Tempat Ziarah Baru: Taman Doa Bumi Maria Sareng Para Rasul di Sukaraja, Bogor

0
3,084 views
Anak tangga menuju altar ruangan BMSPR yang berjumlah 7 dan masing–masing dihiasi lilin dengan jumlah yang penuh makna. (FX Rickoloes)

DIMULAI ketika Tuhan Yesus dari atas kayu salib melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya ada disampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!”

Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!”

Dan sejak saat itu murid murid itu menerima dia di dalam rumah di mana mereka menumpang.

Itulah sepenggal ayat dalam Yohanes 19:26-27 yang mengawali kebersamaan antara bunda Maria dan para rasul seperti tertulis dalam Kisah Para Rasul 1:13-14: “setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang.

Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus” dan hal itu  menandai hari kelahiran Gereja sebagai umat Allah.

Atas: Bunda Maria ditahtakan di bangunan “Bumi Maria Sareng Para Rasul”. Bawah: Koor Paroki Santo Andreas.

Kisah–kisah tersebut di atas mengilhami Romo Paroki Santo Andreas, RD Christophorus Offerus Lamen Sani bersama  umat dan diinspirasi oleh Romo RD Alfonsus Sutarno, romo praja Keuskupan Bogor berasal dari Kuningan, Jawa Barat.

Karena itu, lalu ditetapkanlah fasilitas baru tempat ziarah jalan salib bernama Bumi Maria Sareng Para di areal kompleks Taman Doa Santo Andreas.

Dalam bahasa Sunda:

  • Kata “bumi” bisa berarti planet tempat di mana kita berpijak dan juga bisa berarti “rumah” di mana kita tinggal.
  • Kata “sareng” dalam bahasa Sunda dan Jawa berarti “bersama–sama”.
  • Jadi “Bumi Maria Sareng Para Rasul berarti “Rumah di mana Maria Tinggal Bersama-sama Para Rasul.”

Peresmian

Hari Jumat tanggal 11 Mei 2018 kemarin merupakan hari yang sangat membahagiakan umat Paroki Santo Andreas, Sukaraja, Kabupaten Bogor, Keuskupan Bogor.

aman Doa dan tempat ziarah Jalan Salib “Bumi Maria Sareng Para Rasul” melengkapi Taman Doa di Andreas Farm di kompleks areal Pasturan Gereja Santo Andreas, Sukaraja. Fasilitas baru itu akhirnya diberkati dan diresmikan oleh Romo Vikjen Keuskupan Bogor RD C. Tri Harsono.

Atas: Patung Santo Petrus yang menghiasi salah satu sudut Taman Doa BMSPR. Bawah: Perarakan patung Bunda Maria melalui stasi–stasi Jalan Salib.

Hadir pula para tamu undangan dari lingkungan pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor yang membaur bersama umat Paroki Santo Andreas dan juga umat dari paroki lain.  Di hari itu, mereka semua  mengikuti prosesi upacara peresmian dan pemberkatan Taman Doa “Bumi Maria Sareng Para Rasul”.

Acara juga dimeriahkan oleh kesenian khas Sunda yaitu “degung”.  Acara dimulai dengan perarakan patung Bunda Maria menuju ke tempat di mana ditahtakan di bangunan “Bumi Maria Sareng Para Rasul” dengan melewati stasi–stasi Jalan Salib yang ada di areal Andreas Farm.

Lalu,  dilanjutkan dengan pengguntingan pita peresmian oleh pejabat Kabupaten Bogor dengan didampingi oleh Romo Vikjen RD C. Tri Harsono serta Romo Paroki RD Christophorus Offerus Lamen Sani serta RomoParoki RD David Lerebulan.

Kesenian degung ini membawa suasana Sunda yang sungguh Katolik dan memberi nuansa yang sangat unik.

Makna alkitabiah

Pembangunan Taman Doa Bumi Maria Sareng Para Rasul ini diawali dengan penanaman fondasi yang berupa 5 batu dan 2 pipa, di mana kelima batu tersebut dilelang untuk mendapatkan modal dasar bagi pembangunan Taman Doa ini.

Atas: Pendukung seni degung memeriahkan acara pemberkatan dan peresmian Taman Doa BMSPR. Bawah: Taman Golgota yang meghiasi salah satu bagian Taman Doa BMSPR.

Ke-5 batu dan dua saluran pipa ini bermakna sebagai berikut:

  1. Batu bumi atau batu mahkota

Ini merupakan batu yang telah dibuang oleh para tukang bangunan, tidak terpakai lagi namun akan menjadi dasar dan menjadi batu yang diberkati untuk fondasi pembangunan “Bumi Maria Sareng Para Rasul”.

Batu Bumi ini juga sekaligus sebagai Batu Mahkota di mana di atasnya akan berdiri patung Bunda Maria yang memakai mahkota bercahaya sebagai aktualisasi Yesus yang meraja (Cahaya Kritus) yang dimunculkan lewat saluran dua pipa.

  1. Batu lepas atau batu perorangan

Sebelum diberkati sebagai fondasi,  maka batu ini dilelang kepada pribadi perorangan yang merupakan pribadi atau umat bebas, baik yang berasal dari Paroki Santo Andreas sendiri maupun pribadi di luar paroki yang terpanggil untuk terlibat dan mau datang berziarah dan berdoa ke BMSPR, batu ini ditanam di pojok Barat bangunan.

