Home BERITA Artikel Politik: Kisah Maximus di Colosseum Roma

Artikel Politik: Kisah Maximus di Colosseum Roma

0
Ilustrasi: Colosseum di Roma - tempat pertarungan antara gladiator dengan sesama petarung atau binatang buas - Mathias Hariyadi)

DISAKSIKAN puluhan ribu pasang mata, Maximus Decimus Meridius, jenderal besar yang terpaksa menjadi gladiator, mengakhiri hidup Commodus, kaisar muda yang ambisius, berwatak jahat, dengki, iri, dan penuh dendam kesumat dalam hatinya.

Commodus tewas di tengah amphiteater. Sebilah belati menembus dadanya. Senjata makan tuan. Belati itu milik Commodus yang semula ditusukkan ke arah dada Maximus.

Namun, Maximus yang sarat pengalaman dalam pertarungan mampu menangkap tangan Commodus, dan memuntir tangan berbelati itu ke arah dada Commodus… dan berakhirlah sudah pertarungan penuh balas dendam dan kebencian itu.

Kematian, mengakhiri dendam. Kematian melenyapkan dengki dan iri.

Kematian mengalahkan kejahatan. Tetapi sekaligus kematian mengantar Maximus ke keabadian, hidup baru bersama isteri dan anaknya yang telah dilenyapkan kaki tangan Commodus. Maximus mati karena luka-luka di lambung hasil kecurangan Commodus sebelum pertarungan dimulai.

Tetapi, para penonton pertarungan itu, mayoritas rakyat jelata, memberikan tepuk tangan membahana dan teriakan-teriakan pujian pada Maximus: “Maximus…. Maximus… Maximus…”

Mereka merasa lega bahwa kaisar yang penuh kedengkian itu diakhiri hidupnya.

Tepuk tangan dan teriakan-teriakan itu seakan masih bergema, dan tertangkap telinga ketika kami berdiri sekitar dua meter dari Colosseum di tengah Kota Roma, siang itu. Padahal, peristiwa itu sudah terjadi hampir dua ribu tahun silam. Jarak waktu yang demikian jauh itu terasa begitu dekat.

Ketika itu, kisah Maximus hidup lagi. Sudah jamak dalam kehidupan, seperti dikatakan oleh Napoleon Bonaparte (1769-1821) bahwa “Sejarah ditulis oleh para pemenang.” Yang kalah? Ya, harus menerima kenyataan, akan dilupakan.

Kemenangan hanya bisa diraih kalau seseorang memiliki ilmu, keterampilan tinggi, visi yang tinggi dan jauh ke depan, keyakinan yang kuat bahwa yang dicita-citakan akan terwujud, keberanian untuk mewujudkan cita-cita itu, dan mental serta karakter sebagai pemenang.

Semua itu dimiliki Maximus.

Sebagai seorang jenderal, ia memiliki ilmu dan keterampilan bertarung. Ia memiliki juga visi jauh ke depan untuk apa menginginkan kemenangan.

Maximus mempunyai keyakinan kuat bahwa dengan keterampilan dan pengetahuan, cita-citanya bisa diwujudkan, serta berani menghadapi segala tantangan untuk mewujudkan cita-citanya itu: menyingkirkan Commodus, menjadi manusia bebas.

Dan, Maximus yang sudah malang melintang di medan tempur memiliki mental dan karakter sebagai pemenang. Mental sesorang pemenang adalah menjadi pelaku profesional bukan sekadar penonton untuk merealisasikan cita-citanya.

Yang lebih penting lagi, mental seorang pemenang adalah menang tanpa ngasorake. Meskipun menang tetapi lebih mengutamakan rendah hati dan tidak berlaku sombong, sok adigang, adigung, adiguna, menyombongkan diri karena mempunyai kekuatan, kekuasaan, kekayaan, dan kepandaian.

