan suami-isteri yang sudah saling menyatu akan mengenal suara pasangannya. Sebutan kesayangan seperti “mami-papi,” atau “sayang” akan mudah dikenali karena kedekatan hati mereka.

Begitu pun Maria. Sekali disebut namanya, Maria mengenali suara yang memanggilnya. Suara itu khas milik Yesus, Gurunya. Ia pun langsung menyahut, “Rabunni.”

Kedekatan relasi memungkinkan pengenalan yang makin mendalam. Sejauh manakah kedekatan kita dengan Tuhan Yesus?

Apakah kita sungguh-sungguh mengenal Dia secara mendalam? Jangan-jangan hanya sebatas sebutan-sebutan dalam bibir dan pikiran saja.

Apakah kita mampu mengenali suara Tuhan yang memanggil kita? Apakah kita sungguh dekat dan mengenali Tuhan yang sangat mengasihi kita?

Tak lama lagi datang lebaran,
Hampir habis masa puasa.
Kalau kita dekat dengan Tuhan,
Kita akan mengasihi-Nya.

Cawas, tak kenal maka tak sayang…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here