  1. Batu keluarga

Sebelum diberkati, batu ketiga ini dilelang kepada keluarga–keluarga di Paroki Santo Andreas untuk ikut terlibat dalam pembangunan dan dipanggil untuk menjadi seperti Keluarga Kudus.

Batu ini ditanam dipojok Timur bangunan dan mencerminkan pribadi lepas yang sudah menjadi keluarga mau datang berziarah dan berdoa ke BMSPR

  1. Batu karang lingkungan

Batu keempat ini berjumlah 21 biji, sebelum diberkati dilelang kepada lingkungan–lingkungan di Paroki Santo Andreas yang berjumlah 21 lingkungan, mencerminkan pribadi–pribadi yang datang dari lingkungan di Wilayah Paroki Santo Andreas dan mau terlibat dalam pembangunan Taman Doa ini.

Jadi pribadi lepas-bebas tadi  menjadi keluarga,  berkomunitas dalam satu lingkungan, mau terlibat dan datang untuk berziarah serta berdoa ke BMSPR.

  1. Batu wilayah

Batu kelima berjumlah tujuh biji  merupakan jumlah Wilayah Paroki Santo Andreas. Ini menunjukkan peran serta wilayah-wilayah Paroki St. Andreas. Batu–batu ini sebelum diberkati sebagai fondasi dilelang kepada tujuh wilayah sebagai peran serta langsung dalam pembangunan Taman Doa BMSPR ini.

Atas: Taman Doa Makam Tuhan Yesus yang menghiasi salah sudut Taman Doa BMSPR. Bawah: Plaza depan Taman Golgota sebagai tempat misa. Bawah:

Makna dua pipa fondasi  

Pipa pertama lambar pancaran  cahaya kehidupan

Pipa merupakan saluran bagi cahaya kehidupan manusia yang tercermin melalui terangnya ruangan BMSPR dan juga mahkota di kepala Bunda Maria.

Untuk menuju altar ruangan BMSPR ini, maka dibuatlah trap atau anak tangga berupa lingkaran yang berjumlah tujuh trap. Di setiap anak tangga yang melingkar tersebut ditaruh lilin–lilin yang ditempatkan di atas tatakan mirip cobek dimana disetiap trap tersebut jumlah lilin–lilin berbeda dan masing–masing memiliki arti sebagai berikut:

  1. Anak tangga dasar dengan jumlah lilin 153 buah, yang merupakan simbol hasil penjalaan tangkapan ikan oleh  Petrus di Danau Galilea (Yoh 21:11) serta juga bermakna universalitas Kerajaan Allah dan simbol kemurahan hati Allah.
  2. Anak tangga kedua dengan jumlah lilin 70 buah, yang merupakan simbol perutusan jumlah murid Yesus seperti yang tertulis dalam Perjanjian Baru Injil Lukas 10:1.
  3. Anak tangga ketiga dengan jumlah lilin sebanyak 40 buah, yang merupakan simbol dari 40 tahun perjalanan bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir (Perjanjian Lama, Bil 14:33) serta 40 hari Yesus K berpuasa (Perjanjian Baru, Luk 4:2). Makna lain adalah 40 hari sejak kebangkitan-Nya, maka Tuhan Yesus naik ke surga.
  4. Anak tangga keempat dengan jumlah lilin 10 buah yang merupakan simbol 10 Perintah Allah.
  5. Anak tangga kelima dengan jumlah lilin 9 buah yang merupakan simbol Devosi kepada Bunda Maria serta Novena Roh Kudus.
  6. Anak tangga keenam dengan lilin yang berjumlah 7 buah merupakan simbol tujuh Sakramen Gereja Katolik.
  7. Anak tangga ketujuh (puncak altar) dengan lilin yang berjumlah 3 buah merupakan simbol Tri Tunggal Maha Kudus.

Jumlah dari lilin di masing–masing anak tangga tersebut ternyata secara keseluruhan juga memiliki makna tersendiri yaitu: 153 + 40 + 10 + 9 + 7 + 3 berjumlah total 292 lilin yang jika dipecah–pecah menjadi 2 + 9 + 2 = 13 yang bermakna Tuhan Yesus bersama 12 rasul-Nya.

Angka 13 ternyata juga bisa dijabarkan dari Bunda Maria (1) bersama para rasul yang berjumlah 11 yang merupakan kebersamaan Para Rasul yang nantinya pada waktu turunnya Roh Kudus (1) jumlah adalah 1+11+1 =13 dan menjadi cikal bakal Gereja Perdana.

Itulah yang disebut oleh Romo Christo selaku Romo Paroki Santo Andreas Sukaraja sebagai sebuah “kesempurnaan”.

Pipa kedua salurkan air sumber kehidupan

Ini merupakan simbol air yang akan memberi kehidupan dan diambil dari sumber air Cijujung. Pancuran air ini keluar dari  tujuh kran yang mencerminkan jumlah Wilayah di Paroki Santo Andreas.

Air itu ditampung dalam tujuh gentong dan di depannya ada tujuh tiang serta tujuh lapak untuk pameran suvenir dan tongkat tujuh buah yang kemudian bercabang sebanyak 21 sesuai jumlah lingkungan di Paroki Santo Andreas Sukaraja.

Untuk menjaga ketersediaan air tanah terus menerus, maka setiap lingkungan diwajibkan menanam pohon gayam di areal tersebut.

Para peziarah akan mendapatkan berkat dari sumber rohani BMSPR sebab sumber air ini telah diberkati sebagai sumber air kehidupan Kristus seperti yang disabdakan-Nya dalam Yoh 4:13-14.

“Jawab Yesus kepadanya: Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here