You’ll Never Walk Alone

0
438 views
Ilustrasi - bed rumah sakit. (Ist)

Puncta 06.02.23
PW. St. Paulus Miki, dkk. Imam dan Martir
Markus 6: 53-56

DALAM sebuah video beredar sharing Romo Hadi Suryono yang pernah mengalami serangan stroke di usia 59 tahun.

Ia tak pernah membayangkan akan mengalami penyakit ini. Ia tidak bisa menerima kenyataan. Ia menangis dan marah pada Tuhan. Ia merasa kepercayaan dirinya hilang. Imannya jadi goyah

Namun ia bersyukur banyak umat mendoakannya. Banyak umat datang untuk menghibur dan memberi nasihat. Juga Bapak Kardinal menguatkan dia ketika terbaring sakit.

“Sssttt… diam, jangan banyak bicara,” kata Uskup kepada umat. “Orang sakit jangan terlalu banyak dinasehati. Cukup si sakit melihat bahwa dia tidak sendirian. Jangan didengarkan, kamu tidur saja.”

Bapak Uskup berkata, “Sur….aku ana neng jejermu. Aku ada di sampingmu.” Kata-kata itu sangat menguatkan.

Itulah cara Tuhan hadir di dalam kehidupan. Romo Hadisuryono merasakan kehadiran Tuhan dalam diri Bapak Uskup. Tuhan tidak membiarkan kita berjalan sendirian dalam situasi sesulit apa pun.

Dalam Injil hari ini, banyak orang sakit dibawa ke hadapan Yesus. Ketika mereka tahu Yesus ada di kota mereka, mereka berlari-lari dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus.

Kemana pun Yesus pergi, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamahnya menjadi sembuh.

Orang beriman selalu punya pengharapan. Ia selalu melihat ke depan dengan penuh sukacita. Mereka yang sakit percaya kepada Yesus dan hanya dengan menjamah jumbai jubah-Nya saja mereka pasti sembuh.

Usaha orang-orang yang mengusung mereka yang menderita adalah harapan yang besar bagi si sakit. Mereka tidak butuh nasehat-nasehat saleh nan suci, tetapi tindakan nyata.

Hadir dan menguatkan bahwa si sakit tidak sendirian adalah bagian dari menumbuhkan semangat juang untuk sembuh.

Kehadiran Yesus memberi harapan. Kehadiran-Nya membuat orang-orang berlari mengusung banyak orang sakit. Mereka dengan sukacita membantu. Tidak hanya dengan kata-kata manis, tetapi bertindak secara nyata.

Hadir menemani mereka yang menderita penganiayaan di Jepang, itulah yang dilakukan oleh St. Paulus Miki. Ia ikut merasakan penderitaan bersama dengan dua puluh enam orang yang disiksa karena membela iman.

Kehadiran Paulus Miki menguatkan teman-temannya yang disayat telinganya, dipukul kepalanya, disalibkan dan diarak keliling kota untuk dipertontonkan kepada rakyat yang mencemoohkan mereka.

Paulus Miki mengajak teman-temannya tegar dan berani menghadapi penderitaan demi iman akan Yesus.

Ia menulis, “Apakah dengan penyiksaan ini kalian dapat merampas harta dan kemuliaan yang telah diberikan Tuhan kepada kami?”

Apakah kita mau menjadi teman bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan, penderitaan, jatuh terpuruk dalam kehidupan?

Ke Gantang melewati Boyolali,
Sambil melihat indahnya Merapi.
Jika kita adalah sahabat yang sejati,
Tidak biarkan teman terpuruk sendiri.

Cawas, You’ll Never Walk Alone…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here