Karena itu, Shiv Khera dalam bukunya You Can Win (1998) menulis “Winning is an event, and winner is a spirit”.

Khera mengajak orang untuk memiliki watak seorang pemenang, daripada sekadar memiliki peristiwa kemenangan.

Mengapa? Sebab, bila obsesi terhadap kemenangan itu berlebihan maka orang akan terjerumus masuk ke dalam sikap dan bertindak menang-menangan.

Tidak semua orang berani dan memiliki mental sebagai pemenang. Maka itu, Imam al-Ghazali (1058-1111) tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf mengatakan, keberanian itu termasuk salah satu keutamaan yang menjadi pangkal kebaikan dan kemenangan.

Bukankah, tidak ada keberhasilan tanpa keberanian. Sebab, keberhasilan hanyalah milik orang-orang yang berani.

Tentu, dalam hal ini yang utama dan pertama adalah keberanian untuk mengambil keputusan, dan membela serta mempertahankan yang diyakini sebagai kebenaran, sebesar apa pun risikonya yang harus dihadapi.

Terlepas dari semua itu, adalah tidak mudah dan tidak ringan menjadi gladiator itu. Seorang gladiator harus memiliki determinasi, kebulatan tekad untuk fokus pada segenap usaha dan energi pada misi tertentu. Dia juga harus mengabdikan dirinya sebulat hati demi tercapai serta terwujudnya misi.

Determinasi terjadi bila ada will power, kekuatan kehendak untuk menuntaskan, menyelesaikan misi sesulit dan seberat apa pun rintangan yang dihadapi.

Maximus, misalnya, bisa mengalahkan Commudus, karena ia meskipun harus menjadi gladiator, menjadi orang tidak bebas tetapi fokus pada usahnya untuk melenyapkan seorang pemimpin tiran, seorang pemimpin yang telah menumpas habis keluarganya, seorang pemimpin yang hanya memetingkan dirinya sendiri.

Tentu apa yang pernah disampaikan Proximo, si bekas Gladiator yang sekaligus menjadi Tuannya Maximus, demikian merasuk dalam pikiran dan tindakannya, termasuk di dalam arena colosseum. Proximo selalu mengatakan, curi hati penonton, “win the heart of the crowd”, adalah kuncinya.

Bagaimana caranya agar publik Roma menyukainya, mencintai dan mengidolakannya. Ia harus bersikap ksatria, tidak curang, tidak menuduh orang lain curang, tidak menebar fitnah, kalau kalau mengaku kalah.

Barangkali, nasihat Proximo, lelaki berkulit hitam juragan gladiator itu perlu dicatat siapa pun untuk berhasil dalam usahanya: rebutlah hati rakyat! Sebab, demikian kata Charles de Montesquieu (1689-1755) filsuf dan politikus Perancis, “Agar menjadi benar-benar hebat, seseorang harus berdiri dengan rakyat, dengan masyarakat, bukan di atas mereka.”

Maximus tidak hanya berpihak pada rakyat, tetapi dia adalah rakyat. Walau sebelumnya adalah seorang jenderal, bagian dari elite kekaisaran, tetapi rela dihinakan, dijadikan budak. Tetapi justru kehinaan itulah yang mengangkat dirinya tinggi-tinggi.

Semua itu hanya terjadi karena Maximus memiliki kekuatan kehendak, determinasi untuk fokus menyelesaikan misinya menyingkirkan penyakit Kekaisaran Romawi, yakni Kaisar Commudus.

Demikian juga penyakit negara–radikalisme, fundamentalisme, eksklusivisme, korupsi, nepotisme, kemunafikan, dan sejenisnya–memang harus dilawan dan dibersihkan dengan semangat Maximus, Sang Gladiator.

PS:

  • Tulisan ini sudah tayang di Kompas.id hari Jumat (5/6/19).
  • Artikel lengkap bisa dibaca di https://triaskun.id/2019/07/06/kisah-maximus-di-colloseum).